Mengenal Matrescence, Fase Perubahan Besar saat Perempuan Menjadi Ibu

1 day ago 13

Jakarta -

Menjadi seorang ibu bukan hanya soal melahirkan bayi ke dunia. Ada proses besar yang terjadi dalam diri perempuan secara fisik, emosional, hingga psikologis. Proses ini dikenal dengan istilah matrescence.

Istilah ini mungkin masih terdengar baru, tapi sebenarnya sudah lama dikaji dalam dunia ilmiah. Memahami matrescence bisa membantu Bunda lebih memahami diri sendiri di tengah perubahan yang terasa begitu besar.

Perubahan menjadi ibu selama matrescence

Matrescence adalah fase transisi ketika seorang 'perempuan menjadi ibu', baik secara biologis, emosional, maupun sosial. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh antropolog Dana Raphael pada tahun 1970-an.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Dalam penelitian terbaru di jurnal Trends in Cognitive Sciences, matrescence dijelaskan sebagai fase perkembangan manusia, setara dengan masa remaja (adolescence), yang melibatkan perubahan besar dari masa sebelum memiliki anak hingga setelahnya. 

Bunda mungkin pernah merasa seperti jadi orang baru setelah punya anak. Perasaan ini bukan sekadar sugesti, matrescence memang terbukti secara ilmiah dan sudah diteliti dalam berbagai bidang, mulai dari neurosains hingga psikologi perkembangan.

1. Otak Bunda benar-benar berubah

Penelitian menggunakan pemindaian otak menemukan bahwa selama kehamilan hingga setelah melahirkan, terjadi perubahan struktur pada otak ibu. Area otak yang berkaitan dengan:

  • Empati
  • Ikatan emosional
  • Respons terhadap bayi menjadi lebih aktif dan sensitif.

Bahkan, beberapa studi menyebut perubahan ini mirip dengan fase pubertas. Artinya, otak Bunda memang sedang di-reset untuk menjalani peran baru sebagai ibu.

2. Hormon alami lonjakan dan penurunan drastis

Selama dan setelah kehamilan, hormon seperti estrogen, progesteron, dan oksitosin mengalami perubahan besar.

Dampaknya:

  • Emosi jadi lebih intens
  • Lebih mudah cemas atau menangis
  • Muncul rasa protektif yang tinggi terhadap bayi

Ini bukan baper, tapi reaksi biologis alami tubuh ya Bunda.

3. Perubahan bio-psiko-sosial

Dalam dunia medis, matrescence dikenal sebagai perubahan bio-psiko-sosial, artinya mencakup:

  • Biologis → tubuh dan hormon berubah
  • Psikologis → emosi dan pola pikir berubah
  • Sosial → peran dan hubungan ikut berubah

Perubahan ini terjadi secara bersamaan, sehingga wajar jika Bunda merasa kewalahan di awal.

4. Pergeseran identitas itu normal

Penelitian juga menemukan bahwa banyak ibu mengalami:

  • Kehilangan identitas lama
  • Kebingungan menjalani peran baru
  • Perubahan prioritas hidup

Namun, ini bukan kehilangan melainkan proses membentuk identitas baru sebagai ibu.

5. Bisa berdampak pada kesehatan mental

Karena perubahan yang begitu besar, sebagian ibu bisa mengalami:

  • Baby blues
  • Stres berlebih
  • Bahkan depresi pasca melahirkan

Itulah kenapa penting untuk memahami matrescence sejak awal, agar Bunda tidak merasa sendirian atau ada yang salah.

Ilustrasi Ibu HamilIlustrasi Ibu Hamil/ Foto: Getty Images/iStockphoto/torwai

Pentingnya masa matrescence

Sayangnya, meski perubahan ini sangat besar, banyak ibu tidak mendapatkan cukup dukungan. Sebuah laporan terbaru menyebutkan bahwa banyak perempuan merasa:

  • Bingung dengan perubahan diri
  • Tidak punya 'bahasa' untuk menjelaskan perasaannya
  • Tertekan oleh ekspektasi menjadi ibu sempurna 

Inilah kenapa istilah matrescence menjadi penting, karena membantu Bunda memahami bahwa Ini adalah proses normal, bukan kelemahan.

Secara biologis, penelitian dalam bidang neurosains menunjukkan bahwa otak ibu mengalami perubahan struktur dan fungsi. Bahkan, perubahan ini disebut mirip dengan masa pubertas karena melibatkan proses neuroplastisitas (kemampuan otak untuk 'membentuk ulang' dirinya). Otak menjadi lebih sensitif terhadap bayi, tetapi di sisi lain, proses adaptasi ini juga bisa membuat ibu merasa lebih emosional, mudah lelah, dan kewalahan.

Selain itu, perubahan ini tidak hanya terjadi di tubuh, tetapi juga di kehidupan sehari-hari. Penelitian dalam jurnal Nature Reviews Neuroscience menjelaskan bahwa kehamilan dan menjadi ibu menghubungkan perubahan hormon, perilaku, dan lingkungan secara langsung. Jadi, ketika Bunda merasa hidup berubah total, itu memang nyata secara ilmiah, karena semua aspek kehidupan ikut terdampak.

Yang membuat terasa semakin berat adalah adanya peningkatan beban kognitif. Studi menunjukkan bahwa sekitar 80% ibu baru melaporkan penurunan fokus, memori, atau konsentrasi di awal masa keibuan. Ini bukan karena kemampuan menurun, tetapi karena otak sedang beradaptasi dengan tanggung jawab baru yang jauh lebih kompleks.

Di sisi lain, tekanan sosial juga memperparah kondisi ini. Banyak ibu merasa harus memenuhi standar 'ibu sempurna', padahal realitasnya sangat berbeda. Tak pelak, banyak ibu merasa bingung, kehilangan identitas, dan kewalahan karena tidak mampu menjelaskan perubahan yang mereka alami. Tidak heran jika banyak Bunda merasa lelah secara fisik sekaligus emosional.

Apakah matrescence sama dengan baby blues?

Tidak, Bunda. Keduanya berbeda meski sering terjadi bersamaan.

Matrescence adalah proses besar dan alami ketika seorang perempuan bertransformasi menjadi ibu. Istilah ini diperkenalkan oleh Dana Raphael dan dalam kajian psikologi perkembangan, fase ini dianggap sebagai bagian dari siklus hidup yang wajar, seperti masa remaja.

Sementara itu, baby blues adalah kondisi emosional sementara yang biasanya muncul beberapa hari setelah melahirkan. Bunda mungkin merasa lebih sensitif, mudah menangis, cemas, atau mood naik turun tanpa alasan yang jelas. Kondisi ini sangat umum terjadi dan biasanya membaik dalam waktu sekitar dua minggu.

Penelitian menunjukkan bahwa baby blues dipicu oleh perubahan hormon yang sangat cepat setelah persalinan, ditambah kelelahan dan adaptasi terhadap peran baru sebagai ibu. Jadi, baby blues bisa dianggap sebagai salah satu bagian kecil dari pengalaman dalam matrescence, tapi bukan keseluruhannya.

Yang perlu diperhatikan, jika perasaan sedih atau cemas berlangsung lebih lama, semakin berat, atau sampai mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi ini bisa berkembang menjadi depresi pasca melahirkan. Berbeda dengan baby blues, kondisi ini membutuhkan perhatian dan bantuan profesional.

Secara sederhana, Bunda bisa memahaminya seperti ini: Matrescence adalah perjalanannya, baby blues adalah salah satu fase yang mungkin terjadi di dalam perjalanan tersebut. Atau, Matrescence adalah 'fase besar'-nya, sementara baby blues adalah salah satu kemungkinan yang terjadi di dalamnya.

Infografis gejala baby bluesGejala baby blues/ Foto: HaiBunda

Sisi positif dari matrescence

Meski sering terasa berat, matrescence bukan hanya tentang perubahan yang melelahkan. Di balik proses ini, ada banyak sisi positif yang secara ilmiah justru menunjukkan bahwa Bunda sedang mengalami pertumbuhan besar dalam hidup.

Dalam penelitian di bidang neurosains, ditemukan bahwa otak ibu menjadi lebih adaptif setelah melahirkan. Proses ini disebut neuroplastisitas, yaitu kemampuan otak untuk membentuk koneksi baru. Dampaknya, banyak ibu mengalami peningkatan dalam kemampuan memahami emosi, membaca situasi, dan merespons kebutuhan orang lain, terutama bayinya.

Selain itu, studi dalam psikologi perkembangan menunjukkan bahwa fase ini sering kali memperkuat ketahanan mental (resilience). Meski awalnya terasa sulit, banyak ibu justru menjadi lebih kuat secara emosional setelah melewati masa-masa awal menjadi orang tua. Mereka belajar menghadapi tekanan, mengelola emosi, dan beradaptasi dengan situasi baru.

Perubahan identitas yang terjadi selama matrescence juga membawa dampak positif. Penelitian tentang transisi menjadi ibu menemukan bahwa banyak perempuan akhirnya memiliki pemahaman diri yang lebih dalam. Bunda jadi lebih mengenal nilai hidup, prioritas, dan hal-hal yang benar-benar penting. Ini sering kali membuat hidup terasa lebih bermakna.

Dari sisi hubungan, matrescence juga bisa memperkuat ikatan emosional. Hormon seperti oksitosin membantu membangun kedekatan antara ibu dan bayi, sekaligus bisa meningkatkan kedalaman hubungan dengan pasangan ketika dijalani dengan komunikasi yang baik.

Menariknya, beberapa penelitian juga menyebut bahwa menjadi ibu dapat meningkatkan rasa tujuan hidup (sense of purpose). Banyak perempuan merasa hidupnya menjadi lebih berarti karena memiliki peran baru yang penuh makna.

Jadi, meskipun matrescence dipenuhi tantangan, fase ini juga merupakan proses Bunda menjadi:

  • Tumbuh lebih kuat
  • Lebih peka secara emosional
  • Lebih mengenal diri sendiri
  • Dan menemukan makna baru dalam hidup

Tips menjalani matrescence dengan lebih sehat

Agar Bunda bisa melewati fase matrescence dengan lebih nyaman, berikut beberapa tips yang bisa dilakukan:

1. Terima bahwa ini proses alami

Dalam kajian psikologi perkembangan, penerimaan diri terbukti membantu menurunkan stres saat menghadapi perubahan besar dalam hidup.

2. Ungkapkan perasaan, jangan dipendam

Berbagi cerita dengan pasangan, teman, atau menulis jurnal dapat membantu meredakan beban emosional.

3. Prioritaskan istirahat

Kurang tidur dapat memperburuk suasana hati dan meningkatkan stres. Manfaatkan waktu istirahat sekecil apa pun.

4. Bangun support system

Dukungan dari pasangan, keluarga, atau teman sangat penting untuk menjaga kesehatan mental Bunda.

5. Kurangi membandingkan diri dengan orang lain

Terlalu sering melihat 'ibu sempurna' di media sosial bisa memicu rasa tidak percaya diri.

6. Luangkan waktu untuk diri sendiri (me time)

Hal sederhana seperti mandi dengan tenang atau minum teh hangat bisa membantu mengisi ulang energi.

7 Kenali batas diri

Tidak semua hal harus dilakukan sendiri. Tidak apa-apa meminta bantuan.

8. Cari bantuan profesional jika dibutuhkan

Jika merasa kewalahan, konsultasi dengan ahli bisa membantu mencegah kondisi seperti depresi pasca melahirkan.

Demikian penjelasan mengenai istilah mastrescence yang merupakan fase perubahan besar menjadi seorang ibu.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online