Kisah Bunda Terkena Kanker Usus Besar Stadium 4, Gejala Muncul saat Hamil 8 Bulan

9 hours ago 5

Jakarta -

Kanker usus besar dapat terjadi selama kehamilan. Pada April 2024 lalu, seorang Bunda bernama Gabby Zappia pernah membagikan pengalamannya terkena kanker ini saat hamil 8 bulan.

Zappia sedang hamil anak ketiga ketika dia menyadari ada darah dalam fesesnya. Saat itu, usia kehamilannya sudah memasuki enam bulan.

Zappia pun segera memeriksakan kondisinya ke dokter kandungan. Namun, gejala tersebut dengan cepat dianggap sebagai wasir oleh dokter. Tanpa evaluasi lebih lanjut, ia tidak mengindahkan gejala dan menganggapnya sebagai ketidaknyamanan kehamilan biasa.

"Kehamilan ini terasa sangat berbeda dari dua kehamilan sebelumnya, tetapi saya terus membenarkan perasaan saya. Karena usia saya sedikit lebih tua, memiliki dua anak kecil yang harus saya urus, dan ini kehamilan ketiga saya," katanya, dilansir People.

Namun, pendarahan yang keluar dari saluran pencernaannya tidak kunjung berhenti. Sebaliknya, pendarahan menjadi lebih sering dan disertai dengan munculnya gejala lain, seperti kelelahan ekstrem, perut kembung terus-menerus, sembelit, dan nyeri yang mengganggu di dekat tulang ekor.

Zappia masih belum memeriksakan dirinya karena penilaian dokter sebelumnya. Ia terus menunggu sampai kondisinya mulai memburuk pada Juni 2024.

"Sehari sebelum tanggal perkiraan kelahiran, saya buang gas dan menemukan adanya darah. Kemudian saya duduk untuk menggunakan toilet dan melihat banyak sekali darah," ujarnya.

"Jumlahnya sangat banyak sehingga sulit untuk menentukan dari bagian tubuh mana asalnya, tetapi itu sangat mengkhawatirkan."

Zappia lalu dilarikan ke ruang gawat darurat karena banyaknya darah yang keluar. Saat itu, dokter meyakinkan bahwa darah itu tidak terkait dengan bayi di dalam kandungannya, Bunda.

Sebagai tindakan pencegahan, Zappia diperbolehkan pulang dengan rekomendasi kembali ke rumah sakit keesokan harinya untuk induksi persalinan. Namun, penyebab mendasar dari pendarahan tersebut tetap tidak diketahui. Dokter menyarankannya untuk menjalani pemeriksaan lanjutan setelah melahirkan.

Pada 25 Juni 2024, Zappia akhirnya melahirkan seorang putra. Persalinan berjalan lancar dan tanpa komplikasi.

"Kalau dipikir-pikir, saya rasa mereka belum pernah mengalami hal seperti itu atau memahami betapa seriusnya gejala yang saya alami. Karena mereka tidak khawatir, itu memberi saya rasa aman yang semu," ungkap Zappia.

Ilustrasi USG PayudaraIlustrasi USG/ Foto: Getty Images/iStockphoto/Ivan-balvan

Didiagnosis kanker usus setelah melahirkan

Setelah melahirkan, Zappia tidak mendapatkan evaluasi lanjutan atau konsultasi dengan spesialis mengenai gejala pendarahannya. Zappia pun bertekad untuk mengambil langkah mandiri dengan menghubungi dokternya pada hari saat dipulangkan dari rumah sakit. Setelah itu, ia langsung dirujuk ke spesialis gastroenterologi.

"Saya menerima rujukan dengan cepat, tetapi ketika saya menelepon untuk menjadwalkan janji temu, mereka sudah penuh hingga tiga bulan ke depan. Saya tidak berpikir ada urgensi, jadi saya menunggu, meskipun gejala saya terus memburuk," katanya.

Pada Oktober 2024, ketika Zappia akhirnya bertemu spesialis, situasinya telah berkembang secara signifikan. Selama kunjungan tersebut, dokter melakukan tes feses menggunakan pewarna yang dirancang untuk mendeteksi darah dan hasilnya langsung keluar.

Namun, saat itu wasir masih dianggap sebagai kemungkinan penyebab pendarahan. Zappia pun dijadwalkan untuk menjalani kolonoskopi di bulan berikutnya untuk menyingkirkan penyebab serius.

Hasil kolonoskopi mengungkap adanya massa besar di usus besar Zappia. Massa tersebut hampir menyebabkan penyumbatan total.

"Anehnya, itu juga terasa melegitimasi. Saya telah menyampaikan kekhawatiran selama berbulan-bulan tanpa jawaban. Sekarang ada sesuatu yang konkret dan itu berarti saya bisa mulai melawannya," ujar Zappia.

Keesokan harinya, pemeriksaan pencitraan mengkonfirmasi adanya tumor dan lesi pada organ hatinya. Dalam waktu seminggu, ia menjalani operasi reseksi usus besar robotik untuk mengangkat sekitar 30 cm usus besar beserta kelenjar getah bening di dekatnya. Tak lama kemudian, biopsi mengkonfirmasi kanker usus besar stadium 4 yang telah menyebar ke organ hati.

Jalani pengobatan yang panjang

Setelah diagnosis, Zappia memulai kemoterapi dan imunoterapi pada awal tahun 2025. Ia lalu menjalani operasi hati yang meliputi pengangkatan tumor dan pemasangan pompa khusus untuk memberikan kemoterapi yang ditargetkan.

"Setelah 15 kali kemoterapi, pada September 2025, saya dinyatakan No Evidence of Disease (NED) atau tidak menunjukkan adanya kanker yang terdeteksi, dan membunyikan lonceng sebagai penyintas," ungkapnya.

Meski sudah dinyatakan NED, pada Desember 2025, aktivitas baru di terdeteksi di organ hati Zappia. Pada Maret 2026, Zappia menjalani operasi hati ketiganya untuk mengangkat tumor yang ditemukan dalam pemeriksaan pencitraan.

Perlu diketahui, menurut sebuah studi yang diterbitkan di JAMA pada Januari 2026, kanker kolorektal adalah penyebab utama kematian akibat kanker pada orang di bawah usia 50 tahun. Penting untuk dicatat bahwa sebagian besar kanker usus besar dapat dicegah dan sangat mudah diobati bila dideteksi sejak dini.

"Jika saya bisa memberi nasihat kepada siapa pun, percayai tubuh kamu karena kamu yang paling mengenal diri sendiri. Jika ada sesuatu yang terasa tidak beres, segera cari jawaban. Mintalah pendapat kedua. Mintalah tes. Bersikaplah gigih dengan penuh hormat. Kamu tidak berlebihan, tapi bersikap proaktif," kata Zappia.

Demikian kisah Bunda yang didiagnosis kanker usus besar stadium 4 usai melahirkan dan telah mengalami gejala saat hamil 8 bulan. Semoga informasi ini bermanfaat ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online