Jokowi Bantah Injak Kepala Kerbau Bermakna Politik

5 hours ago 10

MANTAN Presiden Joko Widodo atau Jokowi membantah anggapan bahwa tindakannya menginjak kepala kerbau saat mengikuti prosesi adat di Lampung memiliki makna politik. Menurut dia, prosesi tersebut merupakan ritual adat yang telah dilakukan secara turun-temurun.

Jokowi meletakkan kaki di atas kepala kerbau saat menerima gelar adat Baginda Pemuka Bangsa dari Istana Kedatun Kerajaan Lampung pada Sabtu, 27 Juni 2026. Foto prosesi itu kemudian beredar luas di media sosial dan memicu beragam tafsir.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

"Itu ritual adat. Sekali lagi, itu ritual adat yang sudah tidak sekali dua kali, sudah ratusan kali dilakukan," kata Jokowi saat ditemui wartawan di kediamannya di Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo, Jawa Tengah, Selasa, 7 Juli 2026.

Jokowi menilai penafsiran bahwa prosesi itu bermakna politis adalah berlebihan. Ia meminta publik tidak menyeret seluruh peristiwa ke dalam ranah politik. "Jangan semua hal ditarik ke ranah politik, sering enggak nyambung," ujar dia.

Menurut Jokowi, prosesi itu merupakan penghormatan masyarakat adat Lampung kepadanya. Saat berkunjung ke provinsi tersebut, ia menerima gelar kehormatan dari Istana Kedatun Kerajaan Lampung. "Itu bentuk penghormatan dari masyarakat adat di Lampung, bentuk penghormatan dari Istana Kedatun Kerajaan Lampung. Saya merasa terhormat diberikan penghargaan," kata dia.

Jokowi mengatakan Indonesia memiliki kekayaan budaya dan tradisi yang beragam sehingga harus dihormati dan dijaga. Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk memahami setiap prosesi adat dalam konteks kebudayaan, bukan semata-mata dari sudut pandang politik.

"Kita harus terus menghargai adat istiadat, terus menghargai kearifan lokal, terus menghargai kebudayaan-kebudayaan kita, karena budaya kita ini sangat beragam sekali," ujar Jokowi.

Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Mohamad Guntur Romliuntu sebelumnya menanggapi beredarnya foto Jokowi tersebut. 

PDIP, partai yang pernah menjadi kendaraan politik Jokowi, menilai tindakan menginjak kepala kerbau sarat dengan simbol politik. Partai berlambang banteng itu memandang gestur tersebut sebagai cerminan ambisi kekuasaan mantan kadernya.

"Kepala kerbau yang diinjak melambangkan para pengikut Jokowi dan PSI yang terbuai di balik perilaku raja, padahal yang ada adalah ambisi kekuasaan tanpa batas untuk keluarga Jokowi," kata Guntur melalui pesan singkat, Ahad, 28 Juni 2026.

Guntur mengatakan perilaku politik Jokowi setelah berpisah dengan PDIP pernah dikaji oleh Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, dalam disertasinya. Menurut dia, kajian tersebut menyimpulkan bahwa Jokowi tengah membangun model kepemimpinan yang bercorak populisme otoritarian.

Ia menilai kepemimpinan Jokowi memadukan unsur feodalisme dengan persepsi diri sebagai seorang raja, populisme melalui pembagian bantuan untuk menarik simpati masyarakat, serta karakter Machiavelianisme yang menempatkan kekuasaan sebagai tujuan utama.

Menurut Guntur, Jokowi masih berupaya mempertahankan dan memperkuat pengaruh politiknya meski telah menyelesaikan masa jabatan sebagai presiden selama dua periode. Kecenderungan itu, kata dia, tetap terlihat meskipun anggota keluarga Jokowi masih menduduki sejumlah posisi strategis di pemerintahan dan partai politik.

Adapun Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Jawa Tengah, Antonius Yogo Prabowo saat ditemui sebelumnya menilai injak kepala kerbau dalam prosesi adat di Lampung merupakan bagian dari ritual adat yang telah berlangsung lama.

"Kami melihat dari ritual adat. Ini sebuah kebiasaan yang sudah berlaku lama, bukan hanya ketika Pak Jokowi datang. Pak Jokowi menghormati adat yang sudah ada, tidak ada maksud apa pun," kata Yogo saat ditemui wartawan.

Ia mengatakan persoalan itu juga sempat menjadi bahan diskusi internal PSI. Menurut dia, tradisi menginjak kepala kerbau merupakan bagian dari tata cara pemberian gelar kehormatan adat kepada tamu dan bukan dibuat khusus saat Jokowi berkunjung ke Lampung.

"Kalau ada yang mempersepsikan lain-lain, ya urusannya mereka. Tapi hari ini kami tahu betul Pak Jokowi sebagai tamu menghormati adat istiadat setempat," ujarnya.

Yogo menegaskan, prosesi serupa juga dilakukan kepada tamu lain yang menerima gelar kehormatan dari para sultan atau pemangku adat. Hanya saja, kata dia, ritual tersebut menjadi sorotan karena yang melakukannya adalah Jokowi.

"Ini sebenarnya biasa saja kalau ada tamu-tamu kemudian ada suguhan adat yang harus menginjak kepala kerbau. Yang jadi tidak biasa karena yang menginjak Pak Jokowi," katanya.

Menurut Yogo, pihaknya juga telah mendapatkan penjelasan bahwa tradisi tersebut sudah berlangsung sejak lama dan tidak berkaitan dengan simbol atau pesan politik tertentu.

"Beliau menghormati adat istiadat sebagai tamu yang hadir di sebuah tempat dan memang harus menginjak. Dan itu kan kepala kerbau, bukan kepala yang lain," ujar dia.

Sultan Abdurrahman berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

Pilihan Editor: Selembar Ijazah Tak Kunjung Asli

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online