5 Cara Mengubah Anak yang Tidak Tahu Cara Bersyukur Menurut Pakar

5 hours ago 6

Jakarta -

Banyak orang tua berpikir, "Anak saya sekarang jadi kurang menghargai, kenapa seperti tidak tahu terima kasih, ya?" Bunda mungkin juga pernah merasakan hal yang sama dalam keseharian bersama anak.

Di tengah perubahan zaman, cara anak memandang hal-hal memang ikut berubah. Apa yang dahulu dianggap istimewa, sekarang bisa terlihat biasa saja di mata mereka.

Menilik dari laman Your Tango, sebuah studi yang melibatkan 355 ribu siswa SMA dari tahun 1976 hingga 2007 menunjukkan adanya perubahan pola pikir pada generasi muda. Keinginan untuk punya banyak uang dan barang meningkat, sementara dorongan untuk bekerja keras justru menurun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Hal ini membuat sebagian orang tua merasa anak menjadi kurang menghargai apa yang sudah diberikan. Padahal, tak selalu sesederhana itu, karena ada proses dalam cara anak memahami sesuatu.

Bicara soal ini, pakar mengungkap ada beberapa cara yang bisa membantu anak belajar lebih bersyukur dan menghargai hal-hal kecil dalam hidupnya. Simak ulasan selengkapnya berikut ini.

Seorang psikoterapis dan pakar hubungan asal Amerika Serikat, Christina Steinorth-Powell, LMFT, membagikan lima cara untuk membantu anak belajar bersyukur dan mengucapkan terima kasih.

Berikut penjelasan selengkapnya yang dikutip dari Your Tango:

1. Tunjukkan perilaku yang ingin diajarkan pada anak

Anak belajar banyak bukan dari apa yang kita katakan, tapi dari apa yang ia lihat setiap hari. Maka, cara kita bersikap sebagai orang tua sangat berpengaruh pada cara anak memandang sesuatu.

Ilmu pengetahuan menunjukkan anak yang terbiasa bersyukur dan menghargai hal kecil cenderung lebih sehat secara emosional. Mereka juga tidak mudah merasa iri dan bahkan bisa memiliki prestasi belajar yang lebih baik.

Namun, anak tidak tumbuh dari nasihat saja, Bunda. Menurut Christina, mereka sangat mudah meniru apa yang mereka lihat setiap hari dari orang tuanya di rumah.

"Anak-anak sangat memperhatikan perilaku orang tua mereka dan jika mereka melihat orang tua mereka menginginkan mobil terbaru, komputer tercepat, dan mode terkini, kemungkinan besar mereka juga akan menginginkan hal yang sama," tulisnya.

"Lagi pula, buah tidak jatuh jauh dari pohonnya. Jika Anda berpikir, 'Anak saya tidak tahu berterima kasih,' mungkin Anda perlu memeriksa apakah Anda juga demikian," lanjutnya.

2. Mengajak anak terlibat dalam kegiatan sosial

Mengajak anak melakukan kegiatan sosial bisa menjadi pengalaman yang berarti, Bunda. Ada banyak cara yang bisa dilakukan, seperti membuat kue bersama lalu membagikannya ke panti sosial atau orang yang membutuhkan.

Kegiatan seperti ini tidak perlu dibuat sulit, yang penting anak ikut terlibat dan merasakan prosesnya. Saat membantu orang lain, anak akan belajar bahwa berbagi bisa memberikan kebahagiaan tersendiri.

Studi menunjukkan bahwa anak yang terbiasa menjadi sukarelawan cenderung lebih peka terhadap orang lain. Tak hanya fokus pada diri sendiri saja, mereka juga melihat kebutuhan orang di sekitarnya.

3. Jadikan apresiasi sebagai rutinitas dalam keseharian

Rasa syukur sebenarnya adalah kebiasaan yang bisa dibentuk sejak kecil. Anak-anak yang terbiasa merasa senang saat membantu atau berbagi cenderung akan terus mengulangi perilaku baik itu.

Menurut Christina, kegiatan sederhana seperti ini bisa dilakukan setiap hari di rumah. Ia pun membagikan contoh bahwa kebiasaan ini bisa dimulai dari momen makan bersama keluarga.

"Saat Anda duduk bersama anak-anak Anda di meja makan, bergiliranlah menyebutkan satu hal yang Anda syukuri yang terjadi sepanjang hari," ungkap Christina.

"Hal itu tidak harus berupa materi. Bahkan, akan lebih baik jika bukan barang materi, karena hal itu membantu anak-anak belajar bahwa ada lebih banyak hal yang patut disyukuri daripada sekadar barang-barang materi," sambungnya.

4. Ajarkan anak untuk lebih menghargai

Salah satu cara yang bisa dilakukan Bunda untuk menumbuhkan rasa syukur pada anak adalah dengan tidak memberikan terlalu banyak hal. Ketika anak tidak dibiasakan punya semuanya secara berlebihan, mereka akan lebih mudah menghargai apa yang sudah dimiliki.

Jika anak terlalu sering mendapat banyak barang, mereka bisa kehilangan rasa menghargai sesuatu. Sebaliknya, saat ada batasan, anak akan mengerti bahwa tidak semua keinginan harus selalu dipenuhi.

Selain itu, mereka juga perlu diarahkan bahwa memberi itu bukan hanya soal materi saja. Lebih dari itu, yang terpenting adalah kebersamaan dan memberi perhatian kepada orang lain.

Cara yang bisa dicoba adalah membuat hadiah bersama atau merencanakan kegiatan spesial untuk keluarga dan teman.

Mengajak anak menulis catatan "terima kasih" menjadi kebiasaan yang bisa dilakukan di rumah. Meski terlihat sedikit kuno di zaman sekarang, kegiatan ini tetap punya arti yang baik untuk anak.

Lewat kebiasaan ini, anak akan lebih sadar dan menghargai kebaikan yang mereka terima. Kalimat dari anak ternyata juga memberi dampak positif bagi orang yang menerimanya.

"Manfaat tambahannya adalah jika kakek-nenek, teman lain, atau kerabat yang menerima catatan 'terima kasih', itu juga akan membuat hari mereka lebih menyenangkan," kata Christina.

Jika orang tua membiasakan hal ini, lambat laun bukan lagi muncul pikiran, "Anak saya tidak tahu berterima kasih", tapi justru Bunda akan dengan bangga mengatakan, "Anak saya rendah hati dan sangat perhatian,".

Itulah penjelasan terkait cara mengubah anak yang tidak tahu cara bersyukur dan terima kasih menurut pakar. Semoga bisa membantu, ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ndf/fir)

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online