Ini yang Bisa Terjadi pada Otak Anak Jika Terlalu Sering Bermain Media Sosial

3 hours ago 8

Jakarta -

Media sosial kini sudah sangat dekat dengan kehidupan anak dan remaja. Mulai dari hiburan, mencari teman, hingga mengisi waktu luang, semuanya bisa dilakukan lewat gadget.

Namun, ada hal yang mulai menjadi perhatian para peneliti, Bunda. Terlebih ketika anak terlalu sering menghabiskan waktu bermain media sosial sejak usia dini.

Menilik dari laman Futurity, sebuah penelitian baru menemukan adanya kaitan antara penggunaan media sosial secara rutin dengan kemampuan membaca dan kosakata anak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Penelitian tersebut melihat bahwa anak yang terlalu sering menggunakan media sosial setiap harinya cenderung mengalami kesulitan dalam mengenali dan mengucapkan kata-kata.

Tak hanya itu, penggunaan media sosial yang berlebihan juga bisa berdampak pada perkembangan otak anak lho, Bunda. Hal ini diungkapkan langsung oleh seorang penulis utama studi dari Fakultas Ilmu Keluarga dan Konsumen Universitas Georgia, Cory Carvalho.

"Otak itu seperti otot. Semakin sering anak menggunakannya, semakin banyak perubahan yang terjadi sesuai dengan cara menggunakannya," kata Carvalho, dikutip dari Futurity.

Kebiasaan bermain media sosial bisa berdampak pada perkembangan otak anak

Menurut para peneliti, kebiasaan anak yang terlalu lama menghabiskan waktu di media sosial dapat memengaruhi cara otak berkembang. Apalagi, jika kebiasaan tersebut dilakukan setiap hari dalam waktu yang cukup panjang.

"Jika anak-anak menghabiskan lebih dari delapan jam sehari menggunakan media sosial, itulah yang akan diadaptasi dan menjadi ciri khas otak mereka," ujar Carvalho.

Penelitian ini menggunakan data dari studi Adolescent Brain Cognitive Development. Studi tersebut mengikuti lebih dari 10 ribu anak selama enam tahun sejak usia sekitar 10 tahun.

Melihat dari penelitian itu, para peneliti menemukan bahwa penggunaan media sosial yang terlalu sering berkaitan dengan kemampuan membaca dan kosakata anak yang cenderung menurun dalam beberapa tahun berikutnya.

Berkaitan dengan ini, Carvalho menjelaskan bahwa penggunaan media sosial yang terlalu lama dapat membuat anak kehilangan waktu untuk melakukan kegiatan lain yang juga bagus bagi perkembangan mereka.

"Penggunaan media sosial memiliki biaya waktu. Jika anak menghabiskan waktu untuk melakukan satu hal, itu berarti mereka tidak menghabiskan waktu untuk melakukan hal lain," katanya.

Ia juga menyebut bahwa penelitian lain menemukan kaitan antara penggunaan media sosial yang berlebihan dengan kebiasaan membaca anak yang semakin berkurang.

"Studi lain menemukan bahwa semakin banyak anak menggunakan media sosial, semakin sedikit mereka membaca, sehingga perkembangan membaca tertinggal. Kami juga menemukan hal ini pada kosakata mereka," jelasnya.

Kemampuan membaca dan kosakata anak rupanya turut terpengaruh oleh kebiasaan bermain media sosial terlalu sering. Kondisi seperti ini tentu perlu diperhatikan, karena bisa berdampak pada prestasi belajar anak di sekolah.

Para peneliti menemukan bahwa anak yang terlalu sering menggunakan media sosial lebih sulit berkonsentrasi. Banyaknya notifikasi dan kebiasaan melakukan banyak kegiatan sekaligus membuat anak jadi lebih mudah 'terdistraksi'.

Meski begitu, peneliti menjelaskan bahwa tidak semua dampak media sosial bersifat buruk. Dalam beberapa kondisi, anak yang lebih sering menggunakan media sosial terlihat lebih cepat menerima informasi.

Namun, manfaat tersebut dinilai masih terbatas saat anak berkegiatan menggunakan media digital saja. Maka dari itu, para peneliti tetap memperhatikan keseimbangan penggunaan media sosial pada anak dan remaja.

Salah satu penulis studi sekaligus asisten profesor di UGA College of Family and Consumer Sciences, Niyantri Ravindran, menjelaskan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan membuat anak kehilangan kesempatannya untuk melatih kemampuan membaca dan kosakata mereka.

"Dampak negatif pada kosakata dan membaca lebih dapat diprediksi karena media sosial berpotensi merampas kesempatan anak-anak untuk terlibat dalam beberapa keterampilan kognitif tingkat tinggi tersebut," ujar Ravindran.

Di sisi lain, media sosial juga disebut dapat membantu anak tetap menjalin komunikasi dengan orang lain. Terutama bagi anak yang kesulitan membangun pertemanan di lingkungan sekitarnya, Bunda.

Untuk mengurangi dampak negatif dari media sosial, para peneliti menyarankan orang tua untuk membatasi waktu penggunaan gadget pada anak. Terutama, saat mendekati waktu tidur supaya mereka bisa beristirahat dengan baik.

Selain itu, orang tua juga disarankan menunda pemberian gadget sampai anak dirasa sudah cukup siap menggunakannya. Dengan begitu, penggunaan gadget pada anak bisa lebih terkontrol, Bunda.

Itulah penjelasan mengenai hal yang bisa terjadi pada otak anak jika terlalu sering bermain media sosial. Penggunaan gadget yang terkontrol dapat mendukung tumbuh kembang anak dengan lebih baik.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ndf/fir)

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online