Selular.ID – RedDoorz mencatat lonjakan permintaan akomodasi selama periode mudik dan pasca Lebaran 2026 di Indonesia.
Platform teknologi perhotelan multi-brand yang beroperasi di Asia Tenggara itu melaporkan tingkat okupansi di seluruh jaringan propertinya meningkat 64% secara tahunan atau year-on-year (YoY), seiring tingginya mobilitas wisatawan domestik selama musim libur Lebaran tahun ini.
Data tersebut disampaikan RedDoorz pada 7 April 2026 di Jakarta.
Peningkatan permintaan tidak hanya terjadi saat puncak arus mudik, tetapi juga berlanjut setelah Lebaran, didorong perubahan pola perjalanan masyarakat yang mulai menggabungkan mudik dengan liburan singkat atau perjalanan multi-kota.
Kinerja RedDoorz juga sejalan dengan data Kementerian Perhubungan Republik Indonesia yang mencatat total mobilitas masyarakat selama periode Angkutan Lebaran 2026 mencapai 147,55 juta orang atau naik 2,53% dibandingkan tahun sebelumnya.
Jawa Barat dan DKI Jakarta menjadi daerah asal pemudik terbesar, sementara Jawa Tengah dan Jawa Barat menjadi tujuan perjalanan dengan volume tertinggi.
Dalam laporan internalnya, RedDoorz menyebut jumlah penjualan kamar selama periode Lebaran meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi lebih dari 255 ribu kamar, atau naik 109% secara tahunan.
Permintaan tertinggi tercatat pada 23 hingga 25 Maret 2026, dengan penjualan harian menembus lebih dari 23 ribu kamar per hari.
Director of Demand RedDoorz, Vibhor Atal, mengatakan tren perjalanan domestik selama Lebaran tahun ini menunjukkan permintaan terhadap akomodasi masih sangat kuat, bahkan setelah masa puncak libur berakhir.
Menurut Vibhor, tingginya mobilitas masyarakat mendorong peningkatan permintaan di berbagai lini brand RedDoorz, termasuk RedDoorz, SANS, URBANVIEW, dan The Lavana.
Ia juga menyebut wisatawan kini cenderung memperpanjang perjalanan setelah mudik untuk kegiatan rekreasi.
Beberapa kota tercatat menjadi kontributor utama permintaan akomodasi, di antaranya Yogyakarta, Jakarta, Bandung, Medan, dan Bogor.
Kota-kota destinasi wisata seperti Yogyakarta, Bandung, dan Bogor menunjukkan tingkat permintaan lebih tinggi dibandingkan kota lain, menandakan wisata berbasis leisure masih menjadi pilihan utama masyarakat selama periode Lebaran.
RedDoorz juga melihat adanya perubahan perilaku konsumen dalam pola pemesanan hotel.
Mayoritas wisatawan melakukan reservasi lebih awal dengan rata-rata pemesanan dilakukan tiga hingga empat hari sebelum tanggal check-in.
Pola tersebut menunjukkan kombinasi antara perencanaan perjalanan yang lebih matang dan kebutuhan fleksibilitas selama masa liburan.
Di sisi lain, segmen keluarga disebut menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan permintaan akomodasi.
Wisatawan cenderung memilih penginapan yang menawarkan harga terjangkau, lokasi strategis, dan akses mudah ke destinasi wisata maupun jalur transportasi utama.
Tren peningkatan perjalanan domestik ini juga mencerminkan perubahan dinamika industri pariwisata Indonesia pascapandemi.
Dalam beberapa tahun terakhir, wisatawan lokal semakin mempertimbangkan aspek value for money saat memilih akomodasi, terutama di tengah meningkatnya mobilitas dan biaya perjalanan.
Sebagai platform teknologi perhotelan, RedDoorz memanfaatkan sistem digital untuk pengelolaan distribusi kamar, harga dinamis, hingga pemetaan permintaan berbasis data.
Pendekatan tersebut membantu perusahaan mengoptimalkan tingkat hunian selama periode dengan lonjakan trafik wisatawan seperti Lebaran dan libur nasional.

Perusahaan memperkirakan permintaan akomodasi domestik masih akan bertahan di atas level normal dalam beberapa minggu setelah Lebaran sebelum akhirnya kembali stabil.
Tingginya minat masyarakat terhadap perjalanan domestik serta fleksibilitas pola kerja dan liburan disebut menjadi faktor yang mendukung tren tersebut.
Ke depan, RedDoorz menyatakan akan terus memperluas jaringan mitra properti di kota-kota dengan permintaan tinggi sekaligus meningkatkan kualitas layanan digital dan pengalaman pelanggan.
Fokus perusahaan diarahkan pada penyediaan akomodasi yang relevan, terjangkau, dan sesuai kebutuhan wisatawan domestik yang semakin dinamis.
Perkembangan ini sekaligus menunjukkan bahwa sektor perjalanan domestik masih menjadi salah satu penggerak utama industri pariwisata Indonesia sepanjang 2026, terutama pada momentum libur panjang dan musim mudik nasional.
Baca Juga: Eksekutif Baru, RedDoorz Tunjuk Henry Manampiring sebagai Regional VP Marketing
.png)
















































