Mengenal Vaksin DPT untuk Bayi yang Tak Boleh Terlewatkan

3 hours ago 5

Jakarta -

Vaksin DPT menjadi salah satu jenis vaksin untuk bayi yang tak boleh dilewatkan jadwalnya. Dengan pemberian vaksin ini, Si Kecil akan terlindungi dari penyakit-penyakit berbahaya.

DPT merupakan kepanjangan dari difteri, pertusis, dan tetanus. Tiga penyakit ini sama-sama disebabkan oleh bakteri dan membahayakan nyawa.

Dikutip dari laman Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, difteri juga sempat mewabah setidaknya di 20 provinsi di Indonesia pada 2017. 

Oleh sebab itu, DPT termasuk sebagai salah satu imunisasi dasar lengkap yang wajib didapat oleh anak sebelum usia 1 tahun.

Penyakit-penyakit yang dapat dicegah oleh vaksin DPT

Meski sama-sama disebabkan oleh bakteri, penyakit difteri, pertusis, dan tetanus masuk ke dalam tubuh dengan cara yang berbeda.

Anak bisa tertular difteri dan pertusis saat tak sengaja menghirup atau terkena percikan air liur dari orang yang mengidapnya.

Sementara itu, bakteri tetanus dapat masuk ke dalam tubuh melalui luka pada kulit, seperti luka akibat tertusuk paku, jarum, atau luka karena gigitan hewan. Berikut ulasan lengkap tentang ketiga penyakit tersebut:

1. Difteri

Difteri adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diptheriae. Penyakit ini menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan.

Meski tidak selalu menimbulkan gejala, penyakit ini biasanya ditandai oleh munculnya selaput atau lapisan tebal berwarna abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel penderita.

2. Pertusis

Pertusis atau batuk rejan disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis, yang sangat mudah menular. Infeksi bakteri ini menyebabkan peradangan pada saluran pernapasan.

Bila tidak ditangani, pertusis dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius seperti pneumonia, mimisan, perdarahan otak, gangguan paru-paru, dan bahkan kematian.

3. Tetanus

Tetanus adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi Clostridium tetani, bakteri yang banyak ditemukan pada tanah dan kotoran hewan. Bakteri ini dapat masuk ke dalam tubuh melalui luka pada kulit.

Saat masuk ke dalam tubuh, bakteri tetanus akan menyerang saraf yang mengendalikan otot. Hal ini menyebabkan penderita penyakit tetanus mengalami kaku atau kejang pada otot rahang, leher, dada, dan perut.

Tetanus yang tidak diobati dapat menyebabkan sejumlah komplikasi serius, seperti gangguan pernapasan, pneumonia, dan kerusakan otak karena kekurangan pasokan oksigen. 

Kapan waktu pemberian vaksin DPT?

Menurut data Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan tahun 2017-2020, ada setidaknya 1,6 juta anak di Indonesia yang belum diimunisasi atau belum lengkap diimunisasi. Akibatnya, mereka rentan sakit lantaran tubuhnya tidak mendapat kekebalan yang bisa diperoleh dari imunisasi.

Dikutip dari jadwal vaksinasi anak yang dipublikasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Tahun 2024, vaksin DPT dapat diberikan mulai usia 6 minggu. Tepatnya pada usia 2, 3, 4 bulan atau 2, 4, 6 bulan. Booster pertama di usia 18 bulan.

Lalu booster berikutnya di usia 5-7 tahun dan 10-18 tahun. Ingat ya Bunda, jika anak sedang sakit, maka pemberian imunisasi DPT dapat ditunda hingga kondisinya membaik.

Apabila imunisasi DPT terlambat diberikan, berapa pun interval keterlambatannya, jangan mengulang dari awal. Lanjutkan imunisasi sesuai jadwal bila anak belum pernah diimunisasi dasar pada usia.

Reaksi tubuh setelah imunisasi DPT

Reaksi yang dapat terjadi segera setelah vaksinasi DPT antara lain demam tinggi, rewel, di tempat suntikan timbul kemerahan, nyeri dan pembengkakan, yang akan hilang dalam 2 hari. 

Pastikan untuk memberi lebih banyak minum (ASI atau air putih). Jika anak agak demam, pakaikan pakaian yang tipis dan bekas suntikan yang nyeri dapat dikompres air dingin.

Hindari memakaikan pakaian atau selimut yang terlalu tebal pada anak setelah imunisasi, karena hal ini justru dapat memerangkap panas di dalam tubuh dan membuat demam tidak kunjung turun.

Untuk mengurangi ketidaknyamanan setelah suntik vaksin, dapat dipertimbangkan untuk pemberian parasetamol 15 mg/kgbb kepada bayi/anak setelah imunisasi, termasuk setelah vaksinasi DPT. Kemudian dilanjutkan setiap 3-4 jam sesuai kebutuhan, maksimal 4 kali dalam 24 jam.

Pemberian obat ini juga sebaiknya dilakukan berdasarkan anjuran dari dokter ya, Bunda. Jika keluhan masih berlanjut dan reaksi-reaksi tersebut menetap atau justru semakin berat, jangan ragu juga untuk segera berkonsultasi ke dokter. 

Itulah penjelasan tentang vaksin DPT untuk bayi. Mulai dari penyakit yang bisa dicegah, jadwal pemberian, hingga reaksi yang mungkin terjadi. Jangan lupa selalu cek jadwal imunisasi Si Kecil agar tidak terlewat ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir/fir)

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online