Selular.ID – Sektor pusat data di Asia Tenggara telah mengalami peningkatan pesat dalam lima tahun terakhir. Riset oleh Technavio menyatakan pasar akan mengalami pertumbuhan total sebesar $12,60 miliar antara tahun 2020 dan 2025.
Pertumbuhan yang mengesankan ini telah didorong oleh beberapa faktor, seperti kemajuan pesat kecerdasan buatan (AI) dan teknologi 5G, meningkatnya transformasi digital dan Internet of Things (IoT), e-commerce yang berkembang pesat, dan mengejar kedaulatan digital.
Di tengah perubahan transformatif ini, Malaysia dengan cepat menutup kesenjangan dengan Singapura, yang telah lama dianggap sebagai episentrum regional untuk aktivitas pusat data.
Johor, yang berlokasi strategis di Malaysia selatan, muncul sebagai pesaing utama untuk menjadi pusat pusat data berikutnya.
Menurut DC Byte, total kapasitas Johor (aktif, sedang dibangun, berkomitmen, dan tahap awal) sekarang melebihi 1500MW, dengan pertumbuhan yang signifikan dalam tiga tahun terakhir yang tidak menunjukkan tanda-tanda melambat.
Tak dapat dipungkiri, Johor saat ini berkembang pesat sebagai pusat data skala besar. Moratorium Singapura pada proyek pusat data baru 2019 mengalihkan investasi ke negara bagian tetangga tersebut.
Dengan lahan yang melimpah, jaringan listrik yang andal, dan minat yang terus tumbuh dari penyedia dan hyperscaler, Johor berada pada posisi yang tepat untuk mengatasi kendala kapasitas.
Lokasi negara bagian yang strategis dan kondisi yang menguntungkan telah menjadikannya tujuan yang menarik untuk investasi pusat data, terutama setelah moratorium dicabut.
Baca Juga: Ledakan AI Mendorong Rekor Pinjaman Untuk Pusat Data di Asia Tenggara, Malaysia Paling Diuntungkan
Berikut adalah 5 alasan mengapa Johor menjadi episentrum baru pembangunan data center di kawasan Asia Tenggara.
Peluang Investasi yang Menarik
Menurut agensi properti Malaysia Zerin Properties, negara bagian Johor di Malaysia diharapkan menarik investasi pusat data baru senilai RM17 miliar ($4,9 miliar) pada tahun 2024, berdasarkan investasi pusat data senilai RM51,1 miliar pada 2022.
Dengan mengaitkan lonjakan investasi di Johor dengan kriteria Singapura yang lebih ketat untuk pusat data, yang mengutamakan keberlanjutan, lahan Johor yang luas dan pasokan listrik yang stabil, berbeda dengan biaya energi Singapura yang meningkat dan keterbatasan lahan, menjadikannya lokasi yang ideal untuk membangun hub infrastruktur digital yang canggih.
Biaya Lahan yang Terjangkau
Ketersediaan lahan berbiaya rendah menambah potensi ekspansi kawasan ini. Johor menyediakan bidang tanah dengan harga yang kompetitif, cocok untuk membangun fasilitas pusat data skala besar yang luas.
Dikombinasikan dengan kerangka peraturan yang mendukung, lahan yang hemat biaya ini memperkuat daya tarik Johor sebagai destinasi utama untuk usaha pusat data.
Akses ke Energi Terbarukan
Pemerintah Malaysia telah menetapkan target di bawah Peta Jalan Energi Terbarukan Malaysia (MyRER) agar energi terbarukan mencakup 70% dari kebutuhan energi negara pada 2050, yang selaras untuk mencapai emisi gas rumah kaca nol bersih pada tahun yang sama.
Kerangka kerja “Johor Green Deal” mencakup lima area prioritas, yaitu energi, transportasi dan mobilitas, penggunaan lahan, alam dan air, kota rendah karbon, dan industri. Kerangka kerja ini berupaya untuk memperkuat upaya berkelanjutan negara bagian tersebut.
Bagi penyedia pusat data yang ingin mengurangi dampak lingkungannya, akses ke campuran sumber energi, termasuk gas alam, hidroelektrik, dan energi terbarukan, akan memfasilitasi operasi yang lebih berkelanjutan.
Tarif Listrik Industri yang Rendah
Seiring dengan AI yang membentuk kembali industri, pusat data yang membutuhkan daya yang sangat besar untuk komputasi berkinerja tinggi tidak terkecuali.
Tarif listrik industri Malaysia sebesar $0,10 per kilowatt-jam (kWh) menawarkan keunggulan kompetitif dibandingkan tarif Singapura yang jauh lebih tinggi sebesar $0,27 per kWh.
Keunggulan biaya ini dapat memengaruhi operator pusat data, terutama yang melayani sektor AI yang sedang berkembang, untuk lebih memilih Malaysia sebagai lokasi fasilitas mereka.
Biaya Pembangunan yang Terjangkau
Di seluruh Asia Pasifik, Malaysia menawarkan biaya konstruksi yang kompetitif sekitar USD per Watt, menurut Panduan Konstruksi Pusat Data Asia Pasifik 2023/2024 dari Cushman dan Wakefield.
Keunggulan ini dikaitkan dengan biaya yang lebih rendah untuk lahan, konstruksi, dan energi.
Konektivitas yang Menjangkau Pasar Global
Malaysia membanggakan infrastruktur konektivitas yang luas yang difasilitasi oleh 25 kabel bawah laut internasional.
Jaringan telekomunikasi canggih negara itu dan penyebaran serat optik yang luas memungkinkan konektivitas domestik dan internasional yang efisien.
Baca Juga: Tetangga Indonesia Kebanjiran Investor Baru, Bangun 3 Data Center