loading...
Saat Indonesia terjebak dalam kecemasan ambruknya sektor industri domestik, Vietnam -negara yang pada tahun 1970-an rakyatnya masih mengungsi ke wilayah Batam- justru naik kelas. Foto/Dok
JAKARTA - Tamparan keras tengah menghantam perekonomian Indonesia di kawasan Asia Tenggara. Di saat Indonesia terjebak dalam kecemasan ambruknya sektor industri domestik ke level paling kritis, Vietnam -negara yang pada tahun 1970-an rakyatnya masih mengungsi ke wilayah Batam- justru mencetak sejarah dengan resmi naik kelas menjadi negara berpendapatan menengah atas (upper-middle-income country) per Juli 2026 ini.
Kondisi kontras ini dibongkar langsung oleh Ekonom Senior INDEF sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Profesor Didik J. Rachbini. Didik memperingatkan bahwa potret buram ekonomi Indonesia saat ini tercermin nyata dari data Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur yang dirilis oleh S&P Global, di mana PMI Indonesia nyungsep ke angka 46,9 pada Juni 2026.
Industri Sakit Sakit Lama, Masuk Zona Kontraksi Bawah 50%
Angka PMI di bawah ambang batas 50% merupakan indikator absolut bahwa sektor industri sebuah negara sedang mengalami sakit kronis dan berada di zona bahaya kontraksi (zona merah). Meskipun pertumbuhan ekonomi makro Indonesia kuartal lalu tercatat tumbuh moderat di level 5,61%, angka tersebut dinilai semu karena murni didorong oleh belanja sektor negara.
Sementara mesin utama ekonomi -yakni industri manufaktur- terus mengkerut dari waktu ke waktu. Didik menilai hancurnya industri nasional merupakan buah dari absennya kebijakan strategis dan hilangnya konsistensi pemerintah dalam membangun iklim investasi.
"Sektor Industri Indonesia sudah lama terombang-ambing tidak mempunyai pijakan kebijakan yang jelas. Data PMI manufaktur yang menurun ke zona kontraksi ini memang buah dari kebijakan yang absen terhadap sektor industri dan investasi," ujar Didik J. Rachbini dalam keterangannya, Minggu (5/7/2026).
Selain absennya kebijakan industri, dunia usaha menghadapi tekanan biaya yang karena faktor geopolitik global dan faktor domestik. Didik menekankan, dunia usaha tidak akan berinvestasi selama tidak kebijakan yang jelas, hambatan birokrasi yang ruwet dan insentif yang tidak memadai untuk menjadikan industri tumbuh pesat.
Selain itu sektor riil juga dihantam beban ganda akibat volatilitas geopolitik global (seperti ketegangan energi di Selat Hormuz) serta beban logistik domestik yang mahal. Baca Juga: Vietnam dan Filipina Bersaing Jadi Raja ASEAN, Mengapa Indonesia Tertinggal?
.png)







































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5417976/original/049724300_1763555921-InShot_20251119_193350409.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5746528/original/013133300_1778645752-foto_media__78__2.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4897279/original/047157000_1721544216-IMG_20240721_131658.jpg)



