Jakarta -
Tak banyak yang tahu bahwa ada kaitan antara ukuran bra dengan keringat seseorang. Padahal, sebenarnya ukuran bra ternyata berpengaruh pada jumlah keringat tubuh lho, Bunda.
Sebuah studi oleh University of Southampton telah mengungkap hubungan yang mengejutkan antara ukuran payudara dan jumlah keringat yang diproduksi oleh payudara selama berolahraga.
Studi tersebut mengamati 22 perempuan dengan berbagai usia dan ukuran payudara saat mereka berlari di ruangan beriklim hangat dan mengukur seberapa banyak keringat yang mereka hasilkan di seluruh payudara, seberapa banyak panas yang dihasilkan tubuh mereka, dan berapa banyak kelenjar keringat yang mereka miliki di berbagai bagian payudara mereka.
Dalam studi yang dipublikasikan di The Journal Experimental Physiology ditemukan bahwa produksi keringat terutama dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti ukuran tubuh, metabolisme, dan kondisi lingkungan. Namun, tim peneliti berhipotesis bahwa ukuran payudara juga dapat memengaruhi produksi keringat di seluruh payudara dan kenyamanan selama aktivitas fisik.
Penelitian yang dilakukan oleh Hannah Blount, seorang peneliti pasca sarjana dalam fisiologi termal di the University's ThermosenseLab menemukan bahwa payudara yang lebih besar memiliki kelenjar keringat yang lebih sedikit, yang berarti mereka menghasilkan lebih sedikit keringat saat berolahraga.
Blount mengatkaan bahwa lebih dari 85 persen perempuan menganggap bra olahraga sebagai perlengkapan penting untuk berolahraga, tetapi sebenarnya sangat sulit untuk menemukan bra yang nyaman dan mendukung, jadi banyak perempuan berjuang dengan ini.
"Proses pemikiran kami adalah untuk melihat bagaimana bra olahraga menawarkan dukungan bagi perempuan dan kenyamanan bagi mereka dengan berbagai ukuran payudara, terutama dalam kondisi panas, ketika perempuan lebih mungkin mengalami masalah seperti lecet dan akumulasi keringat yang signifikan di bra," katanya seperti dikutip dari laman Medical Express.
Ilustrasi bra/ Foto: Getty Images/iStockphoto/Oleg Elkov
"Secara khusus, kami tertarik untuk memahami bagaimana kepadatan kelenjar keringat dan tingkat keringat lokal berubah pada perempuan dengan ukuran payudara yang berbeda, karena hal itu menentukan berapa banyak keringat yang berakhir di bra olahraga. Di sinilah kami mendapatkan temuan yang paling menarik, karena hasil kami menunjukkan bahwa perempuan dengan payudara yang lebih besar memiliki lebih sedikit kelenjar keringat, sehingga mereka menghasilkan lebih sedikit keringat di payudara mereka. Pengetahuan mendasar ini adalah sesuatu yang kini dapat kita gunakan untuk menginformasikan desain pakaian olahraga yang mempertimbangkan kebutuhan perempuan dengan berbagai ukuran payudara."
Eksperimen dilakukan di ruang iklim mutakhir ThermosenseLab, yang berada di dalam Fasilitas Penelitian Klinis Southampton (National Institute for Health and Care Research) Southampton Clinical Research Facility, di University Hospital Southampton.
Perempuan yang ikut diminta untuk joging selama 45 menit dalam suhu 32 derajat Celsius, sementara produksi keringat mereka di payudara dipantau. Pemindaian 3D digunakan untuk menghitung luas permukaan payudara, sementara kepadatan kelenjar keringat diukur menggunakan kertas yang mengandung yodium yang, ketika diletakkan di kulit, bereaksi dengan bahan kimia dalam keringat.
“Di sinilah kami mendapatkan temuan yang paling menarik, karena hasil kami menunjukkan bahwa perempuan dengan payudara besar memiliki lebih sedikit kelenjar keringat, sehingga mereka menghasilkan lebih sedikit keringat di payudara mereka,” kata Blount seperti dikutip dari laman Nypost.
“Pengetahuan mendasar ini adalah sesuatu yang sekarang dapat kami gunakan untuk menginformasikan desain pakaian olahraga yang mempertimbangkan kebutuhan perempuan dengan berbagai ukuran payudara.”
Dr. Davide Filingeri, Associate Professor dalam Fisiologi Termal dan pakar terkemuka internasional dalam neurofisiologi penginderaan kelembapan kulit manusia mengatakan, "Perempuan adalah sekelompok individu yang mengalami perubahan anatomi, fisiologis, dan hormonal yang unik sepanjang hidup mereka. Pertimbangkan dampak dari siklus menstruasi, kehamilan, dan menopause, yang semuanya memengaruhi toleransi panas, sensitivitas termal, dan kenyamanan perempuan."
Dengan demikian, penelitian Hannah tentang 'kebutuhan termal' tubuh perempuan yang unik dan terus berkembang berpotensi untuk menginformasikan inovasi yang berpusat pada orang dalam pakaian olahraga, yang pada akhirnya akan membantu perempuan berkembang dalam iklim yang menghangat ini.
Blount menambahkan, "Kita menjadi lebih banyak duduk sebagai masyarakat, jadi jika kita dapat melakukan apa pun untuk membantu perempuan menjadi lebih aktif sekaligus membuat olahraga lebih mudah diakses, maka itu benar-benar mengasyikkan."
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)