Fitur Latihan Kekuatan di Strava Kini Terintegrasi AI

4 hours ago 4

Selular.ID – Strava mengumumkan pembaruan besar pada pengalaman latihan kekuatan di platformnya dengan menghadirkan integrasi mitra yang lebih luas, log latihan baru, peta otot otomatis, serta format berbagi aktivitas yang diperbarui.

Pembaruan yang diumumkan pada 21 Mei 2026 di San Francisco ini menjadi bagian dari strategi Strava untuk memperkuat dukungan terhadap aktivitas strength training yang pertumbuhannya terus meningkat di platform.

Perusahaan menyebut latihan kekuatan kini menjadi salah satu kategori olahraga dengan pertumbuhan tercepat di Strava.

Sepanjang 2025, pengguna tercatat mengunggah lebih dari 500 juta aktivitas latihan kekuatan ke platform tersebut.

Tren ini mendorong Strava memperluas ekosistem fitur agar pengguna dapat mencatat, melacak, dan membagikan progres latihan secara lebih detail, layaknya pengalaman yang sebelumnya tersedia untuk olahraga lari dan bersepeda.

Matt Salazar mengatakan kebutuhan pengguna terhadap pengalaman latihan kekuatan yang lebih lengkap menjadi alasan utama perusahaan melakukan pembaruan.

Tonton juga:

Video Rekomendasi Untuk Anda

“Latihan kekuatan telah menjadi salah satu jenis olahraga dengan pertumbuhan tercepat di Strava dalam beberapa waktu terakhir. Pada tahun 2025 saja, ada lebih dari 500 juta unggahan dari aktivitas ini. Para pengguna pun telah menyampaikan dengan jelas apa yang mereka butuhkan dari kami,” ujar Matt Salazar.

Menurut Strava, pembaruan tersebut merupakan tahap awal dari investasi jangka panjang perusahaan dalam pengembangan fitur strength training.

Fokusnya tidak hanya pada pencatatan aktivitas, tetapi juga integrasi data kesehatan, komunitas, hingga visualisasi progres pengguna.

Salah satu pembaruan utama adalah integrasi dengan 14 mitra kebugaran dan wearable yang kini dapat terhubung langsung ke ekosistem Strava. Mitra tersebut mencakup Garmin, COROS, WHOOP, Fitbod, Hevy, hingga Amazfit.

Integrasi ini memungkinkan data latihan kekuatan dari berbagai aplikasi dan perangkat dikirim otomatis ke Strava tanpa proses input manual.

Strava menyebut pembaruan sistem pengembang atau developer tools turut dilakukan agar sinkronisasi data antarplatform menjadi lebih komprehensif.

Dengan pendekatan ini, pengguna dapat melihat aktivitas strength training berdampingan dengan data olahraga lain dalam satu ekosistem yang sama.

Selain integrasi perangkat, Strava juga memperkenalkan fitur Auto-Filled Muscle Maps atau peta otot otomatis.

Fitur tersebut menampilkan visual kelompok otot yang dilatih berdasarkan jenis gerakan dan latihan yang dilakukan pengguna. Sistem akan mengisi area otot secara otomatis berdasarkan data aktivitas yang dicatat.

Pembaruan lain hadir melalui Workout Log atau log latihan baru yang memungkinkan pengguna mencatat jumlah set, repetisi, dan beban secara lebih rinci. Data tersebut kemudian tersimpan sebagai histori latihan yang dapat digunakan pengguna untuk mengulang atau mengevaluasi progres latihan mereka dari waktu ke waktu.

Strava juga menghadirkan lima format baru untuk membagikan aktivitas latihan kekuatan ke komunitas.

Langkah ini dilakukan untuk menyamakan pengalaman sosial pengguna gym dan strength training dengan pengguna olahraga outdoor seperti lari dan sepeda yang selama ini menjadi basis utama Strava.

Pendekatan berbasis komunitas memang menjadi salah satu kekuatan utama Strava di pasar aplikasi kebugaran global.

Dengan menambahkan fitur sosial pada latihan kekuatan, perusahaan mencoba memperluas daya tarik platform di tengah meningkatnya popularitas gym, functional training, dan hybrid fitness.

Ed Baker mengatakan integrasi data kebugaran yang lebih kaya menjadi penting untuk membantu pengguna memahami performa tubuh secara menyeluruh.

“Dengan mengintegrasikan wawasan WHOOP serta sinyal kesehatan dan performa yang lebih luas ke dalam Strava, kami membantu anggota kami menghubungkan kekuatan, daya tahan, dan pemulihan sehingga mereka dapat melihat gambaran lengkap performa mereka dengan lebih jelas daripada sebelumnya,” kata Ed Baker.

Sementara itu, Guillem Ros menilai semakin banyak atlet kini menjadikan latihan kekuatan sebagai bagian inti rutinitas kebugaran mereka.

“Kami bangga bermitra dengan Strava untuk membantu meningkatkan latihan kekuatan dan membuat umat manusia menjadi lebih kuat, bersama-sama,” ujar Guillem Ros.

Langkah Strava memperkuat fitur strength training juga mencerminkan perubahan tren industri kebugaran digital global.

Dalam beberapa tahun terakhir, pengguna tidak lagi hanya fokus pada olahraga kardio dan outdoor, tetapi juga latihan berbasis kekuatan yang berkaitan dengan kesehatan jangka panjang, pencegahan cedera, serta peningkatan kualitas hidup.

Dengan basis pengguna lebih dari 195 juta orang di lebih dari 185 negara, Strava kini memperluas posisinya bukan sekadar aplikasi pelacak olahraga luar ruang, tetapi juga platform kebugaran terintegrasi yang mencakup aktivitas gym, pemulihan tubuh, dan analisis performa berbasis data.

Baca Juga: Strava Turunkan Harga Langganan Hingga 40% di Indonesia

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online