PRESIDEN Prabowo Subianto melontarkan candaan bahwa organisasi masyarakat Islam Nahdlatul Ulama (NU) harus dijadikan tempat belajar politik. Kepala Negara menyampaikan hal ini ketika menghadiri acara penutupan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Prabowo mulanya membuka sambutan dengan menyapa jajaran pembantunya di Kabinet Merah Putih. Beberapa nama yang turut hadir dalam agenda besar NU itu di antaranya Menteri Sosial Saifullah Yusuf yang juga menjabat Sekretaris Jenderal Pengurus Besar NU serta Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifatul Choiri Fauzi yang menjabat Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat NU.
Kemudian ada pula Menteri Agraria dan Tata Ruang Nusron Wahid serta Menteri Agama Nasaruddin Umar yang merupakan tokoh Nahdlatul Ulama. “Ini di Kabinet Merah Putih banyak sekali NU-nya, ya,” ucap Prabowo di Institut Agama Islam Syaichona Mohammad Cholil, Kabupaten Bangkalan, Provinsi Jawa Timur, pada Selasa, 23 Juni 2026, sebagaimana disiarkan saluran YouTube Sekretariat Presiden.
Ketua Umum Partai Gerindra itu lantas memuji kehebatan ormas keagamaan itu. Alasannya, kader NU berada di mana-mana. Prabowo berkelakar, semua pihak harus belajar politik dari NU.
“NU memang hebat. Selalu berada di mana-mana. Di semua partai NU hadir. Jadi NU enggak pernah kalah. Hebat. Kalo belajar politik sebetulnya harus dari NU,” tutur Prabowo sambil tertawa.
Adapun dalam sambutannya itu, Prabowo juga mengklaim selalu merasa nyaman berada di tengah keluarga besar NU. "Nyaman dan aman, merasa aman. Sambutan yang demikian besar kepada saya," ucapnya.
Prabowo mengatakan mengenal NU sejak masih kecil. Ia menyebutkan pernah bertetangga dengan presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, di Jakarta. Diketahui bahwa Gus Dur merupakan cucu pendiri NU dan pernah memimpin organisasi itu pada 1984–1999.
.png)

















































