INFO TEMPO - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember terus berkomitmen memperluas akses layanan kesehatan bagi masyarakat, khususnya kelompok kurang mampu. Komitmen tersebut diwujudkan melalui peluncuran program pelayanan kesehatan inovatif Homecare yang dihadiri Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia Benjamin Paulus Octavianus dan Bupati Jember Muhammad Fawait, di Puskesmas Sumber Baru, Kabupaten Jember, Jumat, 24 Juli 2026.
Bupati Jember Muhammad Fawait mengatakan, hadirnya program ini dilatarbelakangi oleh fakta bahwa Kabupaten Jember merupakan kabupaten dengan jumlah penduduk miskin absolut tertinggi kedua di Jawa Timur. Kondisi kemiskinan tersebut berdampak pada sejumlah sektor, termasuk masalah kesehatan, seperti stunting, meningkatnya angka kematian ibu, dan angka kematian bayi.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Pria yang akrab disapa Gus Fawait itu menjelaskan, meski Pemkab Jember telah menggratiskan BPJS bagi seluruh masyarakat tidak mampu sejak 1 April 2025, masyarakat ternyata tidak hanya membutuhkan pengobatan gratis, tetapi juga menghadapi kendala biaya untuk mengakses layanan kesehatan di puskesmas maupun rumah sakit.
“Dari situ, semangat presiden diterjemahkan dalam sebuah terobosan melalui program Homecare. Masyarakat tidak mampu akan mendapatkan pelayanan kesehatan secara jemput bola di rumah masing-masing,” ujarnya.
Layanan Homecare ini menerapkan sistem jemput bola dengan mendatangi langsung rumah warga yang membutuhkan. Program ini diprioritaskan bagi kelompok rentan, seperti masyarakat berpenghasilan rendah, penderita penyakit kronis, lansia, penyandang disabilitas, ibu hamil berisiko tinggi, dan anak-anak yang mengalami stunting.
“Kalau keluarga yang mampu bisa memiliki dokter pribadi atau dokter keluarga, Pemkab Jember ingin mewujudkan hal serupa bagi masyarakat tidak mampu. Ini sesuai dengan semangat Presiden bahwa masyarakat tidak mampu harus dibela dan mendapatkan akses pelayanan kesehatan yang layak,” katanya.
Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia Benjamin Paulus Octavianus memberikan apresiasi terhadap kinerja Pemkab Jember di bawah komando Bupati Gus Fawait yang sudah mempermudah akses kesehatan bagi masyarakat. “Saya sangat mengapresiasi apa yang dikerjakan oleh Bupati Jember, Gus Fawait,” ujarnya.
Ia mengatakan, meski cakupan kepesertaan BPJS Kesehatan di Kabupaten Jember telah mencapai 80 persen dan mampu menjangkau masyarakat tidak mampu, masih muncul pertanyaan mengapa angka kemiskinan dan stunting di daerah tersebut tetap tinggi.
“Ternyata, masyarakat mengalami kesulitan mengakses fasilitas kesehatan karena wilayah Jember sangat luas dan jarak menuju fasilitas kesehatan cukup jauh. Karena itu, Bupati Jember melakukan pendekatan jemput bola,” katanya.
Benjamin mengatakan, Kementerian Kesehatan melihat program ini berpotensi menjadi pilot project. Berawal dari Jember dan digagas serius oleh bupati, program serupa rencananya akan dikembangkan di sejumlah wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat pada 2027.
“Ke depan, saya berharap program seperti ini dapat diterapkan di seluruh Indonesia dan tidak hanya di Jember. Program ini sangat membantu, terutama bagi pasien yang sudah waktunya pulang dari rumah sakit tetapi masih membutuhkan perawatan di rumah,” ujarnya. “Menurut saya, ini merupakan program terobosan yang luar biasa dari Bupati Jember.” (*)
.png)
















































