BEM UI akan Gelar Konsolidasi Nasional Menyikapi Kondisi Bangsa

18 hours ago 13

KETUA Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia Yatalathof Ma'shum Imawan mengatakan BEM UI akan melakukan kondolisasi untuk menyikapi kondisi ekonomi dan demokrasi rezim Presiden Prabowo Subianto belakangan ini. 

Yatalathof mengatakan BEM UI akan menggelar focus group discussion (FGD) dengan elemen mahasiswa se-UI. Kemudian akan konsolidasi nasional.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

“Senin kita akan ada FGD membahas masalah kebangsaan. Kemudian, Rabu ada konsolidasi nasional,” kata Yatalathof, Ahad 7 Juni 2026.

Belum dipastikan apakah BEM UI akan menggelar aksi turun ke jalan menanggapi situasi negara saat ini di tengah anjloknya rupiah. 

Teranyar, BEM UI menggelar aksi simbolik di Tugu Makara, Kampus Depok, Rabu, 20 Mei 2026. Dalam aksi itu, mereka menyatakan reformasi telah mati.

Sejumlah mahasiswa mulai berkumpul di kawasan Putaran Tugu Makara UI pada sore hari. Mereka membawa spanduk bertuliskan “Reformasi Mati, Prabowo Happy” dan “Adili Prabowo dan Kroninya”. Massa juga menyiapkan replika makam dengan nisan bertuliskan “RIP Reformasi”.

Mahasiswa yang mengenakan pakaian serba hitam sebagai simbol duka turut menutup Tugu Makara dengan kain putih. Aksi tersebut menjadi bagian dari rangkaian simbolik yang mereka sebut sebagai “pemakaman reformasi”.

Koordinator aksi, Hafidz Haernanda, mengatakan kegiatan itu merupakan pernyataan sikap mahasiswa terhadap kondisi demokrasi saat ini. “Kami menyatakan bahwa reformasi yang selama ini diperjuangkan kini telah mati,” ujar Hafidz di lokasi.

Menurut dia, indikator “kematian” reformasi terlihat dari tidak tercapainya sejumlah tuntutan yang selama ini diperjuangkan mahasiswa dan masyarakat. “Kami melihat agenda reformasi telah usai,” kata dia.

Hafidz menilai berakhirnya era reformasi membuka kemungkinan munculnya fase baru yang justru lebih represif. Ia menyebut situasi saat ini menunjukkan kemiripan dengan masa Orde Baru.

Sementara itu, aliansi BEM SI menggelar aksi pembakaran uang kertas tiruan di depan kantor Bank Indonesia Perwakilan Jawa Tengah, Semarang, 5 Juni 2026. Aksi teatrikal tersebut dilakukan sebagai bentuk protes atas kian melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. 

Massa menilai keterpurukan kurs rupiah merupakan cerminan dari memburuknya kondisi ekonomi nasional, sehingga mereka mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah taktis guna menstabilkan kembali perekonomian rakyat.

Diketahui nilai tukar rupiah pada perdagangan Kamis sore, 4 Juni 2026, melemah 0,46 persen menjadi Rp 18.049 per dolar AS dari sebelumnya Rp 17.966 per dolar AS.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pelemahan rupiah akan berdampak pada meningkatnya besaran utang yang harus dibayar pemerintah.

Purbaya menyebutkan kupon surat utang atau imbal hasil yang dibayar pemerintah berupa fixed rate atau konstan. “Ini masih dalam range perhitungan kami yang sebelumnya saya sebutkan,” ujarnya ketika ditemui di Gedung DPR pada Kamis, 4 Juni 2026.

Bendahara Negara itu menjelaskan bahwa pemerintah sudah membuat simulasi perhitungan ketika harga minyak mentah naik. Sementara asumsi nilai tukar rupiah dalam APBN 2026 adalah Rp 16.500 per dolar AS.

Namun, Purbaya enggan membeberkan level rupiah yang dipakai dalam simulasi tersebut. “Penyesuaiannya cukup tinggi, tapi saya nggak sebutkan, nanti rupiah melemah signifikan. Tapi pada dasarnya fundamental rupiah berada di bawah level yang sekarang, lebih kuat dari yang sekarang,” tuturnya.

Ricky Juliansyah, Anastasya Lavenia Yudi, dan Budi Purwanto berkontribusi dalam penulisan artikel ini

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online