INFO TEMPO - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan info siaga bencana hidrometeorologi di Provinsi Aceh. Lewat surat dengan nomor e.B/ME.02.04/042/KBTJ/IV/2026 yang ditujukan kepada Gubernur Aceh pada 10 April 2026, Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda menuliskan ihwal potensi hujan lebat di 23 kabupaten.
Dengan curah hujan sedang hingga lebat yang disertai kilat atau petir, BMKG menilai kondisi ini berpotensi memicu bencana seperti angin kencang, banjir, tanah longsor, dan kejadian lainnya.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Surat ini tentunya tak berniat membuat masyarakat masygul, melainkan jadi peringatan bagi Pemerintah Aceh untuk segera memperkuat langkah mitigasi. Mengingat wilayah ini baru saja dilanda banjir besar pada akhir November 2025 lalu yang berdampak pada 18 kabupaten. Terlebih, hingga saat ini masih terdapat 26 kepala keluarga yang bertahan di tenda pengungsian di Kabupaten Aceh Tamiang akibat bencana tersebut.
Kini, Aceh Tamiang kembali masuk radar BMKG untuk berpotensi mengalami hujan lebat pada 11 hingga 15 April 2026. Pada periode ini, kabupaten/kota yang juga menjadi perkiraan adalah Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh Singkil, Aceh Timur, Aceh Utara, Banda Aceh, Bireuen, Langsa, Lhokseumawe, Pidie Jaya, Sabang, dan Simeulue.
Kemudian, ada 10 kabupaten/kota lagi juga berpotensi diterjang hujan lebat yang bahkan sampai dua periode, yakni 11 hingga 20 April. Mereka adalah Aceh Barat, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Tengah, Aceh Tenggara, Bener Meriah, Gayo Lues, Nagan Raya, Pidie, dan Subulussalam.
Ihwal analisis potensinya, dalam surat itu dijelaskan bahwa kajian didasarkan pada prakiraan pola angin di lapisan 3.000 kaki. Dari pengamatan itu, teridentifikasi adanya belokan angin dan pertemuan massa udara (konvergensi) di wilayah Provinsi Aceh.
Kondisi atmosfer yang demikian seolah menjadi panggung bagi tumbuhnya awan-awan hujan di sepanjang garis shearline dan zona konvergensi. Di sanalah, gumpalan awan berkembang kian pekat, membawa peluang turunnya hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang menyelimuti wilayah tersebut.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika merilis peta prakiraan angin 3.000 kaki pada Jumat, 10 April 2026. Dok. BMKG
Benar saja, pada 11 April 2026, bencana banjir dan tanah longsor melanda Kabupaten Aceh Tengah akibat hujan dengan intensitas tinggi sepekan terakhir. Dalam laporan yang diterima Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatra, Muhammad Tito Karnavian, bencana tersebut setidaknya menyapu Kecamatan Bintang, Lut Tawar, Atu Lintang, dan Ketol.
Satgas PRR pun sigap bergerak, memastikan kehadiran negara terasa di tengah masyarakat yang terdampak. Di bawah komando Tito, langkah yang ditempuh adalah menyiapkan alat-alat berat, melakukan pendataan akhir terhadap infrastruktur yang terdampak, hingga memantau langsung perkembangan situasi di lapangan.
Tak hanya itu, Satgas PRR juga merencanakan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), sebagai upaya mengalihkan awan pembawa hujan, agar intensitas curah hujan dapat dikendalikan dan tidak kembali menjadi ancaman yang berulang. "Kita harus kerja keras lagi," kata Tito.
Kepala Pos Komando Wilayah (Kaposwil) Aceh Satgas PRR, Safrizal ZA, segera meminta pemerintah daerah untuk menyiapkan langkah-langkah antisipatif. Targetnya tentu langsung muluk, yaitu mencapai zero risk atau nol risiko.
Ia menilai, akurasi peringatan dini BMKG tak bisa dianggap angin lalu sebab keabsahannya terbukti pada kejadian sebelumnya. Harusnya, kata Safrizal itu menjadi pelajaran bersama agar tidak ada satupun pihak yang lengah dalam menghadapi potensi bencana. “Target zero risk atau nol risiko terhadap keselamatan jiwa hanya bisa dicapai jika semua pihak bersiap lebih awal. Jangan menunggu bencana datang baru bertindak," katanya tegas.
Kehadiran Satgas PRR tentunya ingin menciptakan rasa aman bagi masyarakat terdampak. Satuan yang dibentuk Presiden Prabowo Subianto pada 7 Januari 2026 ini akan melakukan segala upaya agar kehidupan masyarakat kembali menjadi normal seperti sedia kala. (*)
.png)

















































