MASSA yang tergabung dalam Aliansi Perempuan Indonesia (API) membawa alat dapur atau alat masak saat demonstrasi di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, Kamis, 18 Juni 2026. Koordinator Lapangan Aksi Perempuan, Afifah, menuturkan alat dapur yang mereka bawa itu punya makna yang dalam, bukan sekadar alat untuk membuat kebisingan di jalan.
Afifah mengatakan, alat dapur merupakan simbol yang tersirat yang menunjukkan bahwa alat-alat tersebut menjadi penopang kerja dunia. Tanpa alat masak atau alat dapur, tak akan ada makanan yang terhidang di meja makan. Tanpa ada alat dapur, kata dia, dunia tak mungkin berjalan.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Tak hanya itu, alat dapur kerap diasosiasikan sebagai alat yang sering dipegang oleh kaum perempuan. “Jadi simbol ini politis sekali sebenarnya. Ini menunjukkan kalau kita, perempuan, tidak akan diam di rumah. Karena kami yang paling merasakan harga cabai naik, harga beras naik, semua harga bahan pokok naik,” kata Afifah saat ditemui di kawasan jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Kamis, 18 Juni 2026.
Alat masak yang mereka pukul hingga mengeluarkan suara bising selama aksi juga sekaligus untuk memberitahu pemerintah bahwa dapur keluarga mereka sudah genting. “Kami enggak mau harga naik. Kami mau harga bahan pokok turun. Itu berhubungan langsung dengan kami yang mengelola kehidupan,” ujarnya.
Beberapa tuntutan yang disampaikan oleh demonstran perempuan selain turunkan harga bahan pokok adalah tuntutan agar pemerintah menghentikan proyek makan bergizi gratis (MBG) dan menuntut pemerintah menyediakan lapangan kerja. Menurut Afifah, seluruh tuntutan itu harus didengar dan harus segera direspons pemerintah.
.png)















































