Mengenal Penyakit Jantung Bawaan (PJB) pada Bayi

3 hours ago 2

Jakarta -

Penyakit Jantung Bawaan (PJB) merupakankelainan struktur jantung yang sudah ada sejak bayi lahir. Kondisi ini merupakan salah satu kelainan bawaan tersering dan dapat terjadi pada siapa saja, bahkan pada kehamilan yang tampak normal, Bunda.

Seperti diketahui, jantung merupakan organ vital yang memegang peran penting bagi tumbuh kembang Si Kecil. Struktur jantung yang normal sangat dibutuhkan untuk menjaga peredaran darah agar kebutuhan oksigen dan nutrisi tubuh anak tetap tercukupi.

Namun, menilik data dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), sekitar 7 sampai 8 dari 1000 bayi lahir dengan kondisi penyakit jantung bawaan pada bayi. Hal ini menjadikan PJB bayi sebagai kasus kelainan yang paling sering ditemukan, Bunda.

Bicara soal ini, banyak orang tua yang merasa khawatir, apakah PJB pada bayi bisa sembuh seiring berjalannya waktu? Lalu, apa saja gejala PJB yang bisa dikenali sejak dini agar penanganannya tidak terlambat?

Penyebab Penyakit Jantung Bawaan (PJB)

Hingga saat ini, penyebab PJB bayi belum diketahui secara pasti, Bunda. Namun, berbagai penelitian menunjukkan adanya sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kelainan jantung bawaan pada janin.

Dikutip dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dan Mayo Clinic, penyebab tersebut di antaranya meliputi:

1. Riwayat keluarga dan genetik

Meskipun kasusnya tidak terlalu sering, riwayat keluarga yang memiliki kelainan jantung bawaan tetap bisa meningkatkan risiko bayi mengalami kondisi yang sama.

2. Paparan asap rokok saat hamil

Paparan asap rokok selama kehamilan dapat berdampak buruk bagi janin. Bukan tanpa alasan, hal ini karena rokok mengandung berbagai zat berbahaya yang dapat mengganggu proses pembentukan organ, termasuk jantung bayi.

3. Konsumsi obat di trimester pertama

Beberapa jenis obat yang dikonsumsi pada trimester pertama kehamilan dapat berpengaruh pada perkembangan janin. Ada obat yang memiliki efek teratogenik, yaitu dapat mengganggu proses pembentukan dan perkembangan organ janin.

Contohnya seperti asam retinoid yang sering digunakan untuk mengatasi jerawat, beberapa obat anti kejang serta obat untuk mengatasi kecemasan.

4. Kondisi kesehatan Bunda

Kesehatan Bunda selama kehamilan juga penting dalam perkembangan janin. Beberapa penyakit seperti infeksi virus (misalnya rubella) atau gangguan metabolisme tertentu dapat meningkatkan risiko terjadinya kelainan jantung pada Si Kecil.

5. Diabetes

Kadar gula darah yang tidak terkontrol sebelum dan selama kehamilan bisa meningkatkan risiko PJB pada bayi. Namun, jika kadar gula darah terkontrol dengan baik, risiko ini bisa berkurang. Sementara itu, diabetes gestasional umumnya tidak terlalu meningkatkan risiko kelainan jantung pada bayi.

Faktor risiko penyakit jantung bawaan

Dilansir dari Kemenkes RI, gangguan yang terjadi pada setiap tahap proses perkembangan jantung dapat menimbulkan dampak yang berbeda, tergantung pada waktu terjadinya dan jenis gangguannya.

Secara umum, faktor risiko ini dibagi menjadi dua, yaitu faktor intrinsik dan ekstrinsik:

1. Faktor ekstrinsik

Faktor ekstrinsik adalah faktor dari luar yang bisa mengganggu perkembangan embrio selama kehamilan. Gangguan ini terjadi karena paparan zat berbahaya atau kurangnya nutrisi yang dibutuhkan janin.

Beberapa zat beracun yang disebut teratogen dapat memicu kelainan, salah satunya thalidomide yang dikenal dapat memengaruhi perkembangan jantung. Selain itu, kelebihan asam retinoat dari vitamin A juga bisa mengganggu proses pembentukan organ jika jumlahnya tidak seimbang, Bunda.

Paparan alkohol dalam jumlah tinggi selama kehamilan juga meningkatkan risiko PJB bayi. Selain itu, beberapa obat seperti antikejang dan antidepresan juga berdampak pada perkembangan janin jika tidak digunakan dengan hati-hati.

2. Faktor intrinsik

Selanjutnya, faktor intrinsik berasal dari kondisi dalam tubuh Bunda yang dapat memengaruhi perkembangan janin selama kehamilan. Penyakit seperti diabetes dapat meningkatkan risiko kelainan jantung bawaan, terlebih jika terjadi sebelum atau di awal kehamilan.

Selain itu, gangguan metabolisme seperti Fenilketonuria atau Phenylketonuria (PKU) juga berdampak pada perkembangan organ janin, termasuk jantung. Namun, risiko ini bisa berkurang jika kondisi tersebut ditangani dengan pola makan yang tepat sejak sebelum kehamilan.

Infeksi selama kehamilan juga bisa menyebabkan gangguan serius pada janin, Bunda. Bahkan, demam tinggi di awal kehamilan pun diketahui meningkatkan risiko terjadinya kelainan jantung pada bayi.

Jenis penyakit jantung bawaan

Meskipun terdapat banyak jenis PJB, secara umum kondisi ini dapat dibagi menjadi tiga kategori seperti:

Penyakit jantung bawaan dengan kelainan di katup

Pada kondisi ini, katup jantung yang berfungsi mengatur arah aliran darah bisa tidak menutup dengan sempurna atau justru mengalami kebocoran. Akibatnya, aliran darah menjadi tidak lancar dan kerja jantung dalam memompa darah ke tubuh pun terganggu.

Penyakit jantung bawaan dengan kelainan di dinding jantung

Kelainan ini terjadi ketika dinding pemisah antara sisi kiri dan kanan, serta bagian atas dan bawah jantung, tidak terbentuk dengan sempurna. Kondisi ini menyebabkan aliran darah menjadi tidak normal, bahkan bisa kembali ke jantung atau menumpuk, sehingga membuat jantung bekerja lebih keras.

Penyakit jantung bawaan dengan kelainan di pembuluh darah

Pada kondisi ini, pembuluh darah seperti arteri dan vena yang membawa darah dari dan ke jantung tidak bekerja sebagaimana mestinya. Hal ini menyebabkan aliran darah terhambat atau tidak lancar, sehingga berisiko menimbulkan berbagai masalah kesehatan.

Gejala PJB (Penyakit Jantung Bawaan) pada bayi

Penyakit jantung bawaan yang tergolong serius biasanya sudah dapat terdeteksi sejak bayi lahir atau dalam beberapa bulan pertama kehidupannya. Dilansir dari Mayo Clinic, gejala PJB dapat meliputi:

  • Warna bibir, lidah, atau kuku tampak pucat keabu-abuan atau kebiruan. Perubahan warna ini bisa terlihat lebih jelas atau samar, tergantung warna kulit bayi.
  • Napas bayi menjadi lebih cepat dari biasanya.
  • Terjadi pembengkakan pada beberapa bagian tubuh, seperti kaki, perut, atau area sekitar mata.
  • Bayi tampak sesak saat menyusu, sehingga berat badannya sulit bertambah dengan baik.

Selain itu, PJB yang tergolong lebih ringan biasanya baru terdeteksi saat anak sudah lebih besar. Gejala penyakit jantung bawaan pada anak yang lebih besar meliputi:

  • Mudah merasa sesak napas saat berolahraga atau melakukan aktivitas fisik.
  • Cepat lelah meski hanya melakukan aktivitas ringan.
  • Bisa mengalami pingsan saat sedang beraktivitas atau berolahraga.
  • Terjadi pembengkakan pada tangan, pergelangan kaki, atau bagian kaki.

Apakah penyakit jantung bawaan pada anak bisa sembuh?

 Penyebab, Gejala, Deteksi, dan PenangananIlustrasi/Foto: Getty Images/paulaphoto

Mengutip dari laman IDAI, beberapa jenis PJB tergolong ringan dan bisa menutup dengan sendirinya seiring tumbuh kembang anak. Namun, ada juga jenis yang lebih berat sehingga membutuhkan penanganan medis sejak dini, bahkan segera setelah bayi lahir.

Penyakit jantung bawaan pada anak memang termasuk kondisi yang serius, tetapi tetap bisa ditangani dengan baik jika terdeteksi lebih awal. Karena itu, orang tua harus segera memeriksakan anak ke dokter jika muncul tanda-tanda yang mencurigakan.

Diagnosis penyakit jantung bawaan

Diagnosis penyakit jantung bawaan pada anak perlu dilakukan sedini mungkin agar penanganannya bisa tepat dan tidak menimbulkan komplikasi serius, seperti gagal jantung, gangguan tumbuh kembang, hingga risiko kematian.

Seiring kemajuan teknologi medis, banyak anak dengan penyakit jantung bawaan pada anak kini memiliki peluang untuk tumbuh sehat dan menjalani kegiatan seperti biasa.

PJB bayi biasanya dapat dicurigai melalui pemeriksaan fisik, misalnya dengan ditemukannya bunyi jantung yang tidak normal. Untuk memastikan diagnosis, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan lanjutan seperti ekokardiografi.

Pengobatan penyakit jantung bawaan

Dilansir dari Kemenkes RI, pengobatan PJB akan disesuaikan dengan penyebab serta tingkat keparahan kondisi yang dialami. Penanganan yang diberikan seperti:

1. Obat-obatan

Penggunaan obat dapat membantu mengontrol kondisi PJB, seperti diuretik untuk mengurangi kelebihan cairan dalam tubuh. Selain itu, ada juga obat seperti ACE inhibitor untuk meringankan kerja jantung serta beta-blocker untuk mengatur denyut jantung.

2. Tindakan medis atau operasi

Pada beberapa kondisi, diperlukan tindakan medis seperti operasi jantung untuk memperbaiki kelainan bawaan. Selain itu, pemasangan alat pacu jantung hingga transplantasi jantung bisa menjadi pilihan pada kasus yang lebih berat.

3. Perubahan gaya hidup

Penanganan juga melibatkan pola hidup sehat, seperti pemberian nutrisi pada anak yang tepat dan pemantauan berat badan secara rutin. Anak juga mungkin perlu membatasi kegiatan fisik sesuai anjuran dokter serta menjalani kontrol rutin ke dokter spesialis jantung anak.

Itulah penjelasan tentang mengenal penyakit jantung bawaan pada bayi yang penting untuk Bunda pahami sejak dini. Semoga informasinya dapat membantu, ya

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ndf/fir)

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online