Michelle Obama Kenang Sempat Putus Asa Jalani IVF hingga Keguguran Berulang Kali

5 hours ago 2

Jakarta -

Michelle Obama mengenang pengalamannya saat menjalani program hamil. Ia pernah sempat putus asa menjalani in vitro fertilization (IVF) atau program bayi tabung hingga keguguran berulang kali.

Kisah Michelle menjadi pengingat untuk calon orang tua bahwa perjuangan memiliki momongan sering kali penuh dengan emosi, tekanan, sekaligus harapan.

Mantan ibu negara itu berbicara terus terang tentang perjuangannya dan mantan Presiden Barack Obama sebelum menyambut kedua putri mereka. Pasangan itu akhirnya beralih ke IVF untuk mengandung Malia (27) dan Sasha (24). 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Keputusannya untuk menjalani IVF pada usia 34 tahun muncul setelah menghadapi kebenaran pahit tentang kesehatan reproduksi. Ia mengalami keguguran.

"Menurut saya, hal terburuk yang kita lakukan satu sama lain sebagai perempuan adalah tidak berbagi kebenaran tentang tubuh kita dan cara kerjanya,” katanya dilansir ABCNews.

Setelah mengalami satu kali keguguran tersebut, Michelle dan suaminya menyadari bahwa faktor usia yang saat itu sekitar 34 tahun, membuatnya harus mencari alternatif lain.

Mereka kemudian menjalani program IVF. Proses IVF melalui beberapa siklus suntikan dan prosedur yang menguras fisik serta emosi. Sampai akhirnya Michelle berhasil hamil.

Menurut Michelle, pengalamannya itu sempat membuatnya merasa gagal dan putus asa sebagai perempuan. Namun, keterbukaan dan dukungan pasangan dapat membantunya melewati masa berat itu.

Michelle Obama pernah mengalami keguguran berulang

Michelle dalam wawancara mengungkapkan bahwa dirinya pernah mengalami keguguran sekitar 20 tahun lalu. Sama seperti perempuan lainnya, pengalaman itu membuatnya merasa sedih, bingung, dan kesepian. 

Saat keguguran, Michelle mengatakan ia merasa gagal karena tidak mengetahui bahwa keguguran cukup umum terjadi pada perempuan. "Kita merasa seolah-olah kita melakukan sesuatu yang salah," kata Michelle.

Michelle juga pernah membahas keguguran yang dialaminya dalam memoar terlarisnya tahun 2018, Becoming, yang menggambarkan guncangan emosional dari harapan yang berubah menjadi patah hati. 

"Kami pernah mendapatkan hasil tes kehamilan positif, yang membuat kami berdua melupakan semua kekhawatiran dan bergembira, tetapi beberapa minggu kemudian saya mengalami keguguran, yang membuat saya merasa tidak nyaman secara fisik dan menghancurkan optimisme yang kami rasakan," tulisnya.

Keguguran memang menjadi salah satu masalah yang cukup sering terjadi pada awal kehamilan. Menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal StatPearls, sekitar 10 hingga 20 persen kehamilan yang terdeteksi dapat berakhir dengan keguguran spontan. Faktor penyebabnya beragam, mulai dari kelainan kromosom hingga kondisi kesehatan tertentu.

Michelle Obama jalani program IVF demi mendapatkan keturunan

Setelah mengalami keguguran, Michelle dan suaminya, memutuskan menjalani program IVF untuk memperoleh keturunan. 

IVF atau bayi tabung merupakan prosedur reproduksi berbantu dengan mempertemukan sel telur dan sperma di laboratorium sebelum embrio ditanam kembali ke rahim.

Melalui program tersebut, Michelle akhirnya berhasil hamil dan melahirkan kedua putrinya, yakni Malia Obama dan Sasha Obama.

Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), IVF menjadi salah satu terapi fertilitas yang umum dipilih pasangan dengan gangguan kesuburan tertentu, termasuk usia maternal yang lebih matang atau riwayat infertilitas.

"Bayi tabung adalah proses yang intens dengan banyak kunjungan ke dokter," kata Direktur medis dari Northwestern Medicine Fertility and Reproductive Medicine Highland Park, Eve Feinberg, M.D, dilansir Parents.

Perasaan putus asa saat menjalani IVF ternyata umum terjadi

Tak ada jaminan bahwa IVF pasti berhasil. Alhasil, proses ini bukan hanya melelahkan secara fisik, tetapi juga emosional. Banyak perempuan mengalami stres, kecemasan, bahkan depresi selama menjalani program hamil.

Dalam artikel review ilmiah berjudul Psychological impact of infertilit, penulisnya Psikolog Klinis Tara M. Cousineau dan Alice D. Domar menuliskan bahwa infertilitas bukan hanya perjalanan medis yang linier, tetapi juga pengalaman emosional yang naik turun, dengan beban psikologis yang nyata bagi individu maupun pasangan.

Beberapa penelitian yang dipublikasikan di jurnal Human Reproduction juga menunjukkan bahwa perempuan yang menjalani IVF cenderung mengalami tingkat stres emosional yang lebih tinggi dibanding populasi umum, terutama setelah kegagalan siklus IVF atau pada kasus dengan riwayat keguguran berulang.

Pentingnya dukungan pasangan saat menjalani program hamil

Michelle juga menyoroti pentingnya komunikasi bersama pasangan selama menjalani proses IVF. Menurutnya, dukungan emosional menjadi salah satu hal yang membantunya bertahan.

Proses IVF ini dapat menimbulkan stres, isolasi, dan kelelahan psikologis pada banyak pasangan. Dan perempuan yang menjalani perawatan kesuburan seringkali stres, baik secara fisik maupun emosional, karena proses yang sangat berat.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online