Sederet Fakta Aksi Menuju Indonesia Bangkrut

7 hours ago 2

AKSI massa bertajuk "Menuju Indonesia Bangkrut" yang dipelopori elemen mahasiswa berlangsung pada Jumat, 12 Juni 2026. Lebih dari seribu mahasiswa memadati kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, menuju Bundaran Hotel Indonesia.

Mereka merupakan bagian dari aliansi mahasiswa dari berbagai kampus, seperti Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia, BEM Keluarga Mahasiswa IPB University, BEM Politeknik Negeri Jakarta, BEM Universitas Pancasila, Aliansi BEM Gunadarma, Front Mahasiswa Nasional (FMN) Pusat, FMN UI hingga Serikat Mahasiswa Progresif UI (Semar UI).

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Para mahasiswa membawa setidaknya lima tuntutan dalam demonstrasi kali ini. Pertama adalah agar pemerintah menyetop pemborosan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Kedua, mereka meminta pemerintah menurunkan harga kebutuhan pokok dan bahan bakar minyak (BBM). Ketiga, desakan penghentian program makan bergizi gratis dan pembangunan Koperasi Desa Merah Putih.

Keempat, aliansi menuntut akhir terhadap militerisme di ranah sipil. Terakhir, mereka juga meminta agar Presiden Prabowo Subianto berhenti mengelak dan mengakui kesalahan pemerintah.

Bus Disetop Polisi, Massa Demo Jalan Kaki ke Bundaran HI

Pergerakan ratusan mahasiswa Universitas Indonesia menuju titik demonstrasi dengan bus dihadang oleh personel kepolisian. Massa tidak diperbolehkan untuk bergerak ke arah kawasan Bundaran HI yang menjadi lokasi awal demonstrasi.

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum (BEM FH) UI, Anandaku Dimas Rumi menuturkan, rombongan yang bergerak dari arah Depok tiba-tiba ditahan di daerah Semanggi. "Harusnya kami belok kiri ke arah Sudirman, tapi jalan ditutup," ujar Dimas pada Jumat, 12 Juni 2026.

Menurut Dimas, laju mereka dihalangi oleh polisi tanpa alasan yang jelas. Padahal massa dari BEM UI telah dari jauh-jauh hari memberikan pemberitahuan soal aksi. "Mereka cuma ketawa saja saat kami minta dibukakan jalan," ucap Dimas. 

Salah satu perwakilan dari massa mahasiswa, Anshary Pramono mengatakan, sejumlah bus berisi ratusan mahasiswa diadang oleh personel Brigade Mobil atau Brimob di area flyover Semanggi. Polisi juga sempat menahan laju massa di sejumlah titik lain seperti di depan Kantor TVRI. 

Menurut Anshary, massa akhirnya terpaksa untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki dari Semanggi menuju area Bundaran HI. "Busnya ditinggal, kami longmarch dari Semanggi ke Bundaran HI," tutur Anshary lewat pesan singkat kepada Tempo

Polisi-TNI Mengadang Massa Menuju Bundaran HI

Setelah berjalan kaki dari Semanggi, massa aliansi aksi kembali dihadang aparat di depan Gedung Thamrin Nine Ballroom, Jakarta Pusat. 

Sejumlah personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) ikut diterjunkan mengamankan demonstrasi. Mereka bergabung bersama kepolisian untuk menghadang laju massa aksi.

Ratusan mahasiswa tiba di depan Gedung Thamrin Nine Ballroom sekitar pukul 15.10 WIB. Sejumlah personel TNI dan kepolisian membentuk barikade yang menutup akses menuju Bundaran HI. Akibatnya, massa tidak dapat melanjutkan perjalanan.

Berdasarkan pantauan Tempo di lokasi, tampak personel TNI berada di lapis kedua pengamanan demonstrasi. Para prajurit tersebut juga sempat terlibat aksi saling dorong dengan massa aksi yang mencoba menerobos barikade. "Buka, buka," teriak para peserta aksi.

Dalih TNI Ikut Amankan Aksi Menuju Indonesia Bangkrut

Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Brigadir Jenderal Muhammad Nas menjelaskan alasan anggota TNI ikut menjaga aksi “Menuju Indonesia Bangkrut” di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, Jumat, 12 Juni 2026. Kata Nas, keterlibatan TNI atas permintaan dari Kepolisian RI.

"Sesuai mekanisme, pengamanan atas permintaan dan sifatnya perbantuan kepada Polri," kata dia saat dihubungi pada Jumat, 12 Juni 2026.

Polisi: Bundaran HI Bukan Tempat Demonstrasi

Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya atau Polda Metro Jaya menyatakan Bundaran HI bukan lokasi yang diperuntukkan bagi kegiatan unjuk rasa. Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Budi Hermanto mengatakan, Bundaran HI merupakan pusat aktivitas masyarakat sekaligus salah satu titik penting perekonomian ibu kota.

Menurut dia, kondisi tersebut menjadi alasan demonstrasi tidak dapat dilaksanakan di lokasi itu. "Kami ketahui bahwa seputaran Bundaran HI bukan tempat untuk menyampaikan aspirasi," kata Budi dalam keterangan tertulis, Jumat, 12 Juni 2026.

Polda Metro Jaya lantas meminta mahasiswa memindahkan lokasi aksi yang semula direncanakan di Bundaran HI. Polisi menawarkan sejumlah alternatif lokasi, seperti kawasan Patung Arjuna Wijaya (Patung Kuda) dan depan kompleks Gedung MPR/DPR/DPD.

Mengapa Mahasiswa Memilih Berdemo di Bundaran HI?

Ketua BEM UI Yatalathof Ma'shum Imawan mengungkapkan, Bundaran HI dipilih karena mahasiswa tak lagi percaya dengan Dewan Perwakilan Rakyat maupun pemerintah. Karena itu, kali ini mereka tidak ingin berunjuk rasa di depan Gedung DPR maupun Istana Kepresidenan yang biasanya menjadi lokasi aksi.

Saat ini, kata Athof, DPR dan pemerintah cenderung satu suara dalam semua kebijakan yang ia nilai menyengsarakan rakyat. "Karena itu kami sudah tidak percaya lagi untuk demo di sana, di DPR," kata Athof di Jakarta.

Dengan unjuk rasa di Bundaran HI, Athof berharap mahasiswa bisa lebih menyadarkan masyarakat akan kondisi Indonesia yang sedang menghadapi krisis ekonomi dan demokrasi. "Kami ingin menyadarkan, bahwa kita semua sama-sama menderita," tuturnya.

Kamera Pengawas di Kawasan Bundaran HI Diduga Mati saat Demo Berlangsung

Kabar kamera pengawas Bundaran HI mati muncul di tengah berlangsungnya aksi unjuk rasa ratusan mahasiswa. Akun media sosial Threads dengan username @corneliusvito mengatakan, CCTV di sekitar area lokasi demonstrasi mati total. "Jakarta Pusat semua CCTV mati, terlampir contoh MT Haryono yang CCTV-nya nyala. Stay safe!," tulis akun tersebut. 

Juru Bicara Gubernur DKI Jakarta, Cyril Raoul Hakim atau Chico Hakim, membantah kabar soal matinya kamera CCTV di kawasan Bundaran HI. "(CCTV) yang kami punya ada sepuluh, dan itu tidak mati," ujar Chico dalam keterangannya pada Jumat, 12 Juni 2026.

Menurut Chico, ada kemungkinan sejumlah CCTV tersebut tidak bisa diakses oleh publik karena mengalami masalah teknis. "Kalaupun lambat, itu karena banyak yang mau mengakses," kata Chico. 

Chico mengungkapkan, di sekitar area Bundaran HI ada banyak kamera CCTV lainnya yang bukan milik Pemprov DKI Jakarta. Hanya saja, Chico tidak bisa memastikan apakah kamera-kamera tersebut dalam kondisi hidup atau mati saat demo berlangsung.

Sultan Abdurrahman, Hendrik Yaputra, dan Vedro Imanuel Girsang berkontribusi dalam penulisan artikel ini.
Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online