Samsung Dikabarkan Naikkan Harga DRAM dan NAND hingga 10%

9 hours ago 10

Selular.ID – Samsung Electronics dikabarkan tengah menegosiasikan kenaikan harga chip memori DRAM dan NAND untuk produsen smartphone sebesar 7% hingga 10%.

Rencana tersebut disebut berasal dari divisi Device Solutions (DS) Samsung Electronics dan pertama kali dilaporkan media Korea Selatan Sisa Journal, dengan produsen smartphone China menjadi pihak yang lebih dahulu menjalani negosiasi pada September 2026.

DRAM merupakan jenis memori yang digunakan sebagai ruang kerja sementara untuk menjalankan aplikasi, sedangkan NAND Flash menjadi komponen utama untuk penyimpanan internal seperti kapasitas 128GB, 256GB, atau 512GB pada smartphone.

Kenaikan harga kedua komponen tersebut berpotensi menambah beban biaya produksi perangkat, terutama pada ponsel dengan konfigurasi RAM dan penyimpanan yang lebih besar.

Menurut laporan yang beredar, Samsung Electronics disebut akan melanjutkan pembicaraan dengan Apple pada kuartal IV 2026, periode Oktober hingga Desember.

Divisi smartphone Samsung juga dikabarkan tidak dikecualikan dari penyesuaian harga karena bisnis semikonduktor dalam divisi DS dan bisnis perangkat konsumen dalam divisi Device eXperience (DX) beroperasi sebagai unit bisnis yang terpisah.

Tonton juga:

Video Rekomendasi Untuk Anda

Harga Memori Terus Meningkat

Kabar mengenai kenaikan harga baru tersebut muncul ketika harga memori smartphone sudah mengalami peningkatan sepanjang 2026.

TrendForce pada Agustus 2026 memperkirakan harga kontrak mobile DRAM pada kuartal III 2026 naik sekitar 8% hingga 13% secara kuartalan.

Kenaikan tersebut lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya, antara lain karena harga sudah berada pada level tinggi dan produsen smartphone mulai lebih berhati-hati dalam melakukan pengadaan.

TrendForce sebelumnya memperkirakan harga kontrak DRAM konvensional pada kuartal III 2026 meningkat 13% hingga 18% dibandingkan kuartal sebelumnya.

Sementara harga NAND Flash diproyeksikan naik 10% hingga 15%. Lembaga riset tersebut menyebut permintaan dari pusat data AI tetap menjadi salah satu faktor utama yang menopang harga memori, sementara permintaan dari pasar konsumen mulai menghadapi batas kemampuan menyerap kenaikan harga.

Tekanan terhadap smartphone juga sudah terlihat sejak paruh pertama 2026. TrendForce mencatat kenaikan harga mobile DRAM secara beruntun membuat produsen smartphone menghadapi biaya komponen yang semakin tinggi.

Kondisi tersebut mendorong sejumlah produsen meninjau kembali konfigurasi memori pada perangkat, termasuk kecenderungan penggunaan 12GB sebagai konfigurasi umum di segmen premium dan 8GB di kelas menengah.

AI Berebut Kapasitas Produksi Memori

Salah satu faktor utama di balik kondisi tersebut adalah meningkatnya permintaan memori untuk infrastruktur kecerdasan buatan (AI). Pusat data AI membutuhkan berbagai jenis memori berperforma tinggi, termasuk High Bandwidth Memory (HBM), DRAM server, serta SSD perusahaan berbasis NAND.

Samsung Electronics sendiri menyatakan bisnis Memory pada semester kedua 2026 memperkirakan permintaan kuat dari sektor server seiring berlanjutnya investasi infrastruktur AI dan meningkatnya penggunaan AI agent.

Samsung juga memperkirakan pertumbuhan permintaan server DRAM, enterprise SSD, dan HBM akan semakin cepat.

Strategi tersebut terlihat dari arah bisnis Samsung Electronics. Dalam laporan kinerja kuartal II 2026, Samsung menyebut Memory Business mencatat rekor pendapatan dan laba operasional kuartalan. Bisnis tersebut memprioritaskan produk server sekaligus meningkatkan penjualan HBM4 untuk memenuhi permintaan AI.

Samsung juga memperluas portofolio memori yang berkaitan dengan AI. Pada Agustus 2026, perusahaan memperkenalkan V10 Bonding V-NAND atau BV-NAND, teknologi NAND generasi berikutnya yang memiliki lebih dari 400 lapisan dan dirancang untuk meningkatkan kepadatan serta performa penyimpanan bagi beban kerja AI.

Biaya RAM dan Storage Smartphone

Data Omdia yang dikutip dalam laporan mengenai harga memori menunjukkan kenaikan biaya komponen yang cukup besar.

Untuk kombinasi smartphone dengan RAM 8GB dan penyimpanan 256GB, biaya gabungan memori disebut berada di sekitar US$35 pada kuartal III 2025. Angka tersebut meningkat menjadi US$109 pada kuartal I 2026 dan US$132 pada kuartal II.

Omdia memperkirakan biaya kombinasi 8GB/256GB mencapai US$140 pada kuartal III 2026 dan US$144 pada kuartal IV.

Untuk konfigurasi lebih tinggi 12GB/512GB, estimasi biaya gabungan mencapai US$202 pada kuartal III dan US$206 pada kuartal IV 2026. Angka tersebut merupakan biaya komponen RAM dan penyimpanan, bukan harga jual smartphone secara keseluruhan.

Kenaikan harga komponen tidak otomatis berarti harga smartphone di pasar akan meningkat dengan persentase yang sama.

Produsen dapat menyerap sebagian kenaikan biaya melalui margin, melakukan penyesuaian spesifikasi, mengubah strategi pengadaan, atau meneruskan sebagian biaya kepada konsumen. Dampaknya juga dapat berbeda menurut kelas perangkat dan struktur biaya masing-masing produsen.

Bagi Samsung Electronics, kondisi ini menciptakan dinamika khusus karena perusahaan memiliki bisnis semikonduktor sekaligus bisnis smartphone.

Divisi DS bertindak sebagai pemasok memori, sementara divisi DX menangani perangkat konsumen.

Laporan mengenai negosiasi harga tersebut menyebut bisnis smartphone Samsung juga akan menghadapi harga komponen yang ditetapkan bisnis memorinya.

Tekanan biaya juga tercermin dalam laporan Samsung Electronics untuk kuartal II 2026. Perusahaan mencatat bisnis DX mengalami penurunan laba operasional yang antara lain dikaitkan dengan kenaikan biaya komponen di industri.

Di sisi lain, bisnis Memory mencatat kinerja kuartalan tertinggi setelah memanfaatkan kuatnya permintaan terkait AI dan tren kenaikan harga memori.

TrendForce memperkirakan tekanan harga memori belum sepenuhnya berakhir. Dalam laporan kuartal III 2026, lembaga riset tersebut menyebut pemasok masih mengalihkan sebagian kapasitas produksi ke produk server dan HBM.

Pergeseran tersebut membantu menjaga pasokan memori untuk perangkat konsumen tetap ketat, meskipun permintaan smartphone dan PC mulai melambat.

Untuk pasar smartphone, perkembangan berikutnya akan bergantung pada hasil negosiasi antara pemasok memori dan produsen perangkat.

Samsung Electronics disebut lebih dahulu bernegosiasi dengan produsen smartphone China, sementara pembicaraan dengan Apple dijadwalkan kembali pada kuartal IV 2026.

Pada saat yang sama, arah produksi memori Samsung tetap berfokus pada segmen server, HBM, dan produk penyimpanan berkapasitas tinggi yang berkaitan dengan ekspansi infrastruktur AI.

Baca Juga: Kehadiran iPhone Duo, Bikin Pasar Hp Lipat Kian Memanas

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online