DIREKTUR Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, mendesak pemerintah untuk menghentikan latihan dasar kemiliteran untuk calon manajer koperasi desa/kelurahan merah putih dan kampung nelayan merah putih. Dorongan itu muncul setelah Kementerian Pertahanan mengkonfirmasi tiga peserta pelatihan meninggal.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Usman mempertanyakan penyebab kematian peserta pelatihan karena pemerintah mengklaim bahwa mereka telah melalui pemeriksaaan kesehatan dan memenuhi syarat. Ia juga mempersoalkan langkah pemerintah yang baru mengumumkan kematian peserta ke publik beberapa hari setelah mereka dimakamkan.
Usman mengatakan keluarga korban dan publik memiliki hak mengetahui penyebab kematian. “Ada banyak kejanggalan. Ini tragedi dan perlu ada investigasi independen atas kematian mereka,” katanya pada Kamis, 25 Juni 2026.
Menurut Usman, desain pelatihan militer untuk peserta sudah keliru sejak awal. Ia menilai pelatihan militer tidak sesuai dengan tuntutan kompetensi pengelola koperasi yang fokus pada kerja-kerja manajerial dan bisnis. Pengajar di Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera ini mengatakan kematian tiga calon manajer koperasi desa merah putih merupakan potret buruk meningkatnya militerisme bagi warga sipil.
Kementerian Pertahanan, pada Selasa, 23 Juni 2026, mengkonfirmasi dua orang calon manajer Koperasi Desa Merah Putih dan Koperasi Kampung Nelayan Merah Putih yang meninggal saat mengikuti pelatihan militer dasar komando cadangan. Keduanya bernama Anisa Muyassaroh dan Yonanda Muhammad Taufiq.
Anisa mengikuti pelatihan militer di Satuan Pendidikan Resimen Induk Komando Daerah Militer Mulawarman Balikpapan, Kalimantan Timur. Sedangkan Yonanda mengikuti pelatihan di Satuan Pendidikan Pusat Latihan Tempur TNI Angkatan Darat Kota Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan.
Lewat siaran pers, Kementerian Pertahanan mengklaim Anisa mengalami gangguan kesehatan pada 18 Juni 2026, sebelum meninggal. Korban disebutkan meninggal akibat heat stroke. Sedangkan Yonanda disebutkan meninggal akibat cardiac arrest atau henti jantung setelah kondisi kesehatan menurun pada 17 Juni 2026.
Jumlah calon manajer koperasi desa merah putih yang meninggal saat mengikuti pelatihan militer bertambah menjadi tiga orang. Korban terbaru bernama Novia Rahmadhani Sihotang. Novita mengikuti pelatihan militer dasar komando cadangan di Pusat Bahasa Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan, dan Latihan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara, Jakarta.
Kepala Biro Informasi Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan Brigadir Jenderal Rico Ricardo Sirait mengatakan Novita meninggal pada Selasa, 23 Juni 2026. Satu hari sebelum meninggal, Rico mengatakan Novita mengalami gangguan kesehatan dan segera mendapatkan penanganan oleh tim kesehatan satuan dan dirujuk ke rumah sakit. “Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, kondisi kesehatan Novita berkaitan dengan penyakit Tuberkulosis,” kata Rico kepada Tempo pada Rabu, 24 Juni 2026.
Kementerian Pertahanan menyatakan, sebelum mengikuti program, ketiga peserta sudah melalui tahapan seleksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku, termasuk pemeriksaan kesehatan. Mereka juga dinyatakan memenuhi persyaratan. Kementerian Pertahanan menyatakan TNI sudah memberikan pendampingan kepada keluarga dan memastikan penanganan sesuai dengan prosedur.
Dalam siaran pers yang dibagikan oleh Rico, Kementerian Pertahanan menyatakan tengah mengevaluasi secara menyeluruh mekanisme seleksi kesehatan, pengawasan medis, penanganan kondisi kesehatan khusus peserta, serta sistem komunikasi dan pelaporan. Kementerian Pertahanan mengklaim keselamatan dan kesehatan peserta menjadi prioritas utama.
Kementerian Pertahanan menyatakan pelatihan militer bagi calon manajer koperasi merah putih bertujuan menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki disiplin, kemampuan manajerial, dan semangat pengabdian untuk mendukung pembangunan nasional. “Setiap masukan dan evaluasi menjadi dasar untuk penyempurnaan program,” katanya.
.png)
















































