Demonstrasi Mahasiswa Juga Digelar di Solo dan Semarang

17 hours ago 4

GELOMBANG demonstrasi mahasiswa menuntut evaluasi kebijakan pemerintah terjadi di sejumlah daerah pada Jumat, 12 Juni 2026, termasuk di Surakarta (Solo) dan Semarang, Jawa Tengah.

Di Solo, ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi yang tergabung dalam Aliansi BEM Solo Raya berunjuk rasa di depan Gedung DPRD Kota Solo. Mereka menyuarakan tuntutan mulai dari evaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga pencabutan revisi Undang-Undang Kepolisian Negara Republik Indonesia (UU Polri).

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Massa mulai berkumpul sejak sore dan bergantian menyampaikan orasi. Mereka menilai kondisi ekonomi nasional membutuhkan perhatian serius, terutama terkait melemahnya daya beli masyarakat dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Salah satu peserta aksi, Arif Ainurjaya, mengatakan pemerintah perlu meninjau ulang program-program berbiaya besar di tengah situasi ekonomi yang menantang.

“Kami meminta pemerintah mengevaluasi program yang memerlukan anggaran besar dan memprioritaskan pemulihan ekonomi,” kata Arif.

Selain itu, demonstran juga menyoroti pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan mendesak pemerintah segera mengambil langkah untuk menjaga stabilitas ekonomi.

Dalam aksi tersebut, mahasiswa turut menolak revisi UU Polri yang dinilai berpotensi mempersempit ruang sipil dan memperluas kewenangan aparat. Mereka meminta pemerintah dan pembentuk undang-undang meninjau kembali regulasi tersebut.

Sejumlah pimpinan DPRD Kota Solo menemui massa. Ketua DPRD Kota Solo Budi Prasetyo menyatakan akan meneruskan aspirasi mahasiswa ke pihak terkait.

Aksi sempat diwarnai ketegangan setelah beredar kabar dua peserta digelandang aparat. Namun, situasi kembali kondusif setelah komunikasi antara demonstran dan kepolisian. Polresta Surakarta membantah adanya penahanan.

“Kami pastikan tidak ada yang diamankan. Massa membubarkan diri dengan tertib,” kata Kepala Seksi Humas Polresta Surakarta Ajun Komisaris Lingga Ramadhani.

Polisi mengerahkan sekitar 490 personel gabungan untuk mengamankan aksi. Rekayasa lalu lintas juga diterapkan di sekitar DPRD guna mengantisipasi kepadatan kendaraan.

Hingga pukul 17.30 WIB, situasi dilaporkan aman dan terkendali. Massa membubarkan diri secara bertahap tanpa insiden berarti.

Gelombang aksi serupa juga terjadi di Semarang. Ratusan mahasiswa menggelar demonstrasi di depan kompleks Kantor Gubernur Jawa Tengah dan DPRD Jawa Tengah di Jalan Pahlawan.

Massa mulai berkumpul sekitar pukul 16.20 WIB dan menyampaikan orasi secara bergantian. Ketua BEM Universitas Diponegoro Nur Maajid menilai kinerja pemerintah memburuk di tengah tekanan ekonomi.

“Krisis ekonomi sudah di depan mata. Apa lagi yang ditunggu pemerintah selain menyelesaikan persoalan ini,” kata Maajid.

Mahasiswa menyoroti lonjakan utang pemerintah serta pelemahan nilai tukar rupiah yang disebut mencapai Rp18.201 per dolar AS pada 8 Juni 2026.

Dalam aksinya, mereka menuntut evaluasi program MBG, penurunan harga bahan bakar minyak, reformasi TNI-Polri, serta penguatan nilai tukar rupiah.

Maajid mengatakan aksi lanjutan akan digelar jika pemerintah Prabowo-Gibran tidak merespons tuntutan tersebut. Demonstrasi dengan tuntutan serupa juga berlangsung di sejumlah kota lain, termasuk Jakarta.

Jamal Abdun Nashrberkontribusi dalam penulisan artikel ini.

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online