Belakangan ini, kasus depresi pada remaja kian meningkat. Selain faktor traumatis dan psikologis, ternyata pola asuh juga dapat memengaruhi kondisi tersebut. Karenanya, penting untuk kenali kesalahan pola parenting yang jadi penyebab depresi pada anak.
Dalam sebuah podcast, profesor dari New York University, Scott Galloway, menyebut risiko depresi pada remaja hingga dewasa berkaitan erat dengan pola asuh tertentu. Menurutnya, pola parenting menjadi dasar dalam membentuk kesehatan mental anak di kemudian hari.
Ia merujuk pada penelitian dari psikolog sosial, Jonathan Haidt, dan profesor psikologi, Jean Twenge. Pada penelitian sebelumnya, kedua ahli tersebut menemukan adanya peningkatan yang signifikan terkait depresi pada remaja dalam beberapa tahun terakhir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk memahaminya lebih lanjut, simak penjelasan terkait kesalahan pola parenting yang jadi penyebab depresi menurut ahli berikut ini, Bunda.
Kesalahan pola parenting yang dapat menjadi penyebab depresi
Menurut Galloway, selain media sosial, pola parenting buldoser menjadi faktor utama yang mendorong masalah ini. Dalam pola asuh tersebut, orang tua cenderung menyingkirkan semua kesulitan anak, yang justru sangat merugikan perkembangan mental mereka.
Sekilas, pola asuh ini memang terlihat sebagai bentuk perhatian, Bunda. Namun dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengganggu perkembangan emosional dan mental anak sehingga risiko depresi dan gangguan mental lainnya semakin besar.
“Apapun masalahnya, orang tua langsung turun tangan untuk membereskan semuanya. Kita ingin hidup anak terasa mudah dan tanpa hambatan, padahal anak yang sering diselamatkan tidak mampu menjadi kuat saat menghadapi kesulitan,” kata Galloway dikutip dari Today.
Galloway menyebut anak dengan pola parenting buldoser cenderung lebih sensitif. Oleh karena itu, merasakan pengalaman yang kurang menyenangkan, seperti ditolak, gagal, kecewa, hingga patah hati, sangat penting untuk melatih mental di masa depan.
Gaya pengasuhan dan risiko depresi pada anak
Sejalan dengan Galloway, penelitian lain terkait pola parenting, sepakat bahwa penyebab depresi sering kali berakar dari faktor tersebut. Maka dari itu, cara orang tua berinteraksi, merespons emosi, dan mendidik berperan besar dalam membentuk kondisi psikologis anak.
Studi terbatas yang dilakukan tahun 2021 menemukan bahwa parenting yang terlalu keras, kritis, dan sering menghukum juga dapat meningkatkan risiko depresi. Tak hanya anak yang selalu dilindungi, anak yang sering mendapat tekanan pun memiliki risiko serupa.
Anak yang sering mendapat tekanan dan beban akan lebih mudah merasa insecure, cemas, dan sulit mengelola emosi. Selain itu, kebiasaan orang tua yang hanya fokus terhadap hal negatif pada anak dapat memperburuk kondisinya.
Sementara itu, pola asuh yang stabil atau otoritatif justru membantu anak merasa lebih aman secara emosional. Anak-anak yang diasuh dengan dengan gaya parenting ini cenderung lebih mandiri, mengandalkan diri sendiri, dan mudah beradaptasi.
Dampak pola asuh yang tepat ini tidak hanya dirasakan saat anak masih kecil, Bunda. Hingga mereka dewasa pun, mereka akan jauh lebih percaya diri, mampu mengelola stres, memiliki kemampuan sosial yang baik, dan tangguh saat menghadapi masalah.
4 Jenis parenting anak
Setiap orang tua dapat menentukan pola asuh yang sesuai dalam membesarkan anak. Namun, secara umum, terdapat empat jenis parenting yang paling sering diterapkan, serta dampaknya terhadap perkembangan anak.
Berikut penjelasanya yang dikutip dari saran seorang psikoterapis dan konselor klinis, Ales Zivkovic, MSc (TA Psych), CTA(P), PTSTA(P):
1. Gaya pengasuhan otoritatif
Pengasuhan ini mengedepankan kehangatan dan dukungan emosional, komunikasi yang terbuka, aturan yang jelas serta fleksibel. Melalui gaya ini, anak tidak hanya diberi batasan, tetapi juga dijelaskan mengenai aturan agar mereka memahaminya.
Gaya pengasuhan ini paling direkomendasikan oleh sejumlah ahli. Sebab, anak tak hanya mendapatkan kritik, tetapi juga belajar memahami dan mengelola emosinya sehingga mereka cenderung lebih terkontrol dan mandiri.
2. Gaya pengasuhan otoriter
Berbeda dengan otoritatif, gaya ini lebih menekankan aturan dan kepatuhan anak yang ketat, Bunda. Tak jarang orang tua yang menerapkan pola asuh ini lebih banyak menuntut, memberikan aturan, dan terlalu mengontrol anak.
Dampak dari gaya pengasuhan otoriter membuat anak menjadi kurang percaya diri, sulit mengambil keputusan, dan sulit mengekspresikan emosi. Dalam jangka panjang, kondisi ini menimbulkan risiko masalah kesehatan mental, seperti kecemasan dan depresi.
3. Gaya pengasuhan permisif
Gaya pengasuhan permisif cenderung membebaskan anak untuk melakukan banyak hal. Orang tua tidak memberikan arahan serta aturan yang jelas, pakem, dan justru lebih mengikuti keinginan anak.
Akibat dari pola pengasuhan ini, anak menjadi sulit mengontrol diri, kurang disiplin, dan bergantung pada orang lain. Hal ini juga akan berdampak pada kehidupan anak di masa depan, terlebih kehidupan sosialnya.
4. Gaya pengasuhan neglectful
Neglectful merupakan gaya pengasuhan yang tidak melibatkan orang tua secara langsung. Artinya, parenting ini memiliki tingkat partisipasi atau keikutsertaan orang tua terhadap kehidupan anak yang sangat rendah, baik secara emosional maupun perhatian.
Parenting ini cenderung kurang memperhatikan anak sehingga mereka lebih sering mengurus diri sendiri. Orang tua biasanya hanya hadir secara fisik tanpa melibatkan emosional. Akibatnya, anak yang diasuh memiliki masalah emosional di kemudian hari.
Demikian penjelasan mengenai pola asuh yang dapat menjadi penyebab depresi pada remaja hingga dewasa. Semoga informasi ini bermanfaat, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)
.png)
12 hours ago
9

















































