Indonesia Akan Datangkan Dokter dari Belarus

15 hours ago 6

KEMENTERIAN Kesehatan akan mendatangkan dokter dari Belarus untuk melatih tenaga medis di Indonesia. Rencana itu disepakati kedua negara dalam pertemuan bilateral antara Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Habuwono dan Menteri Kesehatan Republik Belarus Aliaksandr Khajayeu di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono, Jakarta, Rabu, 1 Juli 2026.

Dante mengatakan, kerja sama Indonesia dengan Belarus akan difokuskan pada pengembangan pendidikan kedokteran dan sektor farmasi. Di bidang pendidikan, Indonesia tengah menjajaki program fellowship untuk meningkatkan kompetensi dokter di sejumlah bidang spesialis

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

"Kami akan mengirimkan delegasi ke Belarus untuk mengevaluasi program-program di sana, serta mendatangkan para dokter dari Belarus ke Indonesia untuk memberikan pelatihan kepada dokter-dokter kami," kata Dante dikutip dari laman Kementerian Kesehatan pada Sabtu, 4 Juli 2026. 

Menurut Dante, program pelatihan itu akan difokuskan pada penanganan penyakit jantung, kanker, neurologi dan stroke, urologi, nefrologi, serta kesehatan ibu dan anak. Ia menilai Belarus memiliki pengalaman yang dapat saling melengkapi pengembangan sistem kesehatan Indonesia.

Selain itu, kedua negara yang sudah mempunyai hubungan bilateral selama 33 tahun ini juga akan menjalin kerja sama di bidang farmasi. Pemerintah Indonesia membuka peluang kolaborasi antara perusahaan farmasi Belarus, Belpharmprom, dengan industri manufaktur dalam negeri untuk memperluas akses dan distribusi alat kesehatan serta produk farmasi.

"Besok pagi, perusahaan-perusahaan farmasi dari Indonesia akan mengadakan pertemuan dengan rekan-rekan mereka. Kementerian Kesehatan mendukung penuh pengembangan ini dan akan menjembatani koordinasi dengan perusahaan-perusahaan farmasi dari Belarus," tutur Dante.

Sementara itu, Menteri Kesehatan Belarus Aliaksandr Khajayeu mengatakan Indonesia dan Belarus memiliki banyak kesamaan dalam mengatur penggunaan obat generik. Kesamaan itu disebut dapat mempercepat implementasi program bersama.

"Terkait area kerja sama, ini merupakan pertemuan yang sangat baik. Standar kita, terutama untuk obat generik, tidak memiliki perbedaan yang signifikan. Kami siap menyambut para spesialis secara langsung guna mempercepat proses yang ada," kata Aliaksandr.

Sebagai tindak lanjut dari kesepakatan itu, Kementerian Kesehatan menyatakan pihaknya telah menyusun Operational Road Map 2026–2030, sebagai instrumen operasional dari kesepakatan tingkat tinggi tersebut. Peta jalan ini dirancang untuk memastikan berbagai program, termasuk pertukaran tenaga ahli, pendidikan kedokteran, dan kolaborasi farmasi, dapat berjalan secara terukur dan memberikan manfaat bagi sistem kesehatan kedua negara.

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online