Dikira Hamil Bayi Besar, Perut Bunda Ini Ternyata Berisi Banyak Air Ketuban

5 hours ago 2

Jakarta -

Perut ibu hamil yang tampak besar sering kali dikaitkan dengan ukuran janin. Padahal, perubahan fisik ini bisa saja disebabkan oleh volume air ketuban yang berlebihan, Bunda.

Kisah ibu hamil yang mengira tengah hamil bayi besar, namun ternyata berisi banyak air ketuban pernah dialami Bunda Emily Boazman. Content creator asal Amerika Serikat ini melahirkan anak ketiganya setelah kehilangan banyak cairan ketuban.

Dilansir People, Boazman membagikan kisahnya ini di TikTok pada akhir tahun lalu. Dalam unggahan di video, Boazman menunjukkan perutnya yang sangat besar saat hamil anak ketiga.

"Lihat perubahan perut saya setelah kehilangan banyak cairan ketuban (saya kira itu hanya ukuran bayi yang besar)," tulis di unggahan tersebut.

Boazman juga mem-posting momen saat ia mengeluarkan banyak air ketuban dari tubuhnya. Video tersebut direkam oleh saudara perempuannya.

"Ini terjadi SETELAH air ketuban saya pecah di tempat tidur dan membanjiri tempat tidur. DENGARKAN SUARA CAIRAN YANG MENGALIR KELUAR DARI TUBUH SAYA!" ungkapnya.

Dalam video terakhir, Boazman tempak berbaring di rumah sakit dan menunjukkan ukuran perutnya yang sudah jauh lebih kecil. "Dan perut saya setelahnya. Perut mengecil JAUH sekali," ujarnya.

Mengira hamil bayi dengan ukuran besar

Boazman mengatakan bahwa air ketubannya mengalir deras saat ia sudah berada di rumah sakit. Air ketuban keluar ketika janin di dalam kandungannya mulai aktif bergerak, Bunda.

"Saya berada di rumah sakit ketika ketuban saya pecah, dan saya kehilangan banyak cairan di tempat tidur," kata Boazman.

"Setelah beberapa saat, saya bangun untuk buang air kecil, dan ketika saya berjalan ke kamar mandi, bayi di dalam kandungan pasti bergeser sedikit (kepala biasanya sudah masuk ke dalam panggul, jadi air akan menetes keluar karena gerakan atau tertahan di atas kepala bayi), dan itu memungkinkan banyak air mengalir saat saya ke toilet," sambungnya.

Mantan perawat persalinan ini mengaku hanya sekali melakukan USG, yakni saat usia kehamilannya memasuki 17 minggu. Saat memasuki trimester ketiga, Boazman menebak bahwa ukuran bayinya besar.

"Saya hanya melakukan satu kali USG sekitar usia kehamilan 17 minggu, dan pada saat itu, ukurannya berada di batas atas normal. Saya tidak melakukan USG lagi karena saya tidak ingin mengetahui jenis kelamin bayi dan tidak ingin tergoda untuk mengetahuinya," jelasnya.

"Pada usia kehamilan 33 minggu, ukuran perut saya sama seperti saat kehamilan pertama dan kedua, yakni terlihat besar. Jadi saya berasumsi bayi di dalam kandungan ini sangat besar. Ternyata, itu semua cairan."

Setelah kehilangan semua cairan ketuban, Boazman mengatakan dia merasa jauh lebih baik. Dia bisa bernapas lebih lega dan mengambil napas penuh pertamanya sejak usai kehamilan 16 minggu.

Proses persalinan dengan operasi caesar

Ia akhirnya melahirkan seorang sekitar 16 jam setelah air ketubannya keluar. Namun, proses persalinannya tidak mudah.

Bayi di dalam kandungan Boazman berada dalam posisi terbalik dengan wajah menghadap ke bawah dan tidak mau turun. Boazman mengatakan bahwa dokternya mencoba beberapa posisi lain hingga akhirnya ia harus menjalani operasi caesar.

Meski menjalani persalinan yang terbilang sulit, Boazman mengaku tidak terkejut dengan semua prosesnya. Pasalnya, ia sudah cukup familiar dengan proses persalinan.

"Saya pernah menjadi perawat persalinan selama 10 tahun, jadi saya familiar dengan seluruh proses persalinan... dan kelahiran. Bahkan dengan semua pengetahuan saya, saya masih merasa seperti telah gagal karena harus menjalani operasi caesar," kata Boazman.

"Bersikap baiklah pada diri sendiri saat kamu akan melahirkan, jarang sekali segala sesuatunya berjalan sesuai rencana dan kamu harus terbuka untuk menerima hal itu, serta jangan terlalu khawatir ketika segala sesuatunya tidak berjalan sesuai rencana. Jika memungkinkan, bersabarlah dan biarkan tubuh kamu melakukan tugasnya. Jangan terburu-buru."

Air ketuban memainkan peran penting dalam perkembangan janin. Cairan ini berfungsi sebagai bantalan, yang melindungi janin dari tekanan eksternal, benturan, dan bahaya. Cairan ketuban juga mengatur suhu tubuh dan membantu perkembangan paru-paru, otot, tulang, dan sistem pencernaan bayi.

Dilansir Parents, tingkat cairan ketuban normal berkisar antara 8 hingga 24 sentimeter (cm). Namun, kisarannya juga bergantung pada seberapa jauh usia kehamilan.

Kadar air ketuban meningkat seiring dengan perkembangan kehamilan. Kadar tertinggi terjadi sekitar usia kehamilan 34 minggu, Bunda.

Demikian kisah Bunda yang mengira hamil bayi besar, namun terjadi berisi banyak air ketuban.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/pri)

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online