Jakarta -
Keluhan nyeri perut yang hebat bisa menjadi salah satu tanda kanker, Bunda. Setidaknya itulah yang dialami perempuan bernama Giahan Tang.
Perempuan asal South Philadelphia, Amerika Serikat ini mengeluh sering nyeri perut sebelum akhirnya didiagnosis kanker stadium 4. Tang tak pernah menyangka diagnosis kanker lantaran menjalani gaya hidup sehat sejak lulus kuliah dari Temple University pada tahun 2023.
"Saya benar-benar ingin tahun 2025 menjadi tahun saya bisa mengembangkan diri. Selain berlatih untuk menjadi pelayan, saya mulai rutin pergi ke gym dan konsumsi makanan yang lebih sehat. Rasanya seperti saya sedang membangun kekuatan," kata Tang, dikutip dari People.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, tepat ketika hidup tampak berjalan sesuai rencana, semuanya berubah. Sepanjang tahun 2025, Tang merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Ia terus jatuh sakit dengan cara yang dianggap tidak biasa, Bunda.
"Saya kira saya keracunan makanan dua kali. Saya muntah, diare, kelelahan, dan demam, tetapi saya tidak terlalu memikirkannya. Saya selalu sehat, jadi saya berasumsi itu akan hilang dengan sendirinya," ujar Tang.
Setelah mengabaikannya, Tang tiba-tiba mengalami rasa sakit yang terasa berbeda. Rasa sakit di area perutnya ini tak kunjung hilang hingga membuatnya terjaga sepanjang malam.
"Saya merasakannya saat berbaring, duduk, berjalan, tidak ada yang membantu untuk menghilangkannya. Saat ditekan, rasa sakitnya malah semakin parah. Saat itulah saya langsung tahu ada sesuatu yang salah," kata perempuan 24 tahun ini.
Tang lalu memutuskan untuk pergi ke klinik perawatan darurat dan menjalani pemeriksaan pencitraan. Pemeriksaan EKG dan pemeriksaan darahnya menunjukkan hasil normal. Namun, hasil CT scan menunjukkan apa yang diyakini dokter sebagai kista ovarium.
Setelah menjalani pemeriksaan, Tang kembali ke rumah. Tak lama, seorang dokter menghubunginya setelah memeriksa hasil CT scan. Dokter mengatakan bahwa ia menemukan lesi kecil di dinding perut Tang, yang dapat mengindikasikan penyakit metastasis.
"Hati saya langsung hancur. Dokter terus meminta maaf (karena melewatkan hasil ini). Tapi saat itu saya belum mengerti betapa buruknya keadaan tersebut," ujarnya.
Beberapa minggu setelah kunjungannya ke unit gawat darurat, Tang mendapati dirinya kembali mengingat gejala-gejala yang sebelumnya ia abaikan, seperti demam, kelelahan, dan gatal hebat yang ia anggap sebagai eksim. Saat itu, ia baru menyadari kondisinya ternyata serius.
Dua minggu setelah periksa ke dokter, Tang mengetahui diagnosis medisnya. Ia didiagnosis mengidap limfoma sel B besar difus stadium 4 subtipe double-expressor. Menurut Cleveland Clinic, ini merupakan kanker darah berisiko tinggi dan dapat berkembang pesat menyerang sistem limfatik .
"Saya ingat pernah bertanya, 'Limfoma? Maksudnya kanker?'. Dan dia (dokter) menjawab 'ya'," kata Tang.
Perawatan yang dijalani untuk kanker stadium 4
Meskipun didiagnosis stadium 4, dokter mengatakan kepada Tang bahwa kankernya dapat diobati. Ketika bertemu dengan dokter onkolog, Tang datang dengan persiapan matang setelah berjam-jam melakukan riset.
"Dia (dokter) bertanya apa yang saya ketahui tentang kanker saya, dan saya mulai menceritakan semua yang telah saya pelajari. Dia bahkan bertanya apakah saya bekerja di bidang kesehatan," ungkap Tang.
Dokter onkolog menjelaskan diagnosis Tang dengan istilah yang lebih sederhana, yakni kanker darah yang menyerang sel B di sistem limfatik, yang merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh. Nah, karena subtipe kanker ini agresif, Tang memulai rencana perawatan intensif yang meliputi kemoterapi, imunoterapi, dan steroid setiap tiga minggu.
"Putaran pertama sangat mengerikan. Saya gemetar, mengalami demam, dan kedinginan terus-menerus. Tubuh saya terasa tidak seimbang lagi," katanya.
"Saya tidak bisa mandi sendiri. Saya tidak bisa memasak. Saya harus menunggu sampai merasa lebih kuat setelah setiap infus hanya untuk melakukan hal-hal dasar. Kehilangan kemandirian adalah perjuangan yang sangat berat."
Titik balik terjadi setelah pemindaian PET pertama. Terlepas dari betapa lemahnya kondisi fisik Tang, pemindaian tersebut menunjukkan hasil yang positif.
"Kanker stadium 4 saya benar-benar hilang setelah hanya dua kali pengobatan. Itu memberi saya begitu banyak harapan," ujarnya.
Para dokter tetap menyarankan untuk menyelesaikan keenam putaran pengobatan, dan Tang tetap melanjutkannya. Pada akhir pengobatan, hasil pemindaian menunjukkan hasil yang bersih.
"Dan sekarang saya sudah bebas dari kanker," katanya.
"Mengalahkan kanker mengajari saya kekuatan batin. Itu membuat saya lebih rendah hati, lebih berani, dan lebih bersyukur."
Tang berharap orang lain dapat mengambil dua pelajaran dari kisahnya, yakni pentingnya rasa syukur dan mendengarkan sinyal tubuh. "Jangan menganggap remeh kesehatan. Jika ada sesuatu yang terasa tidak beres, periksa. Lebih baik berhati-hati daripada menyesal," pungkasnya.
Demikian kisah perempuan yang didiagnosis kanker stadium 4 setelah kerap mengalami nyeri perut.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/pri)
.png)
6 hours ago
1

















































