Dongeng bisa menjadi salah satu jenis cerita yang disukai anak-anak, karena kaya akan pesan moral. Salah satunya dari cerita tentang Semut dan Merpati nih, Bunda.
Dikutip dari laman Kemenkes RI, dongeng dipahami sebagai cerita imajiner yang tidak benar-benar terjadi, baik narator maupun pendengarnya. Dongeng tidak terikat oleh pengaturan aktor, waktu, dan tempat yang konvensional dan realistis.
Jenis cerita ini diceritakan terutama untuk hiburan, meskipun banyak juga dongeng yang menggambarkan kebenaran, mengandung ajaran moral, bahkan bersifat satir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, dikutip dari buku Pendidikan Anak Usia Dini: Stimulasi dan Aspek Perkembangan Anak oleh Dadan Suryana, kegiatan mendongeng juga memberikan pengalaman belajar untuk anak berlatih mendengarkan.
Melalui kegiatan ini, anak memperoleh berbagai informasi tentang pengetahuan, nilai, sikap untuk dihayati dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Contoh cerita dongeng yang kaya pesan moral
Membaca dan mendengar cerita membantu anak mengenal bunyi, kata, dan bahasa, serta mengembangkan keterampilan literasi dini. Termasuk dari cerita dongeng, Bunda.
Saat mendengar atau membaca dongeng, imajinasi dan rasa ingin tahu anak akan juga turut berkembang. Berikut contoh cerita dongeng Semut dan Merpati, serta dongeng-dongeng lain yang penuh pesan moral:
1. Semut dan Burung Merpati
Seekor semut turun ke sungai kecil untuk minum. Tiba-tiba ombak datang, menyeretnya dan hampir-hampir membuatnya tenggelam.
Burung merpati yang sedang membawa ranting melihat semut tenggelam langsung melemparkan ranting itu ke sungai, untuk membantu semut menggapainya. Lalu semut duduk di atas ranting tadi dan selamat.
Kemudian datang seorang pemburu, akan melempar jaring ke arah merpati dan menjeratnya. Semut terketuk hatinya untuk membalas budi pada merpati.
Ia merangkak mendekati si pemburu dan menggigit kakinya. Pemburu itu mengaduh kesakitan dan menjatuhkan jaringnya, sehingga merpati bisa meloloskan diri dan melesat terbang.
Pesan moral:
Pentingnya saling tolong-menolong dan membalas kebaikan orang lain. Jangan juga meremehkan kemampuan diri sendiri, lalu biasakan untuk berbuat baik karena ini bisa kembali pada diri nantinya.
Cerita dongeng ini dikutip dari buku Si Kecil Filip Pergi Sekolah: 60 Dongeng Anak Rusia, oleh A. Fahrurodji.
2. Kisah Semut dan Kepompong
Seekor semut merayap dengan gesit di bawah sinar matahari. Memanjat pohon dan menelusuri ranting dengan lincah.
Dia sedang mencari makanan saat tiba-tiba dia melihat kepompong tergantung di selembar daun. Kepompong itu terlihat mulai bergerak-gerak sedikit, tanda apa yang ada di dalamnya akan segera keluar.
Gerakan-gerakan dari kepompong tersebut menarik perhatian semut yang baru pertama kali ini melihat kepompong yang bisa bergerak-gerak. Dia mendekati dan berkata:
"Aduh kasihan sekali kamu ini," kata semut itu dengan nada antara kasihan dan menghina.
"Nasibmu malang sekali, sementara aku bisa lari ke sana kemari sekehendak hatiku. Dan kalau aku ingin aku bisa memanjat pohon yang tertinggi sekalipun, kamu terperangkap dalam kulitmu, hanya bisa menggerakkan sedikit saja tubuhmu."
Kepompong mendengar semua yang dikatakan oleh semut, tapi dia diam saja tidak menjawab.
Beberapa hari kemudian, saat semut kembali ke tempat kepompong tersebut, ia terkejut saat melihat kepompong itu sudah kosong. Yang ada hanya tinggal cangkangnya.
Saat dia sedang bertanya-tanya dalam hati apa yang terjadi dengan isi dari kepompong itu, tiba-tiba dia merasakan embusan angin dan adanya kepakan sayap kupu-kupu indah di belakangnya.
"Wahai semut, lihatlah diriku sekarang baik-baik," kupu-kupu yang indah menyapa semut yang tertegun melihatnya.
"Akulah makhluk yang kau kasihani beberapa hari lalu. Saat itu, aku masih ada di dalam kepompong. Sekarang kau boleh sesumbar bahwa kau bisa berlari cepat dan memanjat tinggi. Tapi mungkin aku tidak akan peduli, karena aku akan terbang tinggi dan tidak mendengar apa yang kau katakan."
Sambil berkata demikian, kupu-kupu itu terbang tinggi ke udara, meniti embusan angin dan dalam sekejap hilang dari pandangan sang semut.
Pesan moral:
Jangan merendahkan orang lain karena terlihat memiliki kondisi yang lemah dan tidak berdaya. Ini karena setiap orang bisa berubah dan berkembang menjadi lebih baik di masa depan.
Cerita ini dikutip dari buku Strategi Pengembangan Bahasa pada Anak oleh Dra. Lilis Madyawati, M.Si.
3. Singa dan Tikus
Seekor singa sedang tidur ketika seekor tikus berlari melewati badan singa. Lalu singa itu terbangun dan menangkapnya.
Tikus memohon-mohon agar singa melepaskan dia dengan berjanji akan berbuat baik padanya, lalu karena kasihan, ia melepaskan tikus itu.
Suatu hari pemburu menangkap singa dan mengikatnya dengan tali pada sebuah pohon. Si tikus mendengar singa mengaum kesakitan.
Ia berlari mendatanginya dan menggigiti tali seraya berkata: "Kamu ingat, dulu kamu tertawa dan tidak berpikir bahwa saya bisa berbuat baik padamu. Dan sekarang kamu lihat, seekor tikus pun bisa berbuat kebaikan."
Pesan moral:
Sebisa mungkin berbuat baiklah kepada siapa saja, karena kebaikan itu bisa kembali kepada kita dari mana saja.
Cerita ini dikutip dari buku Si Kecil Filip Pergi Sekolah: 60 Dongeng Anak Rusia, oleh A. Fahrurodji.
4. Tupai yang Sombong
Dongeng Lucu Sebelum Tidur: Tupai yang Sombong/Foto: HaiBunda/Dwi Rachmi
Di suatu hutan, hiduplah seekor tupai yang sombong. Ia sering sekali mengejek binatang lainnya di hutan, salah satunya kura-kura dan kancil.
Ketika kura-kura dan kancil sedang asik bermain menangkap bola, tanpa sengaja bola yang ia lemparkan tersangkut ke pohon di samping mereka. Namun, mereka berdua kebingungan bagaimana mengambil bola tersebut.
Tiba-tiba tupai keluar dari balik pohon sambil meloncat kesana kemari dan berkata "Haha, kasihan sekali kalian!" ujarnya. Tupai kemudian mengambil bola yang tersangkut. Namun, ketika kura-kura meminta bola tersebut, tupai malah mengejeknya dan menyombongkan diri.
Sampai akhirnya kancil dan kura-kura pun memilih pulang karena bosan melihat tingkah tupai yang sombong. Kancil pun berteriak bahwa bola tersebut direlakannya untuk tupai.
Tupai itu terkejut mendengar teriakkan kancil dan kehilangan konsentrasinya. Sehingga, ia tergelincir ke batang pohon dan terjatuh ke kubangan sisa air hujan. Akhirnya, tupai terjatuh ke dalam kubangan.
Sedangkan bola yang dipegangnya di ambil oleh kura-kura dan kancil. Sementara, kura-kura dan kancil tidak bisa menahan diri untuk tertawa melihat tubuh tupai dipenuhi dengan lumpur.
Pesan moral:
Janganlah menjadi anak yang sombong. Kita semua tentu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kesombongan hanya akan membuat kita dijauhi banyak orang.
5. Gajah dan Semut
Di masa lalu, ada lebih banyak hutan daripada sekarang, dan gajah liar sangat banyak. Pada suatu ketika, semut merah dan semut hitam sedang menggali tanah ketika seekor gajah liar muncul.
Gajah itu berkata, "Mengapa kamu menggali di sini? Aku akan menginjak-injak semua pekerjaanmu."
Jawab semut, "Mengapa kamu berbicara seperti ini? Jangan memandang rendah kami karena kami kecil. Mungkin kami lebih baik darimu dalam beberapa hal."
Gajah itu berkata, "Jangan bicara omong kosong, tidak ada yang bisa mengalahkanku. Aku dalam segala hal adalah hewan terbesar dan terkuat di muka bumi."
Kemudian semut berkata, "Baiklah, mari kita berlomba dan siapa yang akan menang. Kecuali kamu menang, kami tidak akan mengakui bahwa kamu adalah yang tertinggi."
Mendengar hal ini, gajah menjadi marah dan berteriak, "Baiklah, ayo kita mulai sekarang juga."
Gajah itu berlari dengan sekuat tenaga dan ketika lelah, dia melihat ke bawah tanah dan ada dua semut.
Jadi dia mulai lari lagi. Ketika dia berhenti dan melihat ke bawah, ada dua semut di tanah jadi dia berlari lagi. Tetapi di mana pun dia berhenti, dia melihat semut, dan akhirnya dia berlari sejauh itu hingga mati dari kelelahan.
Ada pepatah bahwa semut lebih banyak di dunia ini daripada jenis makhluk hidup lainnya, dan yang terjadi adalah kedua semut itu tidak pernah berlari sama sekali tetapi tetap di tempatnya.
Setiap kali gajah melihat ke tanah, ia melihat beberapa semut berlarian dan berpikir bahwa mereka adalah dua semut yang pertama, dan karenanya gajah berlari terus-menerus.
Pesan moral:
Sikap sombong gajah membuatnya bertindak tanpa berpikir dan akhirnya merugikan dirinya sendiri hingga kelelahan. Jadi, kerendahan hati dan kecerdikan lebih penting daripada kesombongan dan kekuatan fisik semata.
Cerita dongeng ini dikutip dari buku Kumpulan Dongeng Gajah oleh Yoyok Rahayu Basuki.
6. Kebati, Kelelawar yang Baik Hati
Di sebuah hutan Nusa Tenggara Barat, hiduplah sekelompok komodo, burung kakak tua, musang, kelelawar dan beberapa jenis hewan lainnya.
Mereka hidup rukun dan saling berdampingan. Di antara penduduk hutan, ada seekor kelelawar yang terkenal baik hati. Kelelawar tersebut biasa dipanggil Kebati.
Ia suka membantu penduduk hutan yang sedang mendapat kesulitan.
Suatu malam, terdengar bibi burung kakak tua meminta tolong. "Toloooong!! Toloooooong!! Tolooooong!!".
Mendengar hal itu kelelawar segera mendatangi bibi burung kakak tua. "Ada apa Bibi, malam-malam begini berteriak meminta tolong?" tanya Kebati.
"Anakku sakit dan aku tidak bisa pergi mencari obat karena cuaca di luar gelap," ungkap bibi kakak tua sambil meneteskan air mata.
Bibi kakak tua sangat sayang pada anak-anaknya. Namun ia tidak dapat melakukan apa-apa malam itu. Cuaca di luar gelap dan udara dinginnya tidak seperti hari-hari biasa. Mungkin hal itu yang menjadikan anaknya demam tinggi.
Sebagai orang tua tentu bibi kakak tua sangat panik. Ia tidak dapat melakukan apa-apa kecuali berdoa dan meminta bantuan kepada penduduk hutan.
Melihat hal itu Kebati kemudian menanyakan obat yang dibutuhkan kepada bibi kakak tua. "Obat yang dibutuhkan bisa diambil di mana? Biar aku yang mengambilnya," tanya Kebati sambil menatap bibi kakak tua.
"Obat itu ada di perbatasan hutan. Cukup jauh tempatnya dari sini. Obat itu bernama daun katuk. Mustahil untuk mengambilnya di cuaca gelap seperti ini," ungkap bibi kakak tua padanya.
"Tunggu sebentar! Aku akan mengambilkannya untuk anakmu, Bi." kata Kebati seraya bergegas terbang untuk mencari tanaman yang dimaksud.
Di malam yang dingin, Kebati terbang menuju perbatasan hutan. Dalam kegelapan, ia mengandalkan kemampuan ekolokasi yang dimilikinya.
Ia mampu mengeluarkan suara berfrekuensi tinggi untuk dipantulkan ke benda yang ada di sekitarnya dan dipantulkan kembali ke telingga.
Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, sampailah Kebati di perbatasan hutan. Ia mulai mencari daun katuk dengan kemampuan ekolokasinya.
Setelah menemukan daun katuk yang dia cari, Kebati segera pulang, untuk memberikan daun itu kepada bibi kakak tua.
Betapa senang bibi kakak tua melihat Kebati datang membawa daun katuk. Tanpa buang waktu, bibi kakak tua segera meramu daun katuk sebagai obat demam untuk anaknya.
Setelah meminum ramuan obat daun katuk, anaknya pun sembuh. Pagi harinya, Bibi kakak tua berkunjung ke rumah Kebati.
Bibi mengucapkan terimakasih dan memberikan bermacam-bermacam buah segar yang baru dipetiknya. Bibi kakak tua dan penduduk hutan semakin sayang pada Kebati, buah kepribadiannya yang baik hati.
Pesan moral:
Ketika kita berbuat kebaikan, maka orang lain akan memberikan balasan kebaikan tanpa kita sadari di awal.
Dongeng ini dikutip dari buku 5 Dongeng Anak Dunia oleh Dedik Dwi Prihatmoko, yang diterbitkan oleh Kemendikbud RI.
7. Ikan Koi yang Sombong
Dongeng anak: ikan koi yang sombong/Foto: HaiBunda/Dara Dinanti Firzada
Di sebuah kolam yang jernih, hiduplah seekor ikan koi bernama Kila. Kila memiliki corak yang sangat indah. sisiknya berwarna emas dengan guratan merah seperti matahari terbit.
Karena keindahannya, Kila sering kali merasa dirinya lebih hebat dari ikan-ikan koi lainnya di kolam itu.
"Lihatlah betapa cantiknya aku," kata Kila suatu hari kepada teman-temannya. "Sisikku berkilauan seperti harta karun. Tidak ada satu pun dari kalian yang bisa menandingiku!"
Koko, Rara, dan Ciko teman-temannya, hanya tersenyum mendengar ucapan Kila. Mereka tidak ingin bertengkar, meski dalam hati merasa sedih karena selalu diremehkan.
Suatu hari, Kila melihat sesuatu yang mengapung di atas kolam. Itu adalah biji dari tanaman liar yang jatuh ke dalam air. Bentuknya unik, dan Kila penasaran. "Pasti enak dimakan," pikirnya.
Tanpa berpikir panjang, Kila melahap biji itu. Awalnya tidak terjadi apa-apa, tetapi beberapa jam kemudian perut Kila mulai terasa sakit. Sisiknya yang berkilauan mulai memudar, dan tubuhnya terasa lemas. Kila tidak bisa berenang secepat biasanya.
"Kila, ada apa denganmu?" tanya Bima khawatir.
"Aku merasa sangat sakit," jawab Kila dengan suara lemah. "Aku tidak tahu kenapa."
Rara melihat sesuatu yang tersangkut di insang Kila. "Kila, kamu memakan sesuatu yang bukan makananmu, ya? Ini berbahaya!" katanya.
Meski pernah diremehkan, teman-teman koi lainnya tidak membiarkan Kila menderita. Mereka segera membantu Kila membersihkan insangnya dan mencarikan tanaman air yang bisa membantu memulihkan kesehatan Kila.
Selama berminggu-minggu, mereka menjaga Kila, memastikan ia makan dengan baik dan tidak terlalu banyak bergerak agar lekas sembuh.
Lama-kelamaan, Kila mulai pulih, meski sisiknya tidak seindah dulu. Ia merasa malu kepada teman-temannya. "Maafkan aku," kata Kila dengan tulus. "Aku sudah sombong dan sering meremehkan kalian. Tapi kalian tetap menolongku saat aku dalam kesulitan. Terima kasih."
"Kami adalah teman, Kila," jawab Ciko. "Tidak peduli bagaimana sikapmu sebelumnya, kami akan selalu membantumu."
Sejak hari itu, Kila berubah menjadi ikan koi yang rendah hati. Ia sadar bahwa keindahan sejati tidak hanya berasal dari luar, tetapi juga dari hati yang baik dan penuh syukur.
Pesan moral:
Penting untuk selalu bersikap rendah hati dan tidak sombong pada sesama. Cerita dikutip dari Kampung Dongeng Tangsel.
8. Si Kancil Mencuri Mentimun
Suatu hari Kancil jalan-jalan ke ladang mentimun milik manusia. Lalu Kancil tergiur untuk mengambil dan memakannya. Lalu ia terus memakan mentimun sampai kenyang.
Sore harinya, Pak Tani pemilik ladang datang ke ladang dan sangat marah melihat timun-timunnya telah habis dan ladangnya berantakan. Esoknya Kancil datang lagi ke ladang untuk meminta maaf dan berusaha menyentuh kaki Pak Tani.
Ternyata yang disentuhnya bukanlah Pak Tani melainkan orang-orangan sawah yang sudah dilumuri oleh getah pohon, sehingga membuat Kancil terperangkap dan tidak bisa berjalan.
Saat Pak Tani datang, Pak Tani langsung menangkap Kancil dan membawa Kancil pulang ke rumah dan mengurungnya dengan rasa marah.
Pesan moral:
Penting untuk memahami bahwa kita tidak boleh mengambil milik orang lain tanpa izin, sebab itu merupakan perbuatan mencuri dan akan membuat orang yang dicuri marah.
Itulah penjelasan tentang cerita-cerita dongeng yang penuh pesan moral. Sebisa mungkin sediakan waktu rutin untuk membaca buku bersama Si Kecil, ya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)
.png)
3 hours ago
1
















































