Amartha Dorong Kesehatan Finansial UMKM Lewat Asia Grassroots Forum

2 hours ago 3

Selular.ID – Amartha menegaskan pentingnya kesehatan finansial atau financial health sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi akar rumput melalui penyelenggaraan The 2026 Asia Grassroots Forum di Jakarta.

Forum bertema “Enabling Growth, Elevating Financial Health” tersebut akan berlangsung pada 3–4 Juni 2026 di Shangri-La Jakarta dan mempertemukan pelaku industri fintech, regulator, akademisi, investor, serta pelaku UMKM untuk membahas penguatan ekonomi inklusif di Indonesia dan Asia.

Melalui forum ini, Amartha ingin mendorong perubahan pendekatan dalam inklusi keuangan, dari sekadar memperluas akses pembiayaan menjadi membangun ketahanan finansial jangka panjang bagi masyarakat akar rumput.

Fokus tersebut dinilai penting karena banyak pelaku UMKM, khususnya perempuan, masih menghadapi tantangan struktural seperti keterbatasan modal, pendapatan yang tidak stabil, hingga kemampuan pengelolaan keuangan usaha dan rumah tangga.

Dalam keterangan resminya pada 20 Mei 2026, Amartha menyebut layanan keuangan digital kini tidak lagi hanya berfungsi sebagai pintu akses pembiayaan, tetapi juga sebagai instrumen untuk membantu masyarakat mengelola arus kas, menghadapi risiko ekonomi, serta menjaga keberlangsungan usaha dalam jangka panjang.

Peran UMKM sendiri masih menjadi tulang punggung ekonomi nasional maupun global.

Tonton juga:

Video Rekomendasi Untuk Anda

Data yang disampaikan Amartha menunjukkan bahwa UMKM secara global mewakili lebih dari 90 persen entitas bisnis, menyerap sekitar 70 persen tenaga kerja, dan berkontribusi sekitar 50 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Di Indonesia, lebih dari 65,5 juta UMKM pada 2025 disebut menyumbang lebih dari 60 persen PDB nasional dan menyerap sekitar 97 persen total angkatan kerja.

Namun, tingginya kontribusi tersebut belum sepenuhnya diikuti kondisi kesehatan finansial yang kuat di tingkat pelaku usaha. Menurut data Center of Economic and Law Studies (CELIOS), akses permodalan masih menjadi tantangan utama bagi sebagian besar UMKM di Indonesia.

Nailul Huda menjelaskan bahwa fintech, termasuk layanan peer-to-peer (P2P) lending, memiliki peran penting dalam menjembatani kebutuhan pembiayaan UMKM secara lebih cepat dan fleksibel.

Meski demikian, ia menilai pembiayaan digital tetap perlu diarahkan untuk kegiatan produktif dan didukung tata kelola yang baik agar mampu membantu UMKM memperluas pasar sekaligus menjaga keberlanjutan bisnis.

Tantangan serupa juga dialami UMKM perempuan yang sering menjalankan peran ganda sebagai pengelola usaha dan keuangan keluarga.

Berdasarkan data International Finance Corporation, UMKM milik perempuan di negara berkembang mewakili sekitar sepertiga dari total UMKM, tetapi masih menghadapi kesenjangan pembiayaan hingga US$1,9 triliun.

Poppy Ismalina menilai pemberdayaan perempuan tidak cukup hanya melalui akses modal, tetapi juga perlu dibarengi peningkatan literasi keuangan, kemampuan pengambilan keputusan, dan akses terhadap layanan keuangan digital yang sesuai kebutuhan.

Menurut Poppy, perempuan yang memperoleh solusi finansial yang relevan cenderung lebih percaya diri dalam mengelola kesehatan finansial keluarga maupun keberlanjutan usaha mereka.

Dalam konteks ekonomi akar rumput, konsep financial health merujuk pada kemampuan individu atau pelaku usaha memenuhi kebutuhan harian, mengelola kewajiban finansial, menghadapi risiko ekonomi, dan memiliki rasa aman terhadap kondisi keuangan masa depan.

Definisi tersebut mengacu pada pendekatan yang dikembangkan oleh United Nations Secretary-General’s Special Advocate for Inclusive Finance for Development (UNSGSA).

Chief Compliance and Sustainability Officer Amartha, Aria Widyanto, mengatakan keberhasilan inklusi keuangan kini tidak lagi hanya diukur dari jumlah masyarakat yang mengakses layanan keuangan, tetapi juga dari kemampuan mereka bertahan dan mencapai kesejahteraan di tengah tekanan ekonomi.

Aria menyebut pembangunan kesehatan finansial membutuhkan kolaborasi lintas sektor untuk menciptakan ekosistem yang terintegrasi dan berkelanjutan, termasuk melalui pemanfaatan teknologi finansial dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Selama lebih dari 16 tahun beroperasi, Amartha mengembangkan pendekatan pemberdayaan UMKM melalui pembiayaan produktif, pendampingan lapangan, dan pemanfaatan teknologi digital.

Dalam laporan keberlanjutan Amartha Sustainability Report 2025, perusahaan mencatat 96 persen peminjam memperoleh keterampilan baru setelah bergabung dengan platform, sementara 94 persen mengalami peningkatan pendapatan.

Selain itu, 91 persen peminjam disebut mampu memisahkan arus kas usaha dan rumah tangga, 82 persen mulai mencatat pemasukan dan pengeluaran secara rutin, dan lebih dari 90 ribu peminjam berhasil merekrut karyawan pertama setelah memperoleh akses pembiayaan.

Melalui The 2026 Asia Grassroots Forum, Amartha juga akan membahas pengembangan pembiayaan inklusif, pemanfaatan fintech dan AI untuk UMKM, serta penguatan kolaborasi lintas sektor guna memperluas dampak ekonomi digital bagi masyarakat akar rumput.

Forum ini menjadi bagian dari strategi Amartha dalam memperkuat ekosistem UMKM yang lebih sehat secara finansial, sekaligus memperluas peran teknologi keuangan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi inklusif di Indonesia dan kawasan Asia.

Baca Juga: Superbank Gaet Amartha Dukung Pertumbuhan Ekonomi Inklusif Di RI

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online