Selular.id – Kehadiran kecerdasan buatan (AI) generatif yang meledak dalam dua tahun terakhir sempat memicu spekulasi bahwa era kejayaan ponsel pintar, khususnya iPhone, akan segera berakhir dan digantikan oleh perangkat bertenaga AI murni.
Namun, pandangan berbeda justru datang dari Aravind Srinivas, CEO Perplexity AI, yang menyatakan bahwa iPhone sama sekali tidak terganggu oleh disrupsi teknologi tersebut.
Dalam sebuah sesi diskusi terbaru yang dikutip kembali dari 9to5mac, Srinivas menegaskan bahwa alih-alih tergeser, posisi iPhone justru semakin kuat karena peran krusialnya sebagai pusat kehidupan digital pengguna yang sulit digantikan oleh perangkat kategori baru manapun.
Optimisme Srinivas ini didasarkan pada data pertumbuhan Apple yang tetap solid meski perusahaan pimpinan Tim Cook tersebut sempat dianggap tertinggal dalam perlombaan fitur AI dibandingkan kompetitornya.
Laporan keuangan kuartal terakhir Apple menunjukkan performa yang memecahkan rekor, mempertegas bahwa ketergantungan konsumen terhadap ekosistem iOS masih sangat tinggi.
Srinivas berpendapat bahwa kemajuan AI justru akan mengubah iPhone menjadi semacam “paspor digital” yang semakin fungsional, di mana kecerdasan buatan berperan sebagai pengolah data di balik layar yang memperkaya pengalaman pengguna tanpa harus mengubah bentuk fisik perangkatnya.
Fenomena ini menarik untuk dicermati karena saat ini banyak muncul perangkat keras khusus AI, seperti Humane AI Pin atau Rabbit R1, yang awalnya diprediksi akan menjadi “iPhone Killer”.
Namun, Srinivas melihat bahwa keunggulan Apple bukan sekadar pada fitur, melainkan pada kepercayaan merek dan integrasi ekosistem yang sudah sangat dalam. Menurutnya, iPhone telah menjadi wadah bagi memori pribadi, catatan kesehatan, hingga transaksi keuangan yang membuatnya memiliki tingkat retensi pengguna yang sangat kuat, sehingga kehadiran model bahasa besar (LLM) justru akan memperkuat nilai tawar perangkat tersebut di mata konsumen global.
Dalam pandangan bisnis yang lebih luas, keterlambatan Apple dalam merombak Siri—asisten virtualnya yang sering dikritik—justru dianggap sebagai langkah strategis yang terukur oleh Srinivas.
Apple memiliki kemewahan untuk bergerak lebih lambat karena mereka menguasai kontrol penuh atas silikon (chipset) dan perangkat keras tambahan seperti Apple Watch dan AirPods.
Keunggulan pada sisi hardware ini memberikan fondasi yang sangat stabil bagi Apple untuk mengintegrasikan solusi AI yang lebih matang tanpa harus terburu-buru mengikuti tren pasar yang masih sangat fluktuatif.
Kekuatan utama iPhone terletak pada fungsinya sebagai hub komunikasi dan identitas digital. Srinivas menekankan bahwa segala sesuatu yang sifatnya personal, mulai dari koleksi foto kenangan hingga akses komunikasi melalui FaceTime, tetap menjadi alasan utama mengapa pengguna enggan berpindah ke perangkat lain.
AI memang bisa menawarkan efisiensi dalam mencari informasi atau menjalankan tugas, namun sentuhan personal dan kemudahan akses yang ditawarkan iPhone selama belasan tahun telah membentuk standar industri yang sulit untuk didisrupsi secara instan oleh teknologi baru.
Selain itu, dominasi Apple pada teknologi chip seri-A dan seri-M memberikan efisiensi daya dan performa yang sangat dibutuhkan untuk menjalankan proses AI secara lokal di perangkat (on-device AI).
Hal ini merupakan keuntungan kompetitif yang tidak dimiliki oleh banyak pengembang perangkat AI baru yang masih sangat bergantung pada pemrosesan di awan (cloud).
Dengan kemampuan menjalankan model AI secara lokal, Apple dapat menjamin privasi data pengguna dengan lebih baik, sebuah nilai jual yang menjadi DNA perusahaan selama satu dekade terakhir dan semakin relevan di tengah kekhawatiran keamanan data AI.
Melihat dinamika ini, masa depan persaingan teknologi tampaknya tidak akan berujung pada matinya ponsel pintar, melainkan pada evolusi ponsel pintar menjadi perangkat yang jauh lebih cerdas.
Srinivas meyakini bahwa loyalitas pengguna terhadap iPhone bukan sekadar soal gaya hidup, melainkan karena fungsionalitas yang sudah menyatu dengan rutinitas harian manusia modern. Dengan dukungan infrastruktur yang masif, Apple diperkirakan akan tetap memimpin pasar asalkan mereka mampu mengintegrasikan kecerdasan buatan sebagai pelengkap, bukan sekadar tempelan fitur semata.
Ke depan, integrasi yang lebih dalam antara perangkat keras Apple dan teknologi AI diharapkan akan membawa perubahan signifikan pada cara pengguna berinteraksi dengan ponsel mereka.
Meski banyak pihak yang menanti langkah besar Apple berikutnya di ajang tahunan seperti WWDC, pernyataan CEO Perplexity ini memberikan perspektif segar bahwa pasar sebenarnya masih sangat percaya pada keberlangsungan iPhone.
Disrupsi yang dibawa AI mungkin mengubah cara kerja aplikasi di dalamnya, namun sebagai perangkat keras yang digenggam setiap hari, iPhone diprediksi tetap menjadi raja di tangan para penggunanya.
Baca juga : Terungkap Perbandingan Kesetiaan Penguna iPhone dan Android
.png)

















































