Dudung Abdurachman: Jangan Samakan Kritik dengan Provokasi

9 hours ago 8

KEPALA Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman mewanti-wanti masyarakat untuk lebih bijaksana dalam menyampaikan kritik. Bagi Dudung, rakyat harus bisa membedakan kritik yang konstruktif dengan tindakan provokatif.

“Jangan samakan kritik dengan provokasi, fitnah, dan adu domba yang dapat merusak persaudaraan kita sebagai bangsa,” ujar Dudung melalui keterangan video yang diunggah pada Instagram @kantorstafpresidenri, Jumat, 12 Juni 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Dudung mengklaim pemerintah membuka ruang bagi rakyat untuk memberikan masukan. “Karena kritik adalah napas demokrasi yang harus membangun bukan meruntuhkan,” katanya. 

Dalam keterangannya, mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat ini juga mengingatkan sejarah lahirnya Indonesia. Menurut Dudung, Indonesia tumbuh dari sejarah panjang, luka yang dalam, air mata, pengorbanan, dan darah pendiri bangsa. 

Dia menyinggung berbagai pemberontakan yang pernah terjadi, seperti pemberontakan Partai Komunis Indonesia di Madiun, Gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia alias DI/TII, pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS), hingga Gerakan 30 September. 

“Akhirnya rangkaian sejarah Indonesia sampai dengan saat ini, hendaknya dapat dijadikan tonggak atau introspeksi untuk menjadi Indonesia yang adil, makmur, berdaulat, dan bermartabat,” kata Dudung.

Dudung menyebut pemerintahan Presiden Prabowo Subianto bekerja membangun Indonesia yang lebih kuat, adil, dan bermartabat. "Mari kita bersama sebagai bangsa Indonesia, merapatkan barisan dan merawat persatuan untuk menuju Indonesia Emas 2045,” ujarnya. 

Pernyataan Dudung dikeluarkan seiring rencana aksi besar dari mahasiswa bertajuk #menujuindonesiabangkrut yang diikuti BEM UI dan aliansi mahasiswa universitas lainnya.

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia atau BEM UI Yatalathof Ma'shum Imawan mengatakan sebanyak 1.000 mahasiswa UI bakal mengikuti aksi Menuju Indonesia Bangkrut di Bundaran HI Jakarta siang ini, Jumat, 12 Juni 2026.

"Jumlah massa dari sekitar Depok ini ada 1.000, dan misalkan jika digabung dengan yang lain bisa menyentuh 3.000," kata Athof, sapaannya, di Lapangan Parkir FISIP UI, Kampus UI, Depok.

Sejumlah mahasiswa menyiapkan sejumlah atribut aksi, salah satunya spanduk yang ditulis menggunakan cat semprot warna hitam dan merah. Beberapa spanduk, di antaranya bertuliskan kalimat "Menuju Indonesia Bangkrut", kemudian "Gibran Raka Bullshit", "Setop MBG", juga ada " Sweet 18 Rupiah ku" dan lainnya.

Mahasiswa kini sudah berada di Bundaran HI dan dihadang oleh aparat kepolisian dan TNI. Polisi mengatakan Bundaran HI bukan tempat demonstrasi. Mahasiswa diminta untuk berunjuk rasa ke DPR.

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online