loading...
Ketika sebuah mitos diyakini memiliki kekuatan menentukan nasib seseorang, maka keyakinan tersebut dapat menggeser tauhid yang menjadi fondasi utama ajaran Islam. Foto ilustrasi/ist
Mitos dan khurafat masih menjadi bagian dari kehidupan sebagian masyarakat Indonesia, terutama di daerah yang tradisi dan budaya lokalnya masih kuat. Meski ilmu pengetahuan berkembang pesat, tidak sedikit orang yang masih mempercayai berbagai pantangan, hari baik, hingga pertanda kesialan yang diwariskan secara turun-temurun.
Dalam Islam, persoalan ini berkaitan langsung dengan kemurnian akidah . Sebab, ketika sebuah mitos diyakini memiliki kekuatan menentukan nasib seseorang, maka keyakinan tersebut dapat menggeser tauhid yang menjadi fondasi utama ajaran Islam.
Apa Itu Mitos dan Khurafat?
Mitos atau takhayul adalah keyakinan terhadap sesuatu yang tidak memiliki dasar yang jelas, baik secara syariat maupun logika. Sementara khurafat merupakan kepercayaan yang bersumber dari cerita-cerita tanpa landasan kebenaran, tetapi terus dipercaya dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Contohnya cukup banyak di tengah masyarakat. Ada yang meyakini hari tertentu sebagai hari paling baik untuk menikah, membangun rumah, membuka usaha, atau bepergian. Sebagian lagi percaya bahwa menyapu pada malam hari dapat menyebabkan kemiskinan, atau berbagai pantangan bagi ibu hamil yang diyakini memengaruhi keselamatan janin.
Baca juga: Mitos-mitos di Masyarakat dalam Pandangan Hadis Nabi, Simak Yuk!
Kepercayaan-kepercayaan seperti ini umumnya bersumber dari tradisi, termasuk perhitungan hari baik yang dikenal dalam kitab primbon. Meski telah hidup selama ratusan tahun, asal-usul sebagian besar mitos tersebut tidak dapat dipastikan secara ilmiah.
Islam Menolak Tathayyur
Islam datang membawa ajaran tauhid, yaitu keyakinan bahwa hanya Allah SWT yang mengatur seluruh kejadian di alam semesta. Karena itu, seorang Muslim dilarang menggantungkan keberhasilan, kegagalan, keberuntungan maupun kesialan kepada benda, hari, waktu, atau makhluk selain Allah.
Dalam literatur Islam, keyakinan semacam ini dikenal dengan istilah tathayyur, yakni merasa sial atau menentukan nasib berdasarkan pertanda tertentu.
Istilah tersebut berasal dari kebiasaan masyarakat Arab Jahiliyah. Ketika hendak bepergian, mereka melepaskan burung sebagai penentu nasib. Jika burung terbang ke arah tertentu, perjalanan dianggap membawa keberuntungan. Sebaliknya, jika arahnya dianggap buruk, mereka membatalkan perjalanan karena khawatir tertimpa musibah.
Praktik seperti ini kemudian ditolak oleh Rasulullah SAW. Beliau bersabda:
"Bukan termasuk golongan kami orang yang masih melakukan tathayyur (menggantungkan sesuatu kepada pertanda selain Allah)." (HR Al-Bazzar).
.png)




































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/7336618/original/055797600_1780120424-20260530_105918.jpg)






:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8150672/original/053064500_1781004160-ChatGPT_Image_Jun_9__2026__06_20_55_PM.jpg)


:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/8219231/original/099371400_1781078947-AA-4.jpg)

