Obesitas Anak Remaja Bisa Mengubah Otak yang Berkaitan dengan Emosi dan Daya Ingat

4 hours ago 2

Obesitas merupakan gangguan kesehatan kronis yang masih sering disepelekan, baik pada orang dewasa maupun anak-anak. Padahal, selain berdampak pada tubuh, penyakit ini juga dapat memengaruhi perkembangan otak serta kemampuan kognitif terutama pada anak remaja.

Berdasarkan data dari News Medical, angka obesitas pada anak remaja meningkat lebih dari empat kali lipat secara global sejak tahun 1990 hingga 2022. Pada remaja perempuan naik dari 1,7 persen menjadi 6,9 persen, sedangkan pada remaja laki-laki, dari 2,1 persen menjadi 9,3 persen.

Kenaikan angka obesitas ini turut memicu berbagai risiko kesehatan, mulai dari penyakit kardiovaskular hingga diabetes, dan kanker. Tak hanya itu, lonjakan kasus obesitas yang signifikan ini dikhawatirkan dapat menghambat tumbuh kembang anak di masa remaja, Bunda

Benar saja, sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa obesitas dapat meningkatkan risiko gangguan perkembangan otak dan emosi sejak usia 13-14 tahun. Hal ini tentu menjadi perhatian bagi orang tua, sebab masa remaja merupakan fase yang sangat berharga dalam tumbuh kembang anak.

Studi tentang kaitan obesitas anak dengan perkembangan otak

Dalam Kongres Obesitas Eropa (ECO 2025), sebuah penelitian mengungkap bahwa obesitas, khususnya obesitas perut, dapat menyebabkan pembesaran pada beberapa bagian otak. Perubahan ini diketahui tampak jelas pada hipokampus dan amigdala, Bunda.

Kedua bagian otak tersebut berperan penting dalam mengasah daya ingat dan pengendalian emosi seseorang. Oleh karena itu, para ahli mengingatkan bahwa perubahan yang tidak normal patut diwaspadai sebab akan mengganggu fungsi kognitif dan emosional seorang anak, Bunda.

"Temuan kami menunjukkan bahwa obesitas perut, dapat mengganggu pembelajaran, daya ingat, dan pengendalian emosi remaja. Saya khawatir tentang bagaimana perubahan-perubahan ini, yang terjadi pada usia 13 atau 14 tahun, dapat memengaruhi mereka di kemudian hari," kata peneliti utama, Dr. Augusto César F. De Moraes.

Temuan serupa juga diungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Universitas Yale. Studi mereka menunjukkan bahwa anak-anak dengan berat badan berlebih, cenderung mengalami perubahan pada struktur dan fungsi otak, seperti menipisnya lapisan luar otak dan kurang optimalnya konektivitas antarbagian otak.

Kondisi-kondisi tersebut dapat berdampak pada kemampuan berpikir, pengambilan keputusan, hingga prestasi akademik seorang anak. Menurut para ahli, perubahan tersebut dapat dialami anak sejak mereka berusia 9 hingga 10 tahun, Bunda.

Hasil studi terkait bagian otak yang mengalami perubahan

Untuk memahami dampak obesitas pada perkembangan otak anak, Dr. De Moraes bersama tim peneliti dari berbagai negara, menganalisis data dari 3.320 peserta di studi ABCD (Adolescent Brain Cognitive Development). Mereka mengamati perkembangan otak dan kesehatan para peserta selama beberapa tahun.

Para peserta dalam penelitian ini rata-rata berusia 9,9 tahun, Bunda. Mereka dikategorikan berdasarkan kondisi berat badan dan lingkar pinggang. Namun sayangnya, sekitar 34,6 persen peserta termasuk dalam kategori obesitas perut.

Melalui pemindaian MRI, para peneliti menemukan bahwa anak dengan obesitas perut memiliki ukuran hipokampus dan amigdala yang lebih besar dari teman sebayanya. Hipokampus yang ditemukan lebih besar sekitar 6,6 persen, sementara amigdala lebih besar sekitar 4,3 persen.

Selain itu, bagian otak lain seperti talamus dan kaudatus juga mengalami peningkatan ukuran, meski tidak sebesar hipokampus dan amigdala. Temuan ini membuktikan bahwa obesitas mampu memengaruhi lebih dari satu bagian otak pada anak, Bunda.

Bagaimana pengaruh bagian otak yang tidak normal terhadap tumbuh kembang anak

Berikut beberapa dampak yang dapat terjadi akibat obesitas yang memengaruhi perubahan struktur otak pada anak, menurut para ahli:

  • Penurunan fungsi otak: Selain memengaruhi struktur otak seperti hipokampus, amigdala, talamus, dan kaudatus, obesitas juga dapat menurunkan fungsi otak. Menurut para ahli, penurunan fungsi kognitif otak juga dapat berdampak pada menurunnya prestasi akademik Si Kecil, Bunda.
  • Konektivitas otak tidak optimal: Pada anak yang obesitas, konektivitas jaringan otak yang berperan dalam mengambil keputusan dan kontrol kognitif cenderung lebih rendah. Kondisi ini dapat memengaruhi kemampuan anak dalam berpikir, memahami, dan mengontrol perilaku.
  • Dampak jangka panjang: Obesitas tidak hanya memberikan dampak jangka pendek, Bunda. Dalam jangka panjang, kondisi ini dikhawatirkan dapat meningkatkan risiko gangguan memori, bahkan memungkinkan anak terkena demensia saat beranjak dewasa.

Meski demikian, para ahli di berbagai studi menegaskan bahwa hubungan antara obesitas dan kesehatan otak masih harus diteliti. Hingga saat ini, belum dapat dipastikan apakah obesitas menjadi penyebab utama atau justru saling berkaitan.

Para ahli sepakat bahwa membentuk kebiasaan hidup sehat sejak dini merupakan langkah yang begitu penting. Selain untuk menjaga kesehatan fisik, upaya ini juga dapat mendukung perkembangan otak anak secara optimal.

Demikian penjelasan mengenai bagaimana obesitas pada anak remaja dapat memengaruhi perkembangan otaknya. Semoga informasi ini bermanfaat, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online