Saiful Mujani: Masyarakat Semakin Takut Bicara Politik

9 hours ago 9

PENDIRI Saiful Mujani Research Center and Consulting, Saiful Mujani, mengatakan masyarakat semakin takut berbicara politik secara terbuka di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Pernyataan itu mengacu survei Saiful Mujani Research Center dan Consulting pada Maret 2026. Kata dia, kondisi ini berbeda dengan situasi awal reformasi.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

"Pada awal reformasi, kalau dibuat skala dari 0 sampai 10, skor waktu itu tujuh. Sekarang, hanya mendapatkan angka tiga," kata dia saat memberikan sambutan Konferensi Republik di Cikini, Jakarta Pusat, Minggu, 28 Juni 2026. 

Survei itu menanyakan kepada masyarakat sejauh mana ketakutan bicara politik. Dari survei itu, 3 dari 10 takut bicara politik. Bagi dia, kondisi itu menandakan kebebasan berbicara politik semakin sempit. 

Saiful juga mengutip teori demokrasi Varieties of Democracy (V-Dem) mengenai kebebasan berpendapat. Kebebasan berpendapat adalah pemerintah menghormati hak warga untuk menyampaikan kebebasan berekspresi termasuk kebebasan politik dan kehidupan akademik.

Berdasarkan analisa V-Dem, skor kebebasan Indonesia sekitar 2000 sampai 2010 rata-rata angka 7. Namun, pada 2025, skor di bawah 5. "Jadi dari tujuh, itu sekarang posisinya angka empat rata-rata dari semua aspek tersebut," kata dia. 

Berdasarkan itu, Saiful menilai kebebasan saat ini berada pada titik yang sangat rendah. Selain itu, masyarakat juga takut kesewenang-wenangan aparatur negara dan takut pelanggaran terhadap konstitusi. Bagi dia, kondisi takut itu harus dilawan. 

Sebelumnya, Saiful Mujani memaparkan temuan itu dalam program Bedah Politik di kanal YouTube SMRC TV pada Kamis, 30 April 2026. Dia mengacu pada rangkaian survei nasional SMRC dan LSI yang memotret sikap publik terhadap kebebasan berbicara politik.

Sejak Oktober 2024, ketika Prabowo menjabat presiden, persepsi ketakutan publik mulai menguat. Pada saat itu, sebanyak 51 persen warga menilai masyarakat takut membicarakan politik. Kemudian, angka tersebut naik menjadi 53 persen pada Maret 2026.

Saiful berbicara dalam Konferensi Republik di Cikini. Mestinya Konferensi diadakan di Kampus UI, Salemba, Jakarta Pusat, Minggu, 28 Juni 2026 pagi ini. Namun, UI melarang kegiatan itu secara mendadak. Alasannya, kegiatan itu tidak memenuhi prosedur administrasi.

Konferensi ini dihadiri peserta dari berbagai latar belakang seperti Sudirman Said dan Yanuar Nugroho. 

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online