INFO TEMPO - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengingatkan esensi nasionalisme sejati tidak sekadar rutinitas upacara maupun agenda seremonial belaka. Namun, harus diwujudkan dalam tindakan nyata di tengah masyarakat.
Pesan itu dia sampaikan di hadapan ratusan praja dan civitas akademika Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) dalam kuliah umum bertema "Sinergitas Kepemimpinan Daerah dan Aparat Penegak Hukum dalam Mewujudkan Pemerintahan yang Adaptif, Stabil, dan Berintegritas menuju Indonesia Emas 2045". "Kita setiap hari hormat di sini, mencintai Indonesia. Tapi Indonesia-nya terbatas pada tiang bendera," ujar Dedi Mulyadi di Gedung Balairung Rudini, IPDN Kampus Jatinangor, pada Kamis, 25 Juni 2026.
Pria yang akrab disapa Kang Dedi Mulyadi atau KDM ini berharap sebagai calon pamong praja dan kader pimpinan masa depan, civitas IPDN mampu mengejawantahkan rasa cinta tanah air ke dalam aksi nyata. Sebab, menurut dia, esensi dari pendidikan kepamongprajaan yang sejati adalah kedekatan dengan realitas sosial.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memberikan kuliah umum bertema "Sinergitas Kepemimpinan Daerah dan Aparat Penegak Hukum dalam Mewujudkan Pemerintahan yang Adaptif, Stabil, dan Berintegritas menuju Indonesia Emas 2045" di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Kampus Jatinangor, Jawa Barat, pada Kamis, 25 Juni 2026. Dok. Istimewa
KDM ingin IPDN ke depan bukan hanya pusat akademis di dalam pagar, melainkan menjadi motor penggerak perbaikan lingkungan di luar pagar kampus. Misalnya, dalam mengatasi masalah ketertiban, kebersihan sampah, hingga keselamatan lalu lintas khususnya wilayah aglomerasi Jatinangor. “Sudah semestinya mahasiswa IPDN menjadi pemandu RT yang ada di sini, RW yang ada di sini, kepala desa yang ada di sini. Kenapa tidak? Sehingga ketika nanti IPDN itu praktik, mereka langsung berada di wilayah nyata," ucapnya.
KDM optimistis dengan melibatkan para praja menjadi pemandu tata kelola pemerintahan dari tingkat yang paling mendasar, maka akan mewujudkan perubahan ekosistem lingkungan yang lebih baik. "Di depan sana ada orang yang yang dibunuh, di sebelah sana ada sepeda motor yang dicuri, di sebelah sini ada sepeda motor yang dirampok. Di sebelah sini ada demonstrasi yang melahirkan korban jiwa. Maka praktik yang sebenarnya adalah dalam lingkungan. Ini penting," katanya.
Jika itu dilakukan, maka di lingkungan sekitar IPDN tidak akan ada lagi kasus pencurian, perampokan, atau pembunuhan. Bahkan, dapat mewujudkan zero accident lalu lintas yang sempat terjadi di depan area kampus IPDN. "Termasuk tidak ada sampah berserakan karena IPDN mempelopori kebersihan di lingkungannya," ucapnya.
Menurut KDM, karakter pemimpin yang solutif dan inovatif justru lahir ketika para siswa didik terbiasa dihadapkan pada kesulitan dan dinamika masyarakat yang sebenarnya. Sebab, tantangan terbesar dunia pendidikan saat ini adalah menjembatani teori di atas kertas dengan substansi di lapangan.
KDM menilai, bilamana kolaborasi antara kampus kedinasan dan lingkungan sekitar ini berjalan optimal, Jatinangor bisa menjelma menjadi kawasan percontohan yang ideal. "Tidak ada orang yang pintar hanya di sekolah. Tidak boleh juga orang hanya bangga dengan sekolahnya. Sekolah terbesar itu adalah semesta," kata dia.
Lebih lanjut, KDM juga mengingatkan pentingnya semangat primordialisme yang positif dalam arti menjaga kebanggaan identitas bangsa di tengah dunia global. Dia mencontohkan sejumlah negara, seperti Cina dan Amerika yang mendahulukan kepentingan bangsa mereka.
Menurut dia, dengan banyaknya suku di Indonesia justru memiliki kesatuan emosi dan energi yang kuat. Namun, dari seluruh perspektif yang ada tersebut harus menomorsatukan konsistensi dan mengubur keangkuhan. "Setiap perspektif negara pasti memiliki romantisme masa lalu dan menjadikan masa lalu menjadi spirit. Membangun energi, membangun masa depan," katanya.(*)
.png)
















































