Ketua Harian PSI Ahmad Ali: Kalau Politik Jadi Tempat Mencari Nafkah, Sudah Pasti Salah

15 hours ago 11

INFO TEMPO - "Sejujurnya saya tidak pernah tahu berapa gaji saya di DPR." Kalimat itu meluncur ringan dari Ahmad Ali. Selama dua periode menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat, dia mengaku tak pernah menganggap gaji sebagai tujuan utama menjadi wakil rakyat.

Setiap kali penghasilannya masuk ke rekening, uang itu selalu dia habiskan untuk membiayai kunjungan ke daerah pemilihannya di Sulawesi Tengah. Bahkan, menurut dia, biaya reses kerap membengkak hingga dua kali lipat dari gaji yang diterima.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Bagi Ahmad Ali, berkeliling ke seluruh wilayah Sulawesi Tengah yang terbentang luas memang tidak mungkin dibiayai hanya dari fasilitas resmi negara. Namun dia tidak pernah mempersoalkan hal itu. "Kalau politik menjadi tempat mencari nafkah, sudah pasti salah," ujarnya.

Cara pandang itu pulalah yang membuat Ahmad Ali menutup masa jabatannya dengan langkah yang tidak biasa. Bukan memamerkan daftar keberhasilan, melainkan menulis permohonan maaf secara terbuka kepada masyarakat Sulawesi Tengah melalui media sosial. Ahmad Ali meminta masyarakat mengingatkan apabila selama sepuluh tahun mengemban amanah masih ada janji yang belum dipenuhi.

Bagi Ahmad Ali, jabatan politik bukan sekadar mandat konstitusi, melainkan juga amanah yang kelak harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Dia tidak ingin meninggalkan kursi parlemen dengan membawa utang janji kepada masyarakat.

Semangat melayani itu tidak berhenti ketika masa jabatannya sebagai anggota DPR berakhir. Justru setelah tak lagi duduk di parlemen, Ahmad Ali makin leluasa menekuni kegiatan sosial yang selama ini menjadi panggilan hidupnya. Fokus utamanya adalah pendidikan dan keagamaan, dua bidang yang diyakininya mampu mengubah masa depan seseorang sekaligus memperkuat kehidupan masyarakat.

Pilihan itu berakar dari pengalaman pribadi. Lahir di Desa Wosu, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, Ahmad Ali pernah memendam mimpi yang saat itu terasa terlalu besar: berkuliah di Jakarta. Anehnya, yang menghalangi bukanlah persoalan biaya. Ia lahir dari keluarga yang berkecukupan. Yang membuatnya gentar justru rasa asing terhadap Ibu Kota.

Jakarta, dalam bayangannya ketika itu, adalah kota yang sangat jauh, tanpa keluarga, tanpa teman, dan tanpa siapa pun yang bisa dijadikan tempat bersandar. Ketakutan itu membekas hingga kini. "Saya masih membawa traumatik masa lalu," katanya.

Pengalaman tersebut mengubah cara pandangnya tentang pendidikan. Ia yakin banyak anak daerah sesungguhnya memiliki kemampuan dan cita-cita besar. Namun mereka kerap mengubur mimpi bukan lantaran kekurangan biaya, melainkan karena takut menghadapi lingkungan yang sama sekali baru.

Karena itu, Ahmad Ali ingin memastikan generasi berikutnya tidak mengalami kegelisahan yang pernah ia rasakan. "Sementara dulu saya takut bermimpi sampai ke Jakarta karena tidak punya siapa-siapa di sana, hari ini adik-adik saya tidak boleh lagi takut bermimpi. Ada saya sebagai kakak mereka di Jakarta yang insyaallah membantu memfasilitasi pendidikan mereka," ujarnya.

Ucapan itu diwujudkan dalam tindakan. Melalui Yayasan Insan Cita Indonesia, ia mengembangkan berbagai program pendidikan, termasuk pesantren gratis bagi para penghafal Al-Quran dengan tenaga pengajar yang dipilih berdasarkan kapasitas keilmuan. Pada saat yang sama, ia juga membuka akses beasiswa bagi anak-anak muda dari Sulawesi Tengah untuk melanjutkan pendidikan tinggi.

Hingga kini, sekitar 107 penerima manfaat telah memperoleh dukungan untuk menempuh pendidikan, dari jenjang sarjana, magister, hingga doktor. Ahmad Ali mengatakan tidak pernah meminta mereka bergabung dengan partai politik ataupun bekerja untuk kepentingannya. Bagi dia, beasiswa adalah investasi jangka panjang yang hasilnya akan kembali kepada masyarakat.

Komitmen sosial Ahmad Ali juga menjangkau bidang keagamaan. Dia telah memberangkatkan sekitar 700 imam masjid di Sulawesi Tengah untuk menunaikan ibadah umrah serta membantu renovasi sekitar 200 masjid. Untuk memastikan kegiatan sosial itu tetap berkelanjutan, ia mendirikan Ahmad Ali Center sebagai lembaga yang berdiri terpisah dari dirinya. "Bagi saya, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain," tuturnya.(*)

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online