Krisis Donor Jantung, RSCM Terapkan LVAD Terkecil di Dunia untuk Pasien Gagal Jantung

1 hour ago 3

loading...

RSCM kembangkan LVAD terkecil di dunia untuk pasien gagal jantung.

JAKARTA - Indonesia masih menghadapi persoalan serius dalam penanganan gagal jantung stadium akhir. Di satu sisi, jumlah pasien terus menjadi perhatian. Di sisi lain, ketersediaan donor jantung masih sangat terbatas, sementara transplantasi membutuhkan tenaga medis dengan kompetensi khusus.

Kondisi ini membuat pasien gagal jantung terminal kerap menghadapi pilihan yang terbatas. Transplantasi jantung menjadi salah satu terapi utama pada kondisi tertentu, tetapi tidak semua pasien bisa segera mendapatkannya karena persoalan ketersediaan donor dan fasilitas pendukung.

Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan, Azhar Jaya, mengatakan keterbatasan donor organ dan tenaga ahli menjadi tantangan besar dalam penanganan pasien gagal jantung stadium akhir.

"Selama ini terapi utama gagal jantung stadium akhir adalah transplantasi jantung. Namun tantangannya sangat besar karena keterbatasan donor dan dokter dengan kompetensi khusus," kata Azhar dalam keterangan resmi di RSCM, Jakarta.

Baca Juga : Donor Jantung Langka, Teknologi LVAD Jadi Harapan Baru Pasien Gagal Jantung

Namun, perkembangan teknologi medis kini membuka alternatif baru. Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) berhasil melakukan implantasi Left Ventricular Assist Device (LVAD) jenis CoreHeart 6.

Perangkat tersebut merupakan alat bantu pompa jantung berukuran kecil yang dirancang untuk membantu kerja ventrikel kiri pada pasien dengan gagal jantung berat. Pemasangan CoreHeart 6 di RSCM juga menjadi yang pertama dilakukan di Asia.

Harapan di Tengah Krisis Donor

Keberhasilan tersebut menjadi angin segar bagi penanganan gagal jantung stadium lanjut di Indonesia. Teknologi LVAD dapat menjadi salah satu pilihan terapi bagi pasien tertentu yang membutuhkan dukungan fungsi jantung, terutama ketika transplantasi belum dapat dilakukan.

Azhar mengatakan adopsi teknologi tersebut merupakan langkah strategis pemerintah untuk memperkuat kemandirian layanan kardiovaskular nasional di tengah keterbatasan donor jantung.

"Kehadiran teknologi LVAD memberi harapan baru untuk memperpanjang usia sekaligus meningkatkan kualitas hidup pasien," ujarnya.

Meski demikian, Kementerian Kesehatan tidak ingin keberhasilan pemasangan LVAD hanya menjadi pencapaian satu rumah sakit atau satu tim medis.Pemerintah mendorong agar pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh RSCM dapat ditularkan melalui pelatihan kepada tenaga kesehatan di berbagai daerah.

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online