loading...
President University, University of Southern Queensland (UniSQ), Australia, dan Jababeka mendorong dunia industri perkuat pengelolaan dan pelaporan keberlanjutan melalui pemanfaatan teknologi, termasuk AI dan drone. Foto/Dok
JAKARTA - President University , University of Southern Queensland (UniSQ), Australia, dan Jababeka mendorong dunia industri untuk memperkuat pengelolaan dan pelaporan keberlanjutan melalui pemanfaatan teknologi, termasuk Artificial Intelligence (AI) dan drone. Kolaborasi ini didukung hibah kerja sama Indonesia-Australia senilai sekitar AUD42.000 dari Pemerintah Australia melalui Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT), yang diterima oleh President University dan UniSQ.
Berlangsung dari Juli hingga September 2026, program ini mempertemukan pendidikan tinggi, teknologi, dan dunia industri untuk mendorong pengelolaan lingkungan yang lebih terukur. Keberlanjutan kini tidak cukup dipandang sebagai upaya perusahaan mengurangi dampak kegiatan usahanya terhadap lingkungan.
Perusahaan juga perlu memahami bagaimana perubahan dan kondisi lingkungan di sekitar mereka dapat memengaruhi kesehatan pekerja, operasional, kepatuhan, reputasi, hingga keberlangsungan bisnis. Karena itu, pendekatan keberlanjutan perlu melihat hubungan dua arah antara perusahaan dan lingkungan.
Pelaporan Keberlanjutan ButuhData yang Dapat Dipertanggungjawabkan
Kebutuhan terhadap data lingkungan juga berkaitan dengan perkembangan pelaporan keberlanjutan di Indonesia. Pada 3 September 2026, President University menggelar workshop bagi pelaku industri mengenai perkembangan pelaporan keberlanjutan dan pemanfaatan teknologi untuk mendukung pengelolaan lingkungan.
Baca Juga: Penuhi Undangan DFAT Australia, AHY Bertukar Pendapat dengan Sejumlah Akademisi
Salah satu pembahasannya mencakup PSPK 1 dan PSPK 2, standar pelaporan keberlanjutan di Indonesia yang mengadopsi IFRS S1 dan IFRS S2. Kemampuan menghasilkan informasi lingkungan secara terukur ini menjadi semakin penting dengan penerapan standar akuntansi berbasis keberlanjutan yang wajib digunakan mulai 2027.
Prof. Syed Shams dari University of Southern Queensland menekankan, pentingnya keterbukaan informasi lingkungan dan keberlanjutan bagi dunia usaha. “Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pengungkapan lingkungan dan keberlanjutan yang kredibel berkaitan dengan nilai perusahaan yang lebih tinggi, biaya pendanaan yang lebih rendah, dan ekspektasi kinerja masa depan yang lebih kuat,” jelasnya.
.png)































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/9337844/original/002418600_1788259594-0L5A0298.jpg)


:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4079792/original/044506900_1657030031-IMG_20220705_201041.jpg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336928/original/052082000_1788222063-Gemini_Generated_Image_ctt9wmctt9wmctt9.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336758/original/034311900_1788175118-indo_2.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9334902/original/057214100_1787904674-1000420049.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9337949/original/038835400_1788266026-Muhammad_Isfandyar_Abdillah_2.jpg)


