Jakarta -
Bunda pernah mendengar sindrom Couvade? Istilah ini mengacu pada keluhan yang dialami suami saat istrinya hamil.
Sindrom Couvade atau kehamilan simpatik terjadi ketika suami mengalami gejala kehamilan saat istrinya mengandung. Menurut studi lama yang diterbitkan di Journal of Psychosomatic Obstetrics & Gynecology, antara 11 hingga 65 persen calon ayah mengalami sindrom Couvade.
Dikutip dari BBC, sindrom Couvade dapat bermanifestasi dalam banyak cara, memiliki definisi tidak jelas, dan perkiraan prevalensi yang sangat bervariasi. Misalnya, sebuah studi menemukan bahwa hingga 52 persen ayah di Amerika Serikat mengatakan mereka mengalami beberapa tanda sindrom ini selama kehamilan istrinya, dengan angka serupa dilaporkan di Yordania sebesar 59 persen, dan Thailand sebesar 61 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Studi lain menemukan angka yang lebih tinggi di Polandia dan Tiongkok, di mana tujuh dari 10 calon ayah melaporkan gejala dari sindrom Couvade. Penelitian lain menunjukkan prevalensi mungkin lebih rendah di Swedia yakni 20 persen, dan Rusia sebesar 35 persen.
Perlu diketahui, nama 'couvade' berasal dari kata kerja bahasa Prancis yakni 'couver', yang berarti bersarang, mengerami, atau menetas. Istilah ini pertama kali diterapkan sebagai gejala pada tahun 1800-an oleh seorang antropolog yang bekerja di antara komunitas primitif. Sindrom Couvade paling mungkin muncul pada trimester pertama dan trimester ketiga.
"Bukan hal yang aneh jika pasangan mengalami gejala serupa, atau setidaknya mengeluh tentang hal-hal yang serupa," kata dokter kandungan, Layan Alrahmani, MD, dikutip dari Baby Center.
Penyebab sindrom Couvade
Meski penelitian menunjukkan bahwa Couvade cukup umum terjadi, namun tidak ada klasifikasi resmi yang menyatakannya sebagai gangguan medis. Tak hanya itu, hanya sedikit buku teks medis yang menyebutkan sindrom ini.
"Mekanismenya belum dipahami dengan baik. Mungkin ini adalah cara untuk menyublimasi dan mengatasi masalah emosional, mungkin ada dasar neurobiologisnya. Saya rasa itu belum diketahui," kata psikolog dan direktur Center for Men's Excellence di San Diego, AS, Daniel Singley.
Menurut profesor emeritus psikologi di Universitas Akron di Ohio, AS, Ronald Levant, sindrom Couvade dapat bersifat multifaktorial. Artinya, ada beberapa faktor yang dianggap menjadi penyebab dari sindrom ini, Bunda.
"Sebagian besar peneliti sepakat bahwa sindrom Couvade bersifat 'multifaktorial', yang melibatkan komponen biologis dan psikologis," ujar Levant.
Para ahli juga menyakini bahwa gejalanya mungkin dapat muncul karena stres yang dialami suami karena akan dikaruniai anak. Mereka memanifestasi stres dengan keluhan yang mirip dengan kehamilan.
"Memiliki bayi adalah salah satu tonggak perkembangan paling signifikan dalam kehidupan dewasa," kata psikolog klinis Kevin Gruenberg.
"Hal itu terkadang bisa terasa sangat menegangkan dan melelahkan, jadi Couvade bisa menjadi cara untuk merefleksikan transformasi besar yang sedang terjadi," lanjutnya.
Sementara menurut Alrahmani, faktor fisiologis juga dapat berperan dalam terjadinya sindrom Couvade. Tetapi, faktor ini juga belum sepenuhnya dipahami oleh para pakar, Bunda.
"Ada beberapa data yang menunjukkan bahwa ayah mengalami perubahan kadar hormon selama kehamilan, seperti penurunan testosteron dan peningkatan prolaktin serta oksitosin, atau mungkin ada sesuatu yang belum kita pahami sepenuhnya, seperti feromon," ungkap Alrahmani.
Gejala sindrom Couvade
Gejala sindrom Couvade sama banyaknya dengan keluhan perempuan saat hamil. Gejala dapat berupa fisik atau psikologis. Berikut gejala-gejalanya:
- Sakit perut
- Kecemasan
- Sakit punggung
- Perut kembung dan perut bergas
- Perubahan nafsu makan ( makan lebih banyak atau makan lebih sedikit )
- Sembelit
- Diare
- Pingsan
- Kelelahan
- Takut sendirian
- Merasa hampir menangis
- Merasa tidak berdaya/tidak berharga
- Merasa kesepian
- Merasa kesal
- Merasa stres
- Mengidam makanan
- Merasa bersalah
- Sakit kepala
- Mulas dan gangguan pencernaan
- Insomnia
- Sifat lekas marah
- Kram kaki
- Perubahan suasana hati
- Mual dan muntah
- Mimpi buruk
- Tidak tertarik pada aktivitas biasa
- Masalah kulit
- Sakit gigi
- Penambahan berat badan
- Penurunan berat badan
Cara mengatasi sindrom Couvade
Jika suami mengalami sindrom Couvade, maka mengurangi stres bisa jadi cara untuk mengatasinya. Suami dapat melakukan aktivitas olahraga, istirahat, atau meditasi.
Penggunaan obat juga dapat diterapkan untuk mengurangi beberapa gejala, seperti kecemasan, perut kembung, dan insomnia. Namun, penggunaan obat sebaiknya dikonsultasikan dulu ke dokter ya.
Demikian penyebab dan gejala-gejala sindrom Couvade yang perlu Bunda ketahui. Semoga informasi ini bermanfaat ya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)
.png)
15 hours ago
9

















































