KEPALA Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto meminta pemerintah daerah Sulawesi Utara (Sulut) dan Maluku Utara (Malut) segera menetapkan status tanggap darurat pasca-gempa bumi pada Kamis pagi, 2 April 2026. Status tersebut harus ditetapkan agar bantuan pusat dapat disalurkan secara cepat, tepat, dan akuntabel kepada warga terdampak.
“Mohon seluruh kabupaten dan kota yang terdampak bisa menetapkan status kedaruratan,” kata Suharyanto dalam rapat koordinasi penanganan gempa bumi Sulawesi Utara-Maluku Utara melalui daring pada Kamis, 2 April 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Suharyanto menyampaikan apabila lebih dari dua kabupaten atau kota menetapkan status tanggap darurat, pemerintah provinsi dapat menetapkan status tersebut untuk tingkat provinsi. Ia mengingatkan, penetapan status tanggap darurat tidak berhubungan dengan ketidakmampuan pemerintah dalam menghadapi bencana. “Bencana itu sesuatu yang kejadian luar biasa. Siapa pun pejabat, sehebat apa pun pemimpin, tentu saja tidak akan bisa mengatasi secara sendirian,” tutur dia.
Suharyanto lantas meminta seluruh unsur di daerah mulai dari TNI-Polri hingga kementerian/lembaga untuk mengaktifkan posko tanggap darurat di wilayah terdampak. Ia menginstruksikan kebutuhan dasar masyarakat seperti logistik, air bersih, hingga pakaian harus ditanggulangi dengan cepat. “Mengingat bangunan-bangunan tadi dilaporkan ada rumah sakit, ada rumah masyarakat, kemudian mungkin ada gereja, ada gedung pertemuan yang rusak,” ujarnya.
Terakhir, Suharyanto meminta pemerintah daerah juga membentuk tim untuk terus melakukan asesmen dan memverifikasi data kerusakan dan korban. “Sehingga data-data yang hari ini baru terkumpul sebagian, semakin hari semakin waktunya berjalan ini semakin lengkap dan semakin sempurna,” ucap Suharyanto.
Sebelumnya, gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,6 mengguncang wilayah laut di tenggara Kota Bitung, Sulawesi Utara, pada Kamis pagi, 2 April 2026. Gempa terletak pada koordinat 1,25° Lintang Utara; 126,27° BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 129 kilo meter arah Tenggara Bitung, Sulawesi Utara, pada kedalaman 33 kilo meter.
Hasil pemantauan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan gempa bumi tersebut memiliki mekanisme pergerakan naik atau thrust fault. Kenaikan tinggi muka air laut di sejumlah wilayah itu antara lain di Halmahera Barat pada pukul 06:08 WIB dengan ketinggian 0.30 m dan Bitung pada pukul 06:15 WIB dengan ketinggian 0.20 meter
Kemudian, di Sidangoli pada pukul 06:16 WIB dengan ketinggian 0.35 meter, Minahasa Utara pada pukul 06:18 WIB dengan ketinggian 0.75 meer, Belang pada pukul 06:36 WIB dengan ketinggian 0.68 meter, serta Bumbulan pada pukul 06.50 WIB dengan ketinggian 0.13 meter.
Deputi Bidang Geofisika BMKG Nelly Florida R memaparkan gempa bumi tersebut berdampak sedikitnya ke tiga provinsi, yaitu Maluku Utara, Sulawesi Utara, dan Gorontalo. Di kota Ternate, misalnya, gempabumi dirasakan kuat dengan intensitas V-VI MMI. “Akibatnya, getaran dirasakan oleh semua penduduk sehingga menyebabkan terkejut dan lari keluar, plester dinding jatuh dan cerobong asap pada pabrik rusak, serta kerusakan ringan,” tutur dia.
.png)

















































