Kenapa Diskusi di UGM dengan Menteri Prabowo Sempat Ricuh?

5 hours ago 5

KERICUHAN forum diskusi “Kopdar Bareng Mas Dar” di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, pada Senin, malam 15 Juni 2026 disebabkan oleh ketidakpuasan mahasiswa terhadap jawaban para pembantu Presiden Prabowo Subianto. Jawaban dinilai tak menjawab persoalan soal situasi saat ini yang sempat menyinggung Pancasila sebagai pemersatu bangsa Indonesia.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Acara yang diselenggarakan oleh Total Politik tersebut menghadirkan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional Nusron Wahid, Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko, dan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono. Aliansi Serikat Mahasiswa UGM mempertanyakan relevansi topik tersebut di tengah kekacauan kondisi negara di bawah kepemimpinan Prabowo-Gibran Rakabuming Raka.

“Rezim kita buta terhadap banyaknya kebijakan yang tidak pernah menyentuh akar permasalahan. MBG yang menyerap habis APBN, koperasi desa merah putih yang nirmanfaat. Siapa yang sebenarnya dilayani rezim, cita-cita Pancasila atau cita-cita untuk berkuasa?” kata aliansi dalam keterangan tertulis di akun Instagram Serikat Mahasiswa UGM dikutip pada Selasa, 16 Juni 2026.

Serikat mahasiswa itu menyoroti gerakan masyarakat yang mulai turun ke jalan untuk menuntut pertanggungjawaban pemerintah dalam perbaikan kondisi ekonomi. Namun, di sisi lain sejumlah pejabat mempertontonkan uang negara dihamburkan untuk kunjungan ke luar negeri yang tidak jelas manfaatnya.

“Omong kosong bicara Pancasila ketika pemerintah sendiri yang mengingkari nilai-nilai Pancasila itu sendiri,” kata mahasiswa.

Serikat Mahasiswa UGM menegaskan bahwa protes yang mereka sampaikan adalah upaya agar pengamalan nilai Pancasila tidak sekadar menjadi pemanis dalam agenda-agenda publik. Mahasiswa menagih bukti konkret perwujudan dari nilai keadilan sosial, nilai kemanusiaan, dan nilai kedaulatan rakyat kepada pemerintah.

Suasana forum ilmiah yang awalnya berjalan kondusif dan dihadiri mahasiswa mulai memanas setelah para narasumber selesai memaparkan materi sekitar pukul 20.30 WIB. Budiman Sudjatmiko pada sesi itu sempat melontarkan ajakan kepada para peserta untuk menyampaikan kritik secara langsung di dalam ruang diskusi, bukan di media sosial.

“Silakan kritik kami di sini, jangan di media sosial," ujar Budiman.

Situasi memanas ketika sejumlah mahasiswa melontarkan kritik tajam mengenai kelayakan ketiga pejabat tersebut dalam membahas tema Pancasila di tengah tumpukan persoalan bangsa yang dinilai belum selesai. 

Perdebatan sengit pecah hingga puluhan mahasiswa merangsek naik ke atas panggung untuk membentangkan spanduk protes bertulis UGM 'Menolak Pengkhianat Reformasi' hingga 'UGM Menolak Penjilat Rezim'. 

Situasi di dalam gedung semakin tidak terkendali saat massa  melempar gelas air mineral ke arah narasumber di area forum, yang memaksa jalannya diskusi dihentikan seketika. Untuk menghindari eskalasi massa yang semakin memuncak, panitia bersama petugas keamanan langsung mengevakuasi ketiga pejabat negara tersebut keluar dari Joglo GIK UGM.

Namun, upaya evakuasi langsung terhambat ratusan mahasiswa yang telah mengepung bagian luar gedung dan menghadang kendaraan para narasumber. Massa yang emosional terus meneriakkan desakan agar para pembicara kembali berdialog secara terbuka. Massa pun berteriak, "Mana Budiman! Katanya mau diskusi !"

Merespons tekanan dari massa, Nusron Wahid dan Sudaryono akhirnya keluar untuk menemui mahasiswa demi melanjutkan dialog di depan lokasi acara. Sementara Budiman Sudjatmiko sudah tidak terlihat lagi karena diduga telah meloloskan diri melalui pintu belakang gedung. 

Dalam dialog terbuka tersebut, salah seorang mahasiswa melayangkan pertanyaan kepada Nusron mengenai tanggung jawabnya sebagai Menteri Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional atas kebijakan alih fungsi ratusan ribu hektare lahan di Papua yang dinilai telah menggusur masyarakat adat setempat.

Kekecewaan mahasiswa justru memuncak saat Nusron menanggapi pertanyaan tersebut dengan mengajak mahasiswa untuk datang langsung ke Papua dan melihat fakta di lapangan. Jawaban itu dinilai tidak menyentuh substansi masalah. Hanya berselang beberapa menit, Nusron dan Sudaryono memilih bangkit dari tempat duduk mereka lalu berjalan kaki menuju arah Bundaran UGM serta gerbang selatan kampus. 

Mahasiswa yang merasa dihindari langsung mencoba menghalau pergerakan rombongan menggunakan pembatas jalan atau water barrier yang memicu terjadinya aksi saling dorong dan aksi kejar-kejaran yang sengit di kawasan itu.

Budiman yang kabur tak menemui massa membuat para mahasiswa kecewa. "Budiman yang pernah ikut aksi demonstrasi malah kabur, dasar pengkhianat, pengecut," teriak massa.

Serikat Mahasiswa UGM mengatakan, kejadian itu adalah bentuk peringatan keras terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran yang dianggap telah sakit kronis dan perlu diobati dengan revolusi. Mereka mempertanyakan tiga hal.

Pertama, bagaimana mungkin bangsa dapat dipersatukan jika suara rakyat yang mengkritik justru diabaikan dan dianggap sebagai gangguan. Kedua, di mana nilai Pancasila ketika konflik agrarian dibiarkan, tanpa transparansi dan rakyat dipaksa berhemat demi pemborosan elite. Ketiga, apa yang sebenarnya sedang diwujudkan oleh Kabinet Merah Putih, cita-cita Pancasila atau cita-cita Prabowo.

“Jika pemerintah terus merampas keadilan dan membiarkan perut rakyat kelaparan, jangan salahkan publik jika kesabaran ini habis. Jangan terkejut jika dalam waktu dekat revolusi menjadi satu-satunya jalan keluar,” kata Serikat Mahasiswa UGM di akhir pernyataannya.

Pribadi Wicaksono dari Yogyakarta berkontribusi dalam tulisan ini
Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online