Jakarta -
Banyak orang mengucapkan, “Yang kuat ya!” kepada seseorang yang sedang berduka sebagai bentuk dukungan. Namun, ungkapan tersebut sebaiknya dihindari karena bisa terasa menyakitkan.
Terapis Amy Morin mengungkap bahwa tiga kata itu bisa mengisyaratkan makna lain, seperti “Kerja bagus karena tidak menunjukkan emosi kamu”, atau “Aku kagum kamu bisa tetap tenang”.
Hal itu secara tidak sengaja membuat seseorang merasa perlu menyembunyikan apa yang sebenarnya mereka alami.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hindari kalimat “Yang kuat ya!” ketika orang berduka
Dilansir dari laman Time, Morin berbagi cerita ketika kehilangan ibunda dan suaminya saat berusia 26 tahun. Ia mengingat seseorang yang hampir bermaksud baik, berkata kepadanya, “Fakta bahwa kamu tidak menangis menunjukkan betapa kuatnya dirimu."
“Sebagai seorang terapis, saya tahu bahwa sering kali kita harus menunjukkan wajah tegar di depan umum. Jelas kamu berusaha untuk tidak menangis di toko swalayan, kamu berusaha untuk melewati hari. Tetapi ketika orang menafsirkan fakta bahwa kamu tidak terlihat sedih sebagai kekuatan, itu benar-benar mengirimkan pesan yang salah,” ucap Morin.
Menurutnya, tiga kata itu mendorong seseorang untuk bertindak tegar, bahkan ketika itu adalah perasaan terakhir mereka, Bunda.
Pendapat serupa juga disampaikan oleh pekerja sosial klinis di New York, Lauren Jessel. Ia menunjukkan bahwa orang sering kali merasa kesal ketika diberi tahu betapa kuatnya mereka karena hal itu meremehkan betapa tidak terkendalinya perasaan mereka yang sebenarnya.
Ungkapan itu adalah semacam ketidaksesuaian, mencerminkan citra seseorang yang tidak ada hubungannya dengan pengalaman batin mereka.
Ada sugesti tersirat bahwa orang tersebut entah bagaimana memilih keadaan mereka dan mampu menghadapinya dengan baik. Padahal kenyataannya, mereka hanya melakukan apa yang harus mereka lakukan untuk bertahan hidup.
Ungkapan itu juga dapat menambah tekanan untuk merahasiakan penderitaan, terutama bagi orang-orang yang telah menginternalisasi gagasan bahwa mereka harus tampak tenang selama masa-masa sulit.
Kalimat pengganti yang disarankan pakar
Jika benar-benar ingin menghibur seseorang yang sedang mengalami masa sulit, para ahli mengatakan hal paling ampuh yang dapat dilakukan adalah hanya berada di sisinya dan menahan keinginan untuk memperbaiki apa pun.
“Kata-kata selalu gagal untuk mengungkapkan perasaan orang yang berduka,” ungkap terapis Rebecca Love.
Menurutnya, tidak ada kata-kata yang tepat dan benar-benar menggambarkan kehilangan. Ia menemukan bahwa hal paling bermakna yang pernah dikatakan seseorang kepadanya adalah sesuatu seperti berikut ini.
“Aku tidak tahu harus berkata apa, tetapi aku mencintaimu dan aku ada di sini untukmu.” Kalimat ini dapat menjadi pengganti yang dapat Bunda sampaikan ketika orang terdekat sedang berduka.
Kejujuran itu jauh lebih menghibur daripada ungkapan klise yang sudah sering diucapkan, Bunda.
Keheningan juga sering disepelekan. Orang cenderung terburu-buru mengisi momen-momen ini dengan melontarkan lelucon, mengubah topik pembicaraan, atau beralih ke cerita tentang diri mereka sendiri.
Namun, duduk bersama seseorang dalam kesedihannya, tanpa mencoba menceritakan atau mengalihkannya, adalah salah satu hal paling murah hati yang dapat Bunda tawarkan.
Lebih lanjut, Morin menyarankan untuk menormalisasi rasa sakit emosional terlepas dari bagaimana seseorang tampak di luar. Ia pun merekomendasikan beberapa kalimat pengganti sebagai berikut:
- “Saya yakin kamu merasakan banyak emosi saat ini, dan itu wajar.”
- “Saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan kamu saat ini”.
- “Apa pun yang kamu rasakan, itu tidak apa-apa.”
Nah, itulah alasan mengapa sebaiknya hindari kalimat “Yang kuat ya!” kepada orang yang sedang berduka dan kalimat pengganti yang dapat disampaikan. Semoga bermanfaat, ya, Bunda.
Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!
(asa/som)
.png)
15 hours ago
5
















































