INFO TEMPO – Provinsi Bali berhasil memborong penghargaan dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dalam ajang Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi 2026 Regional Jawa-Bali di Yogyakarta Marriott Hotel, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis, 4 Juni 2026, malam. Menurut Gubernur Bali, Wayan Koster, di antara penyebab keberhasilannya adalah pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berhasil menjaga kualitas pariwisata.
"Ekonomi Bali sudah tumbuh cukup tinggi," kata Wayan Koster. Provinsi Bali, lanjut dia, ekonominya 60 persen lebih bergantung dari pariwisata. “Jadi, karena itu pariwisata ini harus dijaga dengan baik.”
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Menurut dia, setelah Covid-19, ekonomi Bali sudah tumbuh kembali dengan bagus. “Bahkan melampaui pencapaian sebelum pandemi Covid-19," kata dia.
Menurut Koster, pariwisata itu adalah ekonomi yang terdistribusi dengan merata. Hal itu dikarenakan, banyak hotel dan restoran tersebar, begitu juga transportasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). "Sehingga rezeki ekonomi dari pariwisata itu bisa dinikmati oleh kelompok masyarakat yang bergantung dari pariwisata dan juga efeknya dari pelayanan serta UMKM," ujar dia. Sehingga, lanjut Koster, hal itu dapat menurunkan angka kemiskinan dan juga pengangguran.
Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik Provinsi Bali, perekonomian Bali pada triwulan I-2026 diukur berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku (ADHB) tercatat sebesar Rp 82,21 triliun dan atas dasar harga konstan sebesar Rp 44,28 triliun
Pertumbuhan ekonomi Bali pada Triwulan I 2026 tumbuh kuat sebesar 5,58 persen secara tahunan (year-on-year). Capaian positif ini menjadikan kawasan Bali dan Nusa Tenggara (Bali Nusra) mencatatkan lonjakan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia pada kuartal pertama yakni mencapai 7,93 persen.
Kepala BPS Provinsi Bali, Agus Gede Hendrayana, dalam laporannya mencatat struktur ekonomi Bali dari sisi produksi, pada triwulan I-2026 masih didominasi oleh Lapangan Usaha Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum yang berkontribusi sebesar 20,95 persen. Sementara dari sisi pengeluaran, kontribusi terbesar tercatat pada Komponen Konsumsi Rumah Tangga yaitu 54,15 persen.
Lapangan Usaha Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebagai kontributor terbesar perekonomian Bali, tumbuh sebesar 6,44 persen secara y-on-y pada triwulan I-2026. “Pertumbuhan ini salah satunya didorong oleh meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Bali,” kata Agus.
Pada triwulan I-2026, jumlah kunjungan wisman ke Bali mencapai 1,47 juta kunjungan, meningkat dibandingkan triwulan I-2025 yang tercatat sebesar 1,45 juta kunjungan. Sejalan dengan itu, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) terutama hotel bintang meningkat dari rata-rata 52,67 persen pada triwulan I-2025 menjadi 54,87 persen pada triwulan I-2026.
Diketahui, struktur PDRB Bali pada triwulan I-2026 masih didominasi Lapangan Usaha Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum, dengan nilai tambah mencapai Rp 17,20 triliun atau setara 20,95 persen dari total PDRB. Di urutan berikutnya, Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan berkontribusi sebesar Rp 10,96 triliun (13,33 persen). Sementara itu, Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan menempati posisi ketiga dengan sumbangan Rp 8,66 triliun atau 10,53 persen terhadap perekonomian Bali.
Bila dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhan pada triwulan I-2026 (y-on-y), ekonomi Bali yang tumbuh sebesar 5,58 persen bersumber dari Lapangan Usaha Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum dengan sumbangan sebesar 1,20 persen, kemudian disusul oleh Lapangan Usaha Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib sebesar 0,97 persen. Kontributor terbesar berikutnya yaitu dari Lapangan Usaha Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor dengan andil 0,70 persen. Sedangkan gabungan dari 14 lapangan usaha lainnya memberi sumbangan sebesar 2,72 persen.
Sementara itu, terdapat empat kategori penghargaan yang diberikan kepada Pemerintah Daerah mulai dari tingkat Kabupaten, Kota hingga Provinsi di Wilayah Jawa-Bali antara lain: Kategori penanggulangan kemiskinan dan penurunan stunting, Kategori Creative Financing, Kategori Pengendalian Inflasi, dan Kategori Penurunan Tingkat Pengangguran.
Pemerintah Provinsi Bali berhasil memboyong peringkat pertama dalam dua kategori yakni Kategori Penanggulangan Kemiskinan dan Penurunan Stunting, serta peringkat pertama dalam Kategori Pengendalian Inflasi. Provinsi Bali juga berhak mendapatkan insentif apresiasi dengan total Rp 6 miliar untuk dua pencapaian itu.
Diketahui dalam kategori penanggulangan kemiskinan dan penurunan stunting, penghargaan untuk tingkat kabupaten, Kota dan Provinsi sebagian besar diterima oleh Bali. Dimana Peringkat pertama tingkat Kabupaten diraih oleh Kabupaten Badung disusul Peringkat kedua dan ketiga diperoleh oleh Kabupaten Gianyar dan Tabanan sedangkan Peringkat pertama tingkat Kota diterima oleh Kota Denpasar.
Selain itu Kabupaten Gianyar juga memperoleh Peringkat Terbaik Ketiga dalam Kategori Creative Financing Tingkat Kabupaten dan Kota Denpasar memperoleh Peringkat Terbaik Ketiga dalam Kategori penurunan Tingkat Pengangguran Tingkat Kota. (*)
.png)
















































