Guangzhou, Tiongkok, (ANTARA/PRNewswire)- Artikel berita dari GDToday:
Tahun ini, bangsa Tiongkok mengenang 80 tahun kemenangan yang diraih dalam Perang Melawan Agresi Jepang dan Perang Dunia Melawan Fasisme. Di tengah perjuangan hidup dan mati, keadilan dan kejahatan, terang dan gelap, kebebasan dan perbudakan, sekelompok pahlawan pun muncul. Saat perang berkecamuk di Tiongkok, bahkan di laut yang jauh, para pahlawan harus menguras tabungan untuk menyalurkan donasi atau bergabung sebagai pejuang. Berkat dedikasi membela ibu pertiwi, mereka menjadi bagian yang selalu dikenang dalam sejarah. Ketika brutalitas fasisme terjadi di wilayah pegunungan dan lautan, para pahlawan ini bertarung bersama tentara Sekutu sebagai "bangsa Tiongkok": menembus langit dengan pesawat tempur, beroperasi senyap di belakang garis musuh untuk menghimpun informasi rahasia, atau menyelamatkan nyawa manusia di tengah desingan peluru di medan perang yang tersebar di Eropa, Kepulauan Pasifik, dan hutan-hutan di Asia Tenggara. Dengan mempertaruhkan nyawa, para pahlawan ini mengusung kebenaran yang menjunjung masa depan bersama.
Mulai hari ini, South melansir fim serial "Brother In Arms: Overseas Chinese in the Global Struggle Against Fascism" yang mengungkap fragmen sejarah yang tercecer di seluruh dunia: mulai dari jejak ban kendaraan di Nanyang (Asia Tenggara), Relawan Pengemudi dan Mekanik di Jalur Burma (Jalan Raya Yunnan-Burma) hingga kapal-kapal nelayan yang dipakai dalam Misi Penyelamatan Hong Kong; mulai dari misi hidup-mati yang ditempuh Pilot-Pilot Tiongkok di rute Hump hingga pertempuran yang merebak di Semenanjung Indochina, Malaysia, dan Filipina; mulai dari keterlibatan pekerja asal Tiongkok dalam Misi Pendaratan Pasukan di Normandy hingga misi pembersihan ranjau oleh korps zeni Tiongkok di medan pertempuran di Eropa: mulai dari kotak donasi di Pecinan New York "Gerakan Satu Mangkuk Nasi" hingga catatan harian dokter Tiongkok dalam Pertempuran Moskow...
Delapan puluh tahun berselang, kepingan sejarah ini masih relevan dengan semangat persaudaraan dan nilai-nilai kemanusiaan yang melampaui ras dan suku bangsa. Kepingan tersebut tak hanya menjadi bagian dari catatan sejarah tentang perlawanan Tiongkok, namun juga warisan bersama umat manusia ketika menentang fasisme.
Serial ini merupakan bentuk penghargaan kepada semua sosok yang mengorbankan nyawa demi perdamaian. Kenangan mereka akan tetap abadi.
"Untuk pertama kalinya, nama ayah saya muncul dalam monumen di luar negeri yang mengenang Relawan Pengemudi dan Mekanik Nanyang. Sejarah ternyata tidak melupakan mereka," ujar Zhang Yunpeng, salah seorang keturunan dari relawan Nanyang, dengan suara yang agak terbata-bata saat mengenang nama ayahnya.
Pada 14 Agustus lalu, Malaysia meresmikan Monumen yang mengenang jasa-jasa Relawan Pengemudi dan Mekanik Nanyang, serta Museum Relawan Pengemudi dan Mekanik Nanyang di Taman Pemakaman Kwong Tong di Kuala Lumpur, Malaysia. Lebih dari 1.000 orang dari seluruh dunia berkumpul untuk mengenang sekelompok pahlawan: Relawan Pengemudi dan Mekanik Nanyang yang secara resmi dikenal sebagai "Korps Relawan Pengemudi dan Mekanik Nanyang".
Ucapan Zhang tiba-tiba membawa kita ke sebuah masa pada 86 tahun lalu.
Pada 1939, ketika tentara Jepang memblokade pelabuhan-pelabuhan Tiongkok, Jalur Burma menjadi urat nadi pengiriman bantuan internasional ke Tiongkok. Menjawab imbauan pemimpin Tiongkok di luar negeri yang dikenal sebagai sosok patriotik, Tan Kah Kee, lebih dari 3.200 pemuda Tiongkok di luar negeri bergabung dalam Tentara Rakyat Tiongkok untuk Melawan Agresi Jepang. Berada di balik kemudi dengan tangan yang berlumuran oli, pemuda ini memperbaiki kendaraan yang rusak, serta mengangkut barang-barang persediaan militer. Berhadapan dengan kontak senjata, serangga beracun, serta hewan buas, para pemuda ini bergerak "maju dan tak gentar" dengan melintasi "Jalan Maut".
Menurut catatan sejarah, pada periode 1939-1942, Jalur Burma menjadi koridor untuk lebih dari lima juta ton barang persediaan penting, termasuk senapan mesin, artileri, kendaraan, bensin, dan obat-obatan. Dari sekitar 3.200 Relawan Pengemudi dan Mekanik Nanyang, lebih dari 1.000 relawan gugur di Jalur Burma. Relawan yang selamat lalu kembali ke Nanyang setelah demobilisasi, atau tinggal untuk membangun Tiongkok Baru.
Kini, seluruh pahlawan yang dikenal dengan sebutan Relawan Pengemudi dan Mekanik Nanyang telah meninggal dunia. Namun, jasa mereka terus dikenang. Keturunan mereka, menelusuri jejak terdahulu, menjalani napak tilas di Jalur Burma, mengenang sejarah, serta membagikan kisah-kisah tentang ayah mereka, sekaligus membangun "Jembatan Huitong" baru yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan.
SOURCE GDToday
Pewarta: PR Wire
Editor: PR Wire
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.