Bunda, pernahkah mendengar kondisi anak laki-laki harus segera disunat akibat mengalamis fimosis? Kondisi ini bisa ditandai dengan adanya masalah pada penis, bisa berupa pendarahan atau rasa yang sangat menyakitkan.
Penis memiliki dua bagian utama, yaitu batang dan kepala (disebut glans). Satu lapisan kulit yang kontinu, yang disebut kulup, menutupi batang dan glans. Fimosis adalah kondisi di mana kulup tidak dapat ditarik ke bawah (diretraksi) dari ujung penis.
Fimosis disebabkan oleh pengencangan lubang kulup. Ini adalah masalah umum pada anak laki-laki dan ini normal pada bayi baru lahir. Seiring waktu, kulup akan mengendur dan dapat ditarik ke bawah dengan lebih mudah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikutip dari laman Children's Hospital of Philadelphia, kulit kulup beberapa anak laki-laki dapat ditarik ke bawah sejak bayi, sementara yang lain baru bisa pada usia 5 atau 6 tahun.
Setelah dilatih buang air kecil dan besar, anak laki-laki yang tidak disunat harus belajar menarik kulupnya ke bawah saat buang air kecil dan mandi, lalu menariknya kembali ke depan.
Fimosis juga dapat terjadi jika kulup dipaksa ke belakang sebelum siap. Hal ini dapat menyebabkan terbentuknya jaringan parut fibrosa. Ini dapat menghentikan kulup untuk ditarik ke bawah di kemudian hari.
Ada dua jenis fimosis yaitu fimosis fisiologis, jenis fimosis ini terjadi secara alami sejak lahir. Seiring pertumbuhan anak, kulup perlahan terlepas dari kepala penis (glans) dan lubang uretra (meatus) menjadi terlihat. Fimosis fisiologis dapat sembuh pada usia yang berbeda untuk setiap anak. Namun, pada sebagian besar anak, fimosis ini akan sembuh sekitar masa pubertas.
Kedua yaitu fimosis patologis. Jenis fimosis ini berkembang ketika anak tidak mampu menarik kulup untuk melihat lubang uretra (meatus). Fimosis patologis biasanya disebabkan oleh perawatan kulup yang tidak tepat, pembengkakan kulup yang berulang, yang disebut balanitis, yang dapat menyebabkan jaringan parut.
Dalam artikel kali ini, Bunda akan tahu ciri-ciri fimosis pada bayi, cara mencegah, dan cara mengatasinya. Simak selengkapnya berikut ini!
Ciri-ciri fimosis pada bayi
Mengutip About Kids Health, tanda dan gejala fimosis meliputi:
- Ketidakmampuan untuk menarik kembali kulup saat membersihkan diri atau mandi.
- Ketidakmampuan untuk menarik kembali kulit cukup untuk melihat lubang uretra (meatus).
- Penggelembungan kulup saat buang air kecil.
- Ereksi yang menyakitkan.
- Pendarahan.
- Infeksi kandung kemih atau ginjal berulang (infeksi saluran kemih).
- Infeksi atau peradangan kulit kepala penis (balanitis).
- Kesulitan mengosongkan kandung kemih atau aliran urine yang lemah.
- Munculnya kebocoran urine baru (pada anak yang menggunakan toilet).
Cara mencegah fimosis
Pastikan perawatan kulup yang tepat untuk mencegah fimosis patologis. Kulup akan secara alami tertarik ke dalam pada usia yang berbeda, tergantung pada anak.
Ini dapat dimulai dari usia tiga tahun atau selambat usia pubertas. Penarikan kulup secara teratur tidak dianjurkan sebelum usia di mana hal ini terjadi secara alami.
Jangan pernah menarik kulup secara paksa, karena dapat memperburuk fimosis atau mengakibatkan parafimosis.
Cara membersihkan kulup dan penis
Sebelum kulup dapat ditarik secara alami
- Bersihkan kulup dan penis anak dengan sabun dan air hangat saat mandi. Sabun lembut sudah cukup. Tidak perlu pembersih khusus atau kapas.
- Jangan mencoba menarik kulup ke belakang.
- Tepuk-tepuk area tersebut hingga benar-benar kering dengan handuk.
Setelah kulup dapat ditarik secara alami
- Tarik kulup ke belakang dengan lembut. Jangan pernah menariknya secara paksa. Memaksa kulup untuk ditarik sebelum siap dapat membahayakan penis, menyebabkan rasa sakit, pendarahan, dan robekan pada kulit.
- Bersihkan bagian bawah kulup dengan sabun dan air saat mandi atau berendam. Sabun lembut sudah cukup. Tidak perlu pembersih khusus atau kapas.
- Bilas dan keringkan bagian bawah kulup secara menyeluruh.
- Tarik kulup ke belakang dengan lembut di atas kepala penis. Kulup tidak boleh dibiarkan dalam posisi ditarik.
Seiring bertambahnya usia anak, dorong mereka untuk terus merawat kulup mereka. Perawatan yang tepat adalah bagian dari kebersihan yang sehat.
Cara mengatasi fimosis
Untuk mengobati fimosis fisiologis, biasanya jenis fimosis ini sembuh dengan sendirinya. Kulup perlahan terlepas dari kepala penis seiring bertambahnya usia anak, sehingga tidak perlu pengobatan.
Sementara, untuk mengobati fimosis patologis, maka dokter biasanya memberikan resep steroid topikal. Mengoleskan steroid topikal pada kulup merupakan bentuk pengobatan yang efektif. Perlu dioleskan dua kali sehari selama empat hingga enam minggu. Sebanyak 85 persen kasus fimosis ringan hingga sedang, merespons dengan baik terhadap pengobatan ini. Namun, pengobatan ini mungkin bersifat sementara.
Namun, yang paling tepat untuk mengatasinya yaitu sirkumsisi atau sunat. Jika kulup masih tidak dapat ditarik setelah penggunaan steroid topikal, dokter mungkin menyarankan sirkumsisi. Sunat adalah prosedur di mana kulup dihilangkan, melepaskan pita yang mengikat pada kulup.
Demikian penjelasan mengenai kondisi fimosis pada bayi laki-laki. Biasakan untuk merawat kebersihan alat vitalnya, serta mengenali rasa sakit yang berbahaya untuk kesehatannya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)
.png)
2 hours ago
3
















































