Aliansi Perempuan Tembus Demo di HI Setelah Diadang Polisi

11 hours ago 7

PARA demonstran perempuan yang tergabung dalam Aliansi Perempuan Indonesia (API) berhasil menembus adangan para polisi untuk demonstrasi di Bundaran Hotel Indonesia (HI). Perwakilan API, Afifah, mengatakan mereka sempat adu mulut dan bentrok dengan polisi karena rute aksi mereka ditutup.

“Kami sudah bilang kepada polisi kami akan berjalan dari Sudirman menuju Bundaran HI, lalu ke Monas, Patung Kuda, dan Istana Negara,” kata Afifah saat ditemui di sekitar jalan Sudirman, Kamis, 18 Juni 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Mulanya mereka telah menentukan rute perjalanan long march mulai dari Jalan Jenderal Sudirman menuju Istana Negara di Jakarta Pusat. Namun, sekitar satu kilometer perjalanan dari titik awal, mereka justru dialihkan ke Jalan Kota Bumi lalu masuk ke gang-gang kecil dan perkampungan.

Setelah mereka melewati jalan-jalan kecil, mereka tiba di jalan besar di persimpangan Grand Indonesia (GI). Polisi kemudian menghadang para demonstran kembali. Di titik itu demonstran perempuan adu mulut dan bentrok. Mereka tak ingin lagi dialihkan dan tetap ingin menuju Bundaran HI.

“Kami sudah keluar jalan kampung, lalu kami diminta untuk berbelok kiri, yang mana itu menjauhi Bundaran HI. Kami enggak mau. Jadi kami paksa ke kanan dan sampailah kami di HI,” kata Afifah.

Afifah bersama demonstran perempuan lainnya yang terdiri dari organisasi perempuan Perempuan Mahardhika, pekerja rumah tangga, dan ibu rumah tangga, menggelar aksi yang menuntut agar proyek makan bergizi gratis (MBG) dihentikan. Selain itu, mereka menuntut agar harga-harga sembako untuk diturunkan. Tuntutan lainnya mereka meminta pemerintah segera menyediakan lapangan kerja sebagaimana yang pernah dijanjikan saat kampanye.

Menurut Afifah, proyek MBG selama ini hanyalah proyek politik. Bukan proyek yang benar-benar bertujuan memberikan gizi untuk anak. “Kami tahu di Badan Gizi Nasional (BGN), elit-elit BGN, dari wakil sampai ketuanya, bukan ahli gizi. Tapi dari keparakan lainnya,” ujarnya.

Karena itu, masyarakat terutama para ibu tak mempercayakan urusan gizi anak mereka diserahkan kepada orang-orang yang tak punya latar belakang ilmu gizi. “MBG hanya membuat siswa keracunan,” kata Afifah.

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online