loading...
Guru Besar UMY Imamudin Yuliadi mengatakan, peningkatan permintaan pangan saat beroperasinya kembali program MBG merupakan dinamika ekonomi yang lazim terjadi. Foto/Ilustrasi/Dok.SindoNews
YOGYAKARTA - Kenaikan harga sejumlah bahan pangan seiring masuknya kembali tahun ajaran baru dan bergulirnya lagi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai sebagai fenomena pasar yang wajar. Selama kenaikan tersebut dipicu oleh meningkatnya permintaan dan berlangsung dalam mekanisme pasar yang sehat, kondisi itu justru dapat menjadi kabar baik bagi petani, peternak, nelayan, hingga pelaku UMKM pangan.
Guru Besar Ilmu Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof Dr Imamudin Yuliadi SE, MSi mengatakan, peningkatan permintaan pangan saat beroperasinya kembali program MBG merupakan bentuk dinamika ekonomi yang lazim terjadi.
Baca juga: Kepala BGN Sudaryono: Kami Bukan Superman, Siap Terima Masukan
"Fenomena kenaikan harga bahan pangan yang mengiringi dimulainya kembali sekolah dan otomatis Program MBG bergulir lagi dapat dipandang sebagai fenomena pasar yang wajar. Kenaikan harga karena dorongan permintaan merupakan sinyal positif bagi pelaku ekonomi, terutama petani dan peternak, karena berpotensi meningkatkan pendapatan mereka," ujar Imamudin di Yogyakarta, Jumat (24/7/2026).
Menurut dia, kenaikan harga tidak selalu identik dengan persoalan. Selama terbentuk dari interaksi permintaan dan penawaran yang normal, harga yang sedikit lebih tinggi justru memberikan insentif bagi produsen untuk meningkatkan produksi.
Di sisi lain, dampaknya terhadap konsumen dinilai masih dapat ditoleransi apabila kenaikan berlangsung dalam batas yang wajar dan tidak dipicu oleh gangguan distribusi maupun praktik spekulasi. Imamudin menilai pemerintah memiliki peran penting agar mekanisme pasar tetap berjalan sehat.
.png)

















































