Jakarta -
Rendahnya angka ibu menyusui kini menjadi perhatian serius karena dikaitkan dengan meningkatnya risiko penyakit pada anak, termasuk campak. Kasus ini membuktikan bahwa ASI yang merupakan sumber nutrisi terbaik memegang peranan penting semasa awal kehidupan bayi.
Seperti yang terjadi di Bangladesh, dalam kurun waktu 24 jam, dilaporkan sedikitnya enam anak meninggal dunia dan 1.517 lainnya terinfeksi atau menunjukkan gejala campak.
Secara keseluruhan, sejak 15 Maret, jumlah kematian akibat campak telah mencapai 459 kasus, dengan total infeksi sebanyak 65.613 kasus. Tentunya ini bukan sekadar angka. Pemerintah perlu segera menekan angka tersebut sebelum semakin memburuk nantinya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi ini menjadi pengingat penting bahwa perlindungan anak di masa awal kehidupannya sangatlah krusial. Lantas, apa saja hubungan antara rendahnya angka menyusui dengan tingginya kasus campak pada anak? Simak penjelasannya berikut ini, Bunda.
Penurunan angka menyusui dan kaitannya dengan meningkatnya kasus campak
Dalam beberapa tahun terakhir, angka pemberian ASI, pertama ASI eksklusif diketahui mengalami penurunan. Data Biro Statistik Bangladesh menunjukkan, angka ASI eksklusif pada bayi di bawah enam bulan turun dari 62,6 persen di 2019, menjadi 56,6 persen di 2025.
Tak hanya itu, praktik inisiasi menyusui dini, yakni menyusui bayi dalam satu jam pertama setelah lahir, juga mengalami penurunan yang tajam dari 46,6 persen menjadi 30,4 persen. Di saat yang sama, kasus campak justru meningkat dan tak sedikit anak yang terinfeksi.
Hal yang paling memprihatinkan ialah hampir setengah dari kasus kematian akibat campak terjadi pada bayi berusia di bawah sembilan bulan. Usia tersebut diketahui merupakan usia yang belum cukup untuk mendapatkan vaksin campak rutin, Bunda.
Setidaknya, 60 kematian campak telah terkonfirmasi dan 29 di antaranya terjadi pada bayi yang belum menginjak usia sembilan bulan. Para ahli kesehatan menilai kondisi ini berkaitan dengan menurunnya angka menyusui, Bunda.
Seperti yang kita ketahui, awal kehidupan bayi sangat bergantung pada antibodi alami yang diperoleh dari ibu melalui ASI. Ketika bayi tidak mendapatkan ASI yang cukup, perlindungan tubuh terhadap infeksi pun akan ikut menurun.
Akibatnya, bayi menjadi lebih rentan terkena penyakit menular seperti campak, terutama bila disertai gizi yang kurang optimal atau imunisasi yang belum lengkap. Karena itu, menyusui selain memenuhi kebutuhan nutrisi bayi juga bisa memperkuat daya tahan tubuh Si Kecil.
Pentingnya ASI sebagai sumber antibodi dan perlindungan awal bayi
Seperti yang sempat dibahas sebelumnya, ASI mengandung berbagai antibodi yang membantu melindungi bayi dari infeksi, termasuk campak, diare, dan pneumonia. Antibodi ini berperan sebagai pelindung alami yang membantu tubuh bayi melawan virus dan bakteri.
Namun, penelitian di Nigeria menunjukkan bahwa jumlah antibodi campak yang ditransfer melalui ASI cukup terbatas. Saat sekitar 35,4 persen sampel ASI yang memiliki antibodi campak ditransfer, hanya sekitar 16,8 persen antibodi yang masuk dalam darah bayi.
Meski begitu, bukan berarti peran ASI tidak penting ya, Bunda. ASI tetap memberikan perlindungan tambahan yang sangat dibutuhkan bayi di masa-masa awal kehidupannya. Tanpa ASI, daya tahan tubuh bayi tidak akan bisa optimal melawan berbagai virus.
“Jika seorang anak tidak mendapatkan ASI, itu berarti anak tersebut tidak hanya kehilangan antibodi tetapi juga nutrisi dan banyak manfaat kesehatan lainnya,” kata wakil rektor Universitas Kedokteran Bangladesh, Nazrul Islam.
Itulah mengapa menyusui sangat dianjurkan minimal selama enam bulan. Setidaknya, antibodi dari ibu yang ditransfer melalui ASI membantu tubuh memperkuat sistem imunnya, terutama sebelum bayi bisa mendapatkan perlindungan dari vaksin.
Menurunnya angka menyusui tentu tidak terjadi begitu saja, Bunda. Terdapat banyak faktor yang saling berkaitan, mulai dari kondisi sosial, hingga kebijakan yang belum berjalan dengan optimal.
Berikut beberapa faktor penyebab turunnya angka menyusui menurut pengamatan para ahli yang dilansir dari laman NEWAGE.
1. Promosi susu formula yang agresif
Salah satu faktor yang cukup memengaruhi adalah maraknya promosi susu formula, Bunda. Dalam beberapa kasus, produk pengganti ASI yang direkomendasikan oleh tenaga kesehatan membuat ibu lebih cepat beralih dari ASI ke susu formula.
2. Tingginya angka persalinan caesar
Ternyata, persalinan caesar yang meningkat juga berdampak pada praktik menyusui, lho. Ibu yang menjalani operasi biasanya membutuhkan waktu pemulihan lebih lama sehingga agak sulit untuk mulai menyusui sejak dini.
3. Fasilitas yang belum ramah ibu menyusui
Tidak semua tempat kerja atau fasilitas umum menyediakan ruang menyusui yang nyaman. Hal ini membuat ibu, terutama yang bekerja, kesulitan untuk memberikan ASI secara optimal.
4. Lemahnya regulasi dan kebijakan pemerintah
Meski sudah dikeluarkan berbagai aturan terkait dukungan menyusui serta pembatasan promosi susu formula, apa gunanya bila pelaksanaan regulasi tersebut belum maksimal? Ditambah lagi, program pemberian ASI cenderung melemah dalam beberapa tahun terakhir.
5. Perubahan gaya hidup ibu
Perubahan gaya hidup juga sangat berpengaruh, terutama bagi ibu yang harus kembali bekerja dalam waktu singkat usai melahirkan. Tanpa dukungan yang memadai, hal ini membuat praktik menyusui menjadi semakin membebani.
Demikian penjelasan mengenai bagaimana rendahnya menyusui mampu meningkatkan risiko kematian yang lebih tinggi akibat penyakit campak. Semoga informasi ini bermanfaat dan menjadi pengingat untuk para Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)
.png)
6 hours ago
6

















































