Jakarta -
Pola asuh overprotective adalah kondisi ketika orang tua terlalu banyak melindungi anak dalam berbagai situasi. Hal ini biasanya dilakukan dari keinginan untuk menjaga anak agar tetap aman.
Seorang Bunda dari sembilan anak di Orlando, Florida, Jenn Hoskins, mengakui bahwa dirinya dahulu termasuk orang tua yang overprotective. Ia merasa selalu perlu melindungi anak-anaknya dari hal yang dianggap berbahaya.
"Di tahun-tahun awal, saya sering melindungi anak-anak saya dari apa pun yang saya anggap berbahaya," ujar Hoskins, dikutip dari laman Parents.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun seiring waktu, ia mulai menyadari bahwa anak juga perlu belajar menghadapi situasinya sendiri, Bunda.
"Yang belum saya pahami adalah bahwa pada akhirnya mereka perlu tahu bagaimana menghadapi hal-hal itu sendiri," ungkapnya.
Pembahasan ini juga didukung oleh penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Child Development. Studi tersebut membahas mengenai dampak dari pola asuh yang overprotective terhadap perkembangan anak.
Hasilnya menunjukkan bahwa anak bisa menjadi lebih bergantung dan memiliki rasa percaya diri yang lebih rendah. Enggak cuma itu, anak yang sudah remaja pun merasa kondisi emosional mereka kurang stabil saat terlalu diawasi oleh orang tua.
Mengenal pola asuh overprotective
Menilik dari laman Parents, pola asuh overprotective diartikan sebagai kondisi ketika orang tua terlalu ingin berada dekat dan mengawasi setiap langkah anak.
Ketika dilihat dari keseharian, pola ini tampak seperti orang tua yang cepat turun tangan saat anak menghadapi masalah. Hal ini mirip dengan pola "helicopter parenting" atau pola asuh orang tua yang terlalu protektif.
Studi menjelaskan bahwa pola asuh overprotective merupakan perilaku yang ditandai dengan kontrol berlebihan dan pembatasan kemandirian anak. Kondisi ini bikin mereka jadi kurang leluasa dalam mengambil keputusan.
"Perlindungan berlebihan dapat menyebabkan orang tua ikut campur lebih dari yang dibutuhkan atau diinginkan, sehingga berisiko menimbulkan frustrasi terhadap kebutuhan psikologis dasar remaja," tulis studi tersebut.
Dalam praktiknya, situasi ini kerap memicu ketegangan antara Bunda yang ingin melindungi dan anak yang mulai ingin mandiri. Perbedaan ini pun bisa menjadi sumber konflik di rumah.
Psikolog ungkap tanda orang tua overprotective
Seorang peneliti pascadoktoral dalam psikologi klinis di Manhattan Psychology Group sekaligus psikolog di Amerika Serikat, Maura Francis, PhD, LP, menjelaskan bahwa pola ini sebenarnya berakar dari kecemasan orang tua.
"Pola pengasuhan yang terlalu protektif, meskipun bermaksud baik, biasanya didorong oleh kecemasan orang tua. Oleh karena itu, hal itu berakar dari keinginan untuk mencegah sebanyak mungkin pengalaman buruk bagi anak mereka," kata Francis.
Berkaitan dengan hal ini, terdapat beberapa tanda yang dapat menunjukkan orang tua terlalu overprotective:
1. Tidak membiarkan anak menghadapi kegagalan kecil
Tidak membiarkan anak mengalami kekecewaan atau kegagalan kecil menjadi salah satu tanda overprotective. Inilah yang membuat mereka jadi kurang terbiasa menghadapi situasi yang tidak sesuai harapan.
2. Terlalu cepat memecahkan masalah anak
Terlalu sering memecahkan masalah anak tanpa memberi kesempatan mereka mencoba sendiri juga termasuk ciri pola asuh ini. Akibatnya, anak menjadi tidak mandiri untuk mengambil keputusan.
3. Mengerjakan tugas anak
Orang tua yang mengerjakan tugas anak demi menghindari rasa stres atau konflik juga bisa menjadi tanda overprotective. Cara ini mungkin terlihat membantu ya, tetapi ternyata bisa mengurangi kemandirian anak.
4. Pengawasan yang berlebihan
Selanjutnya, pengawasan yang terlalu ketat alias berlebihan untuk menghindari semua risiko juga termasuk tanda lainnya, Bunda.
5. Terlalu ikut campur kehidupan anak remaja
Terlalu ikut campur dalam kehidupan anak remaja, bahkan pada hal-hal yang seharusnya sudah bisa mereka kelola sendiri. Hal ini juga menjadi tanda orang tua overprotective.
6. Ingin anak menjadi sosok yang "sempurna"
Salah satu tanda orang tua overprotective bisa terlihat dari keinginan yang terlalu besar untuk membentuk anak menjadi sosok yang dianggap "sempurna".
Sebenarnya, kata "sempurna" ini bisa jadi beban tersendiri bagi orang tua maupun anak. Akhirnya, anak lebih sering diarahkan untuk memenuhi harapan orang tua, bukan berkembang sesuai dirinya sendiri.
Profesor dan psikolog di Baylor College of Medicine, Eric Storch, PhD, menjelaskan bahwa sebagian orang tua menjadi terlalu protektif karena dorongan tersebut.
"Masyarakat juga cukup suka menghakimi, jadi beberapa orang tua mungkin terlalu protektif untuk membesarkan anak-anak yang mewujudkan sosok anak yang 'ideal' apa pun itu," katanya.
Mengatasi sikap overprotective dalam mengasuh anak
Jika Bunda merasa pola ini ada dalam cara mengasuh Si Kecil, maka tidak perlu khawatir, ya. Perubahan kecil saja sudah bisa membuat hubungan dengan anak jadi lebih baik.
Menurut psikolog Francis, langkah awal bisa dimulai dari hal yang sederhana. Ia menyarankan orang tua untuk menyesuaikan cara mendampingi anak sesuai tahap perkembangannya.
"Seiring perkembangan kebutuhan psikologis anak-anak, seperti otonomi dan kompetensi, akan bermanfaat bagi orang tua untuk menyesuaikan pola pengasuhan mereka guna mendukung anak-anak dengan mengizinkan mereka mengalami hambatan dan ketidaknyamanan kecil yang sesuai dengan usia mereka," katanya.
Storch juga sependapat dengan hal ini. Ia mengatakan bahwa perubahan tidak harus langsung besar. Orang tua bisa mulai dengan memberi ruang lebih bagi anak untuk mencoba menyelesaikan masalahnya sendiri.
"Ketika menghadapi hal-hal besar, lakukan langkah-langkah kecil. Misalnya, berikan ruang yang lebih luas bagi anak-anak untuk mengeksplorasi dan memecahkan masalah sendiri," katanya.
"Amati dan pelajari bagaimana mereka melakukannya ketika diberi kesempatan," lanjutnya.
Perlu diketahui, pendekatan ini bukan berarti orang tua melepaskan peran sepenuhnya. Justru ini tentang memberi ruang supaya anak bisa belajar sesuai usianya.
Itulah penjelasan psikolog mengenai tanda orang tua yang terlalu overprotective yang bisa membuat anak menjadi kurang mandiri.
Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)
.png)
7 hours ago
7
















































