Makna Warna Pink yang Dominasi Demonstran Aliansi Perempuan

22 hours ago 9

WARNA pink atau merah muda mendominasi aksi demonstrasi yang digelar Aliansi Perempuan Indonesia (API) di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Kamis, 18 Juni 2026. Bagi para demonstran, warna tersebut bukan sekadar identitas visual, melainkan simbol perlawanan politik perempuan.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Koordinator lapangan aksi, Afifah, mengatakan warna pink dipilih karena memiliki kedekatan dengan sejarah perjuangan perempuan. Simbol itu juga digunakan untuk menegaskan bahwa perempuan bukan sekadar pengikut dalam gerakan sosial dan politik.

"Pink itu dekat dengan sejarah perlawanan perempuan. Pink itu tanda simbol berani," kata Afifah saat ditemui di sela-sela aksi pada Kamis, 18 Juni 2026.

Menurut dia, masih ada anggapan bahwa perempuan hanya menjadi pelengkap atau pengikut dalam berbagai gerakan politik. Karena itu, penggunaan warna pink dalam demonstrasi dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa perempuan juga dapat menjadi pemimpin dalam gerakan perlawanan rakyat.

"Dengan pink itu menunjukkan kalau kami gerakan yang bisa juga memimpin politik perlawanan rakyat. Kami bukan pengikut gerakan saja," ujar dia.

Afifah mengatakan aksi yang digelar API sengaja menempatkan perempuan sebagai wajah utama gerakan. Langkah itu diambil karena perempuan dinilai menjadi kelompok yang paling terdampak oleh berbagai persoalan ekonomi yang terjadi saat ini.

Menurut dia, kenaikan harga kebutuhan pokok, sulitnya mencari pekerjaan, hingga berbagai kebijakan pemerintah berdampak langsung terhadap kehidupan perempuan. "Perempuan jadi kelompok yang sangat dirugikan hari ini oleh negara dengan berbagai krisis yang terjadi," kata Afifah.

Selain warna pink, para demonstran juga membawa berbagai peralatan dapur seperti panci dan alat masak lainnya. Simbol tersebut dipilih untuk menggambarkan peran perempuan dalam menopang kehidupan sehari-hari keluarga.

Afifah mengatakan perempuan menjadi pihak yang paling merasakan dampak kenaikan harga bahan pokok karena mereka berhadapan langsung dengan kebutuhan rumah tangga. "Kami yang paling merasakan harga cabai naik, harga beras naik, semua harga bahan pokok naik," ujarnya.

Menurut dia, alat dapur yang dibawa demonstran merupakan pesan bahwa persoalan ekonomi tidak hanya berkaitan dengan angka statistik, tetapi juga menyangkut kehidupan sehari-hari masyarakat, terutama perempuan yang mengelola kebutuhan rumah tangga.

Dalam aksi tersebut, API membawa tiga tuntutan utama kepada pemerintah, yakni menurunkan harga kebutuhan pokok, menciptakan lapangan kerja, dan menghentikan proyek makan bergizi gratis (MBG).

Afifah mengatakan demonstrasi juga bertujuan mengajak masyarakat untuk terlibat dalam gerakan yang memperjuangkan berbagai persoalan yang mereka hadapi. "Tuntutan rakyat itu akan bisa didengar ketika rakyatnya punya basis massa yang besar," kata dia.

Aksi yang diikuti sekitar 300-400 orang itu berakhir di sekitar kawasan Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, setelah massa mengaku beberapa kali diarahkan aparat kepolisian untuk mengubah rute perjalanan menuju Patung Kuda dan Istana Negara.

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online