Selular.ID – Dompet digital atau e-wallet mulai masuk dan muncul di Indonesia pada tahun 2007.
Setelah hampir dua dekade ini, muncul beragam dompet digital di Indonesia, baik dari perusahaan digital hingga perbankan.
Namun banyak juga e-wallet yang akhirnya tenggelam, baik itu tutup maupun masih bertahan hingga kini tapi meredup.
Banyaknya dompet digital yang akhirnya tenggelam ini menandakan persaingan e-wallet di Indonesia ini kian ketat dari tahun ke tahun.
Baca juga:
- Persaingan Dompet Digital Kian Ketat, Gen Z Jadi Motor
- Dua e-Wallet Terbesar Indonesia Buka Suara Soal Tudingan Terlibat Judol
Selain itu, pangsa pasar dompet digital juga akhirnya mengerucut ke hanya beberapa pilihan yang dirasa sudah memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.
Penasaran dengan dompet digital mana saja yang berdiri dan akhirnya tutup maupun yang masih bertahan namun meredup di Indonesia?
Selular telah merangkum dompet digital yang tenggelam di Indonesia, baik itu yang tutup maupun yang sudah meredup meski masih bertahan.
E-Wallet yang Resmi Ditutup (Berhenti Beroperasi)
T-Cash
T-Cash merupakan dompet digital pertama di Indonesia yang lahir sejak tahun 2007 dari rahim Telkomsel.
Namun T-Cash kini sudah tiada dan telah resmi bertransformasi dan melebur menjadi LinkAja sejak Februari 2019.
Pengelolaan T-Cash dialihkan dari Telkomsel ke PT Fintek Karya Nusantara (Finarya) untuk membentuk LinkAja bersama konsorsium server keuangan BUMN.
Langkah ini dilakukan untuk menyatukan berbagai layanan uang elektronik milik bank dan perusahaan pelat merah agar bisa bersaing secara nasional.
Saldo serta akun T-Cash pengguna lama secara otomatis dipindahkan dan dapat diakses melalui aplikasi LinkAja setelah melakukan pembaruan atau migrasi sistem.
XL Tunai
Serupa T-Cash, XL Tunai juga merupakan pioneer dompet digital di Indonesia yang berdiri di tahun 2007.
Namun, PT XL Axiata Tbk menghentikan layanan uang elektronik ini setelah mendapat persetujuan dan pengawasan dari Bank Indonesia.
Mulai 1 November 2020, sisa saldo pengguna yang belum ditarik dialihkan secara otomatis menjadi pulsa XL atau AXIS.
Persaingan dompet digital yang semakin ketat membuat operator seluler mulai meninggalkan bisnis uang elektronik mandiri.
PayTren
Aplikasi pembayaran digital besutan Ustaz Yusuf Mansur ini sempat sangat populer.
Namun, setelah sempat dibekukan dan menghadapi berbagai masalah operasional serta regulasi, PT Paytren Aset Manajemen resmi ditutup setelah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencabut izin usahanya.
OY! Indonesia (Aplikasi Konsumen/B2C)
Aplikasi OY! Indonesia secara resmi menonaktifkan seluruh aktivitas transaksi pada aplikasi konsumennya.
Keputusan ini diambil karena perusahaan memilih mengubah fokus bisnis sepenuhnya ke layanan keuangan korporasi atau Business-to-Business (B2B) melalui OY! Business.
TokoCash (Tokopedia)
TokoCash merupakan dompet digital internal milik Tokopedia yang dirintis pada tahun 2017.
Layanan ini sempat dibekukan oleh Bank Indonesia (BI) karena masalah perizinan.
Alih-alih melanjutkan TokoCash, Tokopedia akhirnya memilih bermitra dan menggantinya secara permanen dengan OVO sebagai metode pembayaran utama kala itu.
BukaDompet (Bukalapak)
Hampir sama dengan nasib TokoCash, BukaDompet ditangguhkan fitur isi saldonya oleh Bank Indonesia karena floating fund yang dihimpun belum mengantongi lisensi resmi.
Bukalapak kemudian menutup layanan ini secara permanen untuk konsumen ritel dan mengalihkan sistem pembayarannya lewat kerja sama dengan dompet digital DANA.
E-Wallet yang Meredup (Pangsa Pasar Mengecil)
Selain dompet digital yang sudah tumbang alias tutup, ada juga e-wallet yang punya nama besar tetapi sinarnya mulai meredup.
LinkAja
Dompet digital milik gabungan konsorsium BUMN (PT Fintek Karya Nusantara) ini awalnya digadang-gadang menjadi penantang berat GoPay dan OVO.
Meski masih beroperasi, popularitas dan pengguna aktif LinkAja meredup signifikan dibandingkan era awal peluncurannya, kalah bersaing secara masif dalam penetrasi pasar sehari-hari oleh DANA dan ShopeePay.
Sakuku (BCA)
Sebagai e-wallet keluaran salah satu bank swasta terbesar, Sakuku kurang agresif dalam melakukan bakar uang (cashback atau promo) dibandingkan kompetitor independen.
Penggunaannya saat ini cenderung meredup atau tersegmentasi hanya di kalangan nasabah tertentu saja, terlebih karena fungsi transaksi nontunai kini sudah melekat kuat di aplikasi mobile banking utama (BCA Mobile/myBCA).
.png)




































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9334902/original/057214100_1787904674-1000420049.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5255296/original/097406900_1750154745-1.jpg)






:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9329100/original/079520900_1787219656-ChatGPT_Image_Aug_13__2026__03_10_41_PM.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9293885/original/003140100_1783758261-10-10.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9306202/original/096117800_1784867490-vietnam_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425119/original/084956400_1764214528-ze_1.jpg)
